Friday, June 10, 2011

Cerita Cinta tentang Cerita Cinta yang Nyata

Aku akan bercerita tentang sebuah kisah cinta indah. Sebuah cerita cinta indah selalu mengandung tragedi. Bukankan Romeo and Juliet, Laila dan Majnun juga begitu. Tapi ini bukan karya rekaan, ini benar-benar nyata. Sebuah cerita hanya menjadi sebuah cerita bagi yang membaca atau mendengarnya, tetapi bagi yang menjalaninya, itu sebuah perjalanan panjang perjuangan dan mungkin penderitaan. Tapi seperti biasa aku selalu kagum bahwa God created human in an awesome way.
Ketika Ayahku meninggal, nenekku datang menemani ibuku selama seminggu. Kematian ayahku membuatnya teringat pada kakekku yang memang adalah contoh tokoh tragic in Greek tragedy. Kakekku meninggal pada usia 44 tahun, masih muda. Nenekku bilang bahwa kehidupan yang dijalani bersama kakekku itu penuh hal indah yang sedih. Tahukah kamu pada tahun 1940 akhir atau awal 1950 (bahkan mungkin sampai sekarang) menjalani pernikahan beda suku bangsa (ras - to be exacted) tidak pernah mudah. Lelaki muda ini jatuh cinta pada gadis 14 tahun, buruh linting rokok di tempatnya jadi mandor dan pencicip saus. Dia dari keluarga berada, dengar-dengar keluarganya punya rumah peristirahatan di Rembang lalu semacam pabrik apa aku tidak tau juga rumah di Tuban (aku kurang jelas). Tentu saja hubungan ini forbidden. Karena kalau nekad menikah artinya dibuang dalam huruf besar! Ok singkat cerita kakekku dibuang. Mereka menikah, tinggal di kampung nenekku dan hidup apa adanya. Kata nenekku ketika punya anak 2 , kakekku pernah disuruh menghadap orang tuanya. Kakek bilang dia disuruh menikah dengan perempuan pilihan ayahnya dan akan diakui sebagai keluarga lagi. Nenekku, the greatest woman ever itu bilang terserah pilihan kakek, tapi mintanya cuma 1 saja, bantu menyekolahkan anak-anaknya. Lalu Kakek pergi selama 3 hari tidak pulang, nenekku sudah merelakan kakekku tapi 3 hari kemudian kakek pulang membawa 1 lemari besar dan 1 meja serta 1 tempat tidur. Ternyata kakekku memilih pulang kerumah anak istrinya dan hanya membawa barang yang ada dikamarnya saja. Artinya kakek officially jadi Outcast. Dan artinya living in a poverty. They have 7 children, actually they have 9 but 2 were died during childhood. Mereka menjalani kehidupan yang sangat tidak mudah.
Kata nenekku lagi pada ibuku, ibu harus bersyukur walaupun ditinggal ayahku meninggal setelah menikah lebih dari 30 tahun, anak-anaknya sudah besar dan ditinggali sesuatu (pensiunan dan tabungan). Nenek bilang, kakek meninggal tapi dia masih punya anak-anak kecil yang harus dihidupi. Bahkan ketika kakek meninggal mereka tidak punya bantal untuk ditaruh dipeti, akhirnya celana panjang dilipat-lipat dijadikan alas kepala. Tapi pemakamannya luar biasa. Aku melihat foto lama, banyak sekali yang mengikuti sampai pemakaman.Ibuku sering bercerita bahwa kalau ingin minum disekolah dia harus sembunyi-sembunyi minum air keran karena tidak punya uang jajan. Setelah mengenal  ayahku baru ibuku tahu rasanya makan di warung.
Hari ini kenapa aku tiba-tiba ingat cerita itu. Mungkin karena mendengar lagu morning has broken yang menurut ibuku lagu kesukaan kakek. bahkan beliau menulis liriknya dikertas dan membuat gambar berwarna disekelilingnya.Kakek juga suka membuat puisi dan punya 1 peti buku cerita silat.  No wonder kami semua jadi suka membaca juga.
Aku selalu senang mendengar potongan-potongan cerita dari ibuku atau tante-tanteku. Mereka punya banyak cerita seru. They have had so much great times walaupun juga banyak hal-hal sedih yang dialami. Bagaimanapun kemiskinan selalu membuat banyak cerita sedih. Tapi aku selalu suka mendengar cerita tentang kakek dan nenekku. Setelah kakek meninggal, nenek tidak menikah lagi. She dedicated her life to her children and grandchildren. They have had such a great love story. Kesulitan bukan jadi alasan untuk berhenti mencintai dan setia. Nama kakekku Tan Tjin Tat, nama nenekku Ponirah and I am PROUD of them.
(notes ini ditulis oleh saudara sepupu saya, Kartika, tentang cerita cinta Opa dan Oma saya. Meskipun saya ngga pernah ketemu Opa saya karena Opa meninggal jauh sebelum saya lahir,  tapi baca ini membuat saya hujan air mata. I am PROUD of THEM ! Bakat dan segala anugrah ini juga berasal dari mereka. I LOVE YOU ALL :”) )

No comments:

Post a Comment

"The Words is Mightier Than The Swords" - Edward Lynn-Button
Tinggalkan jejak yang baik, no spamming, junk, dan tinggalkan nama ;)