Monday, December 3, 2012

Surat Cinta Terakhir setelah Secangkir Kopi dan Sebungkus Nasi Kucing

Dear : Damar


 Entah mungkin aku terlalu puitis saat menatap wajahmu dari layar komputerku ini. Tapi jangan salahkan ketika malam menjadi comblang bagi kita berdua. Hanya padanya aku bisa menikmati wajahmu dan suaramu dengan tenang tanpa terusik atmosfer di luar perasaanku padamu.


Sudah berapa lama ya kita tidak menikmati mie ayam legendaris yang nikmatnya sampai perlu kita gambarkan dengan kata ‘Bajingan’ itu? Hmm .. Sepertinya sudah lama hanya aku yang makan mie ayam itu sendirian dan aku musti berteriak ‘Bajingan’ dalam hati sendirian. Nikmat, tapi rasanya hampa juga ya seperti itu J


Aku rindu pada malam-malam bodoh kita yang jumlahnya sudah ribuan itu. Kita terperangkap pada ruang sempit dan hampa yang menyatukan oksigen dan karbondioksida menjadi senyawa yang mengaduk-aduk ulu hati kita berdua. Anehnya, aku yang klaustrofobic merasa nyaman. Nyaman dalam pelukan suara dan pemikiranmu yang mengalun seperti lullaby masa kecilku.


Tiba-tiba saja kita bergumul pada sebuah padang yang sama. Pada gambaran pemikiran ideal bagaimana seharusnya dunia ini berjalan. Sesuai aturan kita. Ya, aturan KITA! Manusia-manusia gila seperti kita memang tidak seharusnya dilepas dalam sebuah rimba yang sama atau kita bisa bikin geleng-geleng lingkungan kita. Tapi kita terus bersikeras ya, Mar, karena kita yakin akan bisa berjalan beriringan menjadi partner paling oke sedunia yang gandrung pada lengkingan Pink Floyd favorit kita.


Kau tetap jadi yang terhebat. Teori-teori isi angin itu dapat kau patahkan dengan pengetahuanmu yang seperti tak ada batasnya. Seiring itu, kamu mulai sering menggumuli buku-buku tebal itu, berdiam diri, menggurat garis-garis di buku lusuhmu.


Kamu sudah jarang menggandeng tanganku waktu menyebrang jalan karena pikiranmu seperti dikendalikan oleh makhluk Kerajaan Bololanga. Lepas, hilang,sampai-sampai aku ragu pada keakraban kita ataukah aku mengalami erotomania?


Tak ada teguran di malam bodoh yang kesekian kita itu. Sekian lama perjumpaan kita akhirnya kita terduduk di pinggir jalan dengan menekuri kopi dan nasi kucing masing-masing. Dulunya hal ini romantis, tapi saat itu jadi sebuah momen yang mengiris. Kau makin lama tak terkejar sedangkan aku menunggu dengan gamang, menggengam komitmen kita yang kini terasa mengganjal di kerongkongan. Kering. Aku butuh air untuk menyegarkan kerongkongan, tapi keadaan ini selalu memaksa mulutku menganga akan kejadian-kejadian tak terduga yang terjadi.


Ruang yang dulu kita ciptakan, perlahan kamu pindahkan ke dalam kotak pikiranmu sendiri. Di mataku, kotak itu makin lama makin samar, hancur kemudian menguar isinya menjadi percikan-percikan molekul yang terdistraksi. Kita terpisah tanpa kata-kata yang pasti. Tahu-tahu saja semua penjelasan mengenai tata surya, perihal kosmik, Tan Malaka, musik tidak ramah di telinga dan rencana mengubah dunia, tak pernah lagi mampir ke ulu hatiku.


Pikiran-pikiranmu mengantarkanmu menjadi sosok kiriman dari planet ekstraterrestrial dalam arti sebenarnya. Kamu sibuk mencari pengakuan sebagai seorang idealis sejati. Sementara menurutku, idealis adalah milik mereka yang mampu mengkombinasikan perwujudan angan, kepercayaan diri dan kebebasan dengan bertanggungjawab. Sayangnya, sayang ..


Barusan kuterima kabar dari kawanmu, Rudi. Wartawan nyentrik teman kita itu menunjukkan videomu yang meracau di depan gedung yang kamu bilang tempat para kapitalis dan opportunis berkumpul itu. Kamu semakin terlihat gagah dan cerdas, jauh dari hari terakhir kita selepas kopi dan nasi kucing itu. Kamu masih setia dengan jas almamatermu yang lusuh sementara wajah-wajah generasi anak buahmu saat ini sudah tak kukenali lagi. Semangatmu, perjuanganmu masih sama membara. Mungkin tak pernah akan padam.


Tapi, mengapa dulu kamu tak mau berjuang seperti itu ketika aku ditarik lepas dari pelukanmu dan dipaksa memeluk pria yang lain?


_______________________________________________________


Akhirnya akhirnya Winda Carmelita menulis cerpen lagi! Hore! (Hore apanya? Kerjaan kantor dan tugas kuliah belum disentuh blas. Bangke!). Mungkin kegilaan akhir-akhir ini plus beberapa kejadian kosmik yang memasok hormon endorfin jadi berlipat-lipat ganda, menjadikan saya makhluk yang lumayan-sih-agak produktif. Sebetulnya tulisan ini ngaco, jelas-jelas ngaco. Tidak ada kejadian akhir-akhir ini yang relevan dikaitkan dengan isi cerita ini. Cuma kadang membayangkan, susah atau seneng sih punya pasangan yang pemikirannya ‘wow’? *ketika menulis kalimat ini tiba-tiba saya ingat akan ramalan seorang teman terhadap saya yang .. ah sudahlah, off the record saja*.


Waktu baca cerita ini, siapa sih yang ada di pikiranmu? ;)

No comments:

Post a Comment

"The Words is Mightier Than The Swords" - Edward Lynn-Button
Tinggalkan jejak yang baik, no spamming, junk, dan tinggalkan nama ;)