Wednesday, July 6, 2011

trung!

 Malang, 13 Mei 2011


 


Teruntuk : Tata yang selalu duduk 3 kursi di depanku di kelas Filsafat.


 


            Halo Tata! Kamu tampaknya rajin sekali ya masuk kuliah. Belum pernah aku melihat absenmu bolong-bolong. Tidak seperti absenku yang sepertinya harus segera kusulam biar aku bisa ikut ujian.


Tata, kamu pasti berpikir aku gila karena tiba-tiba mengirimimu surat ini. Ya, ini aku, Galih angkatan 2007 yang terdampar di kelas angkatan 2009 bersamamu karena aku harus mengulang mata kuliah ini. Apakah aku harus merutuki nasib mengulang kelas yang tak pernah ada ujung pangkal pembicaraannya ini, atau aku harus bersyukur memilih kelas ini yang akhirnya membawaku mengenalmu?


Jangan GR dulu, aku tak dari awal memperhatikanmu. Maaf saja, kamu bukan tipeku. Kamu terlalu cerdas, pintar dan pemikir, sih. Aku jadi takut pada perempuan sepertimu yang mungkin jika kupacari kamu, bisa-bisa kamu menindas aku yang biasa-biasa saja seperti ini. Hobimu pasti ikutan demo di bundaran kampus ya?


Well, jangan marah, Ta. Meskipun begitu, entah angin apa yang akhirnya membawaku ingin mengenalmu lebih dalam sejak hari itu. Ternyata kita punya kesamaan ya, sama-sama menyukai capung. Waktu itu aku menguping pembicaraanmu pada kawanmu tentang kesukaanmu duduk di taman rumahmu, menunggu capung datang  kemudian kamu berlama-lam memperhatikannya. Temanmu tertawa dan bilang kamu kurang kerjaan. Ah, ingin rasanya kujewer temanmu itu, karena hobiku sama denganmu. Mengamati capung dan berlama-lama melihatnya hinggap, kadang mendokumentasikannya juga. Kata orang, hobiku ini hobi orang nganggur juga sih -________-“


Nggak apa-apa kok kalau kamu “menyukai-kegiatan-kurang-kerjaan” itu karena memang capung warnanya dan bentuknya indah. Mereka saja kurang mencintai ciptaan Tuhan yang memang sudah selayaknya dikagumi, ya.


Kalau aku, setiap kali memandang capung, aku jadi teringat banyak cerita yang diceritakan oleh seseorang di masa kecilku. Kalau kamu ada waktu, silahkan melanjutkan membaca e-mailku ini, kalau tidak, boleh segera kamu delete e-mailku ini (tapi aku harap kamu mau meluangan sedikit waktumu ya untuk membaca e-mailku ini hehehehe… ).


Dia seorang gadis yang suka bermain denganku di sawah dekat sekolah kami, kalau tak salah ingat, namanya Ami. Dia suka membawa kaca pembesar ke mana-mana. Kami suka bermain bersama karena kami sama-sama sering dijemput telat kalau pulang sekolah.


Di saat sekolah mulai sepi, gadis itu mengajakku melepas sepatu dan bertelanjangkaki menyusuri sawah. Mencari serangga-serangga kecil dengan kaca pembesarnya. Ami sangat pintar, seingatku. Ia suka menceritakan padaku tentang semut-semut, kupu-kupu, kumbang dan ia paling suka pada capung. . Ia tahu banyak tentang capung dan bercerita padaku tentang kekagumannya pada capung.


Aku? Aku takut pada hewan yang terbang karena sejak kecil aku kira hewan yang terbang itu adalah titisan dari alien. Karena Ami selalu mengajakku bermain, akhirnya rasa takutku itu hilang.


Trung”. Iya, begitu Ami biasa memanggilku, supaya aku tidak takut lagi pada gantrung (capung). Bahkan sepertinya ia lupa nama asliku karena selalu memanggilku ‘Trung’.


Aku ingat, suatu hari di sekolah kami diadakan lomba balap lari. Ia ingin menjadi seperti capung, supaya menjadi yang tercepat pada lomba balap lari. Ia sekuat tenaga berlari tetapi karena saraf motoriknya yang kurang baik, akhirnya ia terjatuh dan gagal pada perlombaan itu. Dengan baju kotor berdebu, Ami mencariku sambil menangis dan bilang dia nggak mau lagi mainan sama capung karena capung nggak membantunya dalam lomba lari. Tapi ketika seekor capung berwarna emas favoritnya melintas (yang belakangan ini kuketahui namanya Brachytemis contaminata), ia langsung berlari mengejarnya seakan lupa dengan ‘ikrar’nya dan rasa sakit di lututnya karena terjatuh.


Sayangnya gadis kecil cerdas, penuh semangat yang membuatku mengalami cinta monyet pertamaku itu tak lama bermain denganku. Ia tak pernah lagi muncul di sekolah dengan kaca pembesarnya. Mungkin setelah sebuah kejadian yang tak pernah bisa kumaafkan pada diriku sendiri, yang akhirnya membuatnya harus berpindah ke luar negeri tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal padaku. Padahal ia selalu bercerita bahwa capung adalah hewan yang setia pada pasangannya, tetapi akhirnya ia meninggalkanku juga …


Beribu cara kulakoni demi mencari gadis kecil itu, meminta maaf padanya atas kesalahanku. Kucari ia melalui buku-buku kenanganku waktu SD, bertanya pada teman-teman, bahkan kutelusuri lewat Facebook. Tapi sialnya aku lupa nama lengkap gadis itu, hanya nama panggilanku padanya ‘Jeng’. Singkatan dari Kinjeng yang artinya juga capung.


Ingin aku terbang menyusulnya ke Singapore, meminta maaf. Seumur hidup aku tidak akan tenang karena telah membuatnya kehilangan sebagian ingatannya karena gegar otak. Aku Cuma ingin membuatnya terbang seperti capung-capung kecil yang disukainya, aku hanya ingin membantunya menyentuh langit. Kudorong ayunan itu kencang-kencang hingga akhirnya tawa riangnya berganti suara berdebam di tanah dan rintihan kesakitan. Aku lari .. lari .. lari sekencang mungkin ketika orang-orang mengerubuti sosok Ami yang terbujur di tanah. Aku ingin bersembunyi dari dunia!


Sejak saat itu tak pernah lagi kutemui Ami. Ia pindah ke luar negeri. Entah apakah itu karena kesalahanku atau hal lain yang tak kumengerti, yang pasti perasaan bersalah itu terus menjangkitiku hingga hari ini.


Kedua tanganku ini pernah mencelakakan gadis kecil yang kusayangi!


Selama itu, aku tetap yakin, capung-capung kecil teman kita akan membantuku untuk mengembalikan Ami padaku, entah bagaimana caranya karena aku yakin capung-capung itu pasti kembali padaku dengan membawa pesan dari langit sana.


Tiba-tiba, beberapa bulan yang lalu seorang teman yang tahu rasa penasaranku, memberikan sebuah foto yang ia dapatkan dari seorang guru di SD kami. Fotoku bersama gadis kecil itu! Kamu tahu, sungguh terkejutnya aku serasa disengat belut listrik ketika menyadari bahwa gadis itu memang benar-benar ada dan nyata saat ini. Kuhabiskan waktu untuk mencari sosoknya, berusaha mengubah keadaan dengan mencari kesempatan yang mungkin hadir singkat untuk mengucapkan penyesalanku sedalam-dalamnya. Kuhabiskan waktu untuk memastikan antara informasi yang kudapatkan dari balik foto itu dengan kenyataan yang ada adalah sosok yang sama. Ami.


Bodohnya aku tak pernah mengingat nama lengkapnya, mencari-carinya ke mana saja, padahal selama ini Ami ada di lingkungan yang sama denganku. Ia selalu tersenyum padaku, manis sekali, seakan tak pernah ada apa-apa yang terjadi diantara kami, tak pernah mengenal satu sama lain sebelumnya.


Sekarang, ketika kesempatan itu datang, segala sesal yang tak pernah bisa kuucapkan di masa lalu, belasan waktu telah berlalu, aku hanya ingin mengucapkan maaf padanya.


Maafku yang terdalam untuk Ami, semoga Ami masih mau menerima maafku.


Maafku untukmu, Martha Aminata yang kini berubah menjadi seorang Tata, yang selalu duduk 3 kursi di depanku di kelas Filsafat.


Aku rindu si Kinjeng kecilku, Ami kecilku.


Maafkan aku …


 


 Peluk yang tak pernah ingin kulepaskan lagi,


Gantrungmu yang pengecut, Galih.


 

No comments:

Post a Comment

"The Words is Mightier Than The Swords" - Edward Lynn-Button
Tinggalkan jejak yang baik, no spamming, junk, dan tinggalkan nama ;)