Bolehkah aku menanyakan keraguan ini padaMu?

Apa jadinya kalau nantinya aku tidak lagi bisa memetikkan melodi-melodi untuk kamu dengarkan? Bukan tidak mungkin ada kejadian kecil yang melukainya.


Apa jadinya kalau nantinya hanya sengau yang muncul dari pita suaraku? Bukan tidak mungkin ada kejadian kecil yang menghambatnya.


Apa jadinya jika tidak ada lagi frase-frase janggal yang kutulis, hilang kemampuan untuk mengimajinasikan yang terjadi di semesta ini? Bukan tidak mungkin ada remahan kecil yang tertinggal dan lupa dipungut dariku.


Apa jadinya jika aku tidak bisa lagi menciptakan kesatiran-kesatiran yang nyinyir dan tawa lepas yang anarkis? Bukan tidak mungkin aku bungkam, entah karena terpaksa atau dipaksa.


Aku bertanya pada Tuhan, bolehkah aku berpikir seperti ini? Karena aku terlalu khawatir apa yang ada padaku ditarik kembali oleh-Nya. Karena aku tak punya apa-apa untuk aku banggakan. Karena sesungguhnya aku tak punya daya tarik selain yang lain-lainnya ini. Yang kurasa, mereka mencintaiku “karena” bukan “meskipun” dan aku merasa sendiri tanpa “karena” itu. 


Tuhan, bolehkah aku menanyakan semua ini pada-Mu? Apakah aku terlalu banyak berpikir dan merencanakan kesempurnaan sehingga aku takut gagal?


Apakah sekarang aku telah meragukan-Mu? Maafkan jika aku sudah meragukan-Mu, padahal seharusnya semua tulisan ini, suara yang diproduksi pita suaraku, denting dawai gitarku, melodi-melodi ini tak diragukan lagi harus kukembalikan pada-Mu suatu hari nanti.


Dan aku harus menyerahkan semuanya pada-Mu, bukan?

Komentar

Postingan Populer