Tuesday, September 6, 2011

Sempurna?


Siang hari yang terik itu, Tia melewati SDnya. Sudah hampir 10 tahun ia meninggalkan bangku sekolah dasar. Ada kerinduan yang tiba-tiba muncul kala melewati gedung kokoh yang kini semakin indah itu. Tidak biasanya Tia melewati jalan ini sepulang dari kampus. Kebetulan saja, hari ini ia memutar balik arah pulang karena macet di tengah kota. Ada iring-iringan Presiden yang berkunjung.

Tia memperlambat laju mobilnya. Ah, pukul 12.00. Waktunya pulang sekolah, batin Tia. Ratusan anak-anak berseragam putih merah, berlari-lari keluar dari sekolah. Ada yang langsung menuju ke mobil jemputan, ada yang berlari menggandeng tangan ibunya, atau pembantunya, ada juga yang langsung menyerbu penjaja-penjaja makanan dan mainan yang bergerombol tak jauh dari pintu gerbang.

Tia memajukan mobil perlahan-lahan. Di depannya, seorang gadis kecil berkepang memakai tas Barbie dan botol minum yang diselempangkan di bahunya, berlari-lari. Tasnya tampak jauh lebih besar daripada tubuhnya sendiri. Ia tampak kelelahan berlari menuju ke mobil jemputannya.

Senyum Tia menyimpul tanpa sadar. Ia teringat masa kecilnya. Ketika bel pulang sekolah berbunyi, ia langsung buru-buru berlari keluar halaman sekolah. Rumah menjadi tujuannya, pelepasan penatnya setelah seharian belajar. Di rumah sudah ada Mbak Mi dan tetangga-tetangga kecilnya yang sudah menunggunya untuk bermain rumah-rumahan, dakonan, bekel atau main tamu-tamuan. Ia selalu tak sabar mendengar bel pulang sekolah. Tak sabar sampai di rumah.

Gadis kecil berkepang itu sama dengannya dulu. Berlari-lari selepas bel pulang sekolah, ia memang pulang … pulang ke rumah. Bedanya, gadis itu, hari ini dan hari-hari selanjutnya, disambut oleh orang-orang yang sudah duduk manis di rumahnya , siap mengajarkannya piano, menggambar, mengulanginya belajar matematika, bahasa Inggris, Mandarin … mengajaknya untuk pelan-pelan menyingkirkan buku-buku cerita, boneka-boneka kesayangannya, kesukaannya bermain dengan serangga-serangga, melihat bunga-bunga, memenjarakan imajinasinya…

“Mama Cuma pengen nilai raport kamu sempurna, Nak…”

No comments:

Post a Comment

"The Words is Mightier Than The Swords" - Edward Lynn-Button
Tinggalkan jejak yang baik, no spamming, junk, dan tinggalkan nama ;)