Tuesday, December 10, 2013

Tentang Kesempatan Pertama, Kesempatan Kedua dan Luluran

Saya merasa seringkali melewatkan beberapa kesempatan dalam kehidupan saya. Parahnya, mungkin bukan cuma melewatkan, bahkan terkesan menyia-nyiakan kesempatan. Duh. Saya tahu hal ini buruk sekali. Dari hal kecil, misalnya di musim hujan ini mestinya lebih baik misa hari Minggu pagi karena kalau sore biasanya hujan, tapi saya suka malas-malasan di pagi hari. Hal yang menengah, misalnya ketika saya dekat seseorang malah saya melewatkan kesempatan dengan .. simply, I ignored him, atau mbelani orang yang -- kata teman-teman saya -- ora iso dibelani. Yang besar, saya pernah beberapa kali menolak pekerjaan bagus hanya karena kebanyakan pertimbangan dan dibalap sama rasa males.


Akhir-akhir ini, karena status saya sebagai pengangguran, saya jadi punya banyak waktu luang untuk melakukan banyak hal. Karena punya banyak waktu luang ini, saya yang memang nggak bisa nganggur (bawaan orang Koleris banget), jadi kayak kalap ketika orang datang ke saya menawarkan kegiatan mengisi waktu luang. Satu hal yang tidak akan saya sia-siakan adalah ketika Bu Widya, dosen pembimbing skripsi saya (sekaligus dosen favorit saya .. ehem!) menawari saya menjadi pembanding seminar proposal kakak tingkat saya. Wah, saya langsung mengiyakan karena saya pikir sekalian saya belajar hal lain di luar penelitian saya. Toh saya tidak merasa rugi satu apapun, malah untung. Sejak saat itu berdatangan tawaran (atau permintaan tolong .. atau permohonan memelas) dari teman-teman saya untuk jadi pembanding seminar proposal. Saya senang-senang saja kok, toh kesempatan ini juga tidak datang dua kali. Berarti saya dipercaya oleh orang lain untuk membantu mereka. Maka saya berusaha membantu mereka dengan memberikan ide-ide untuk skripsinya. Eeeeh, taunya kemarin saya diajak Bu Widya untuk masuk di kelas Isu-isu Kontemporer yang diampunya. Saya diminta untuk sharing di kelasnya tentang skripsi saya yang menurut beliau "... isunya kontemporer sekali". Dalam sharing itu saya diminta cerita tentang essay saya di kelas Isu-isu Kontemporer 1,5 tahun yang lalu (hahaha .. wis tuwooo, sengaja dikecilin font-nya), ngasih semangat dan membantu Bu Widya di kelas dalam memberikan bimbingan. Saya nggak menyia-nyiakan kesempatan ini, makanya saya langung meng-iya-kan.

Bicara tentang kesempatan kedua, mungkin rasanya terlalu private untuk saya bagikan di sini hehehe yang jelas, saya mau memperbaiki kesalahan. Bukan bermaksud 'habis manis sepah dibuang lalu dipungut lagi' karena saya nggak pernah bermaksud seperti itu. Kalau memang ada kesempatan, mungkin saya mau memperjuangkannya (lagi). Pertanyaannya: apakah saya dikasih kesempatan kedua?

Baiklah, daripada berujung galau (meskipun kata Morrissey: Galau itu wajar, that's how people grow up), maka saya akan mengakhiri postingan ini .. karena mumpung masih pagi, masih segar, saya mau luluran .. memanfaatkan kesempatan me-time yang beberapa hari ini tertunda. 

Oh iya, di kolom kanan atas blog ini ada logo baru KEB lho.. Apa hayo itu? Klik aja linknya ;)

No comments:

Post a Comment

"The Words is Mightier Than The Swords" - Edward Lynn-Button
Tinggalkan jejak yang baik, no spamming, junk, dan tinggalkan nama ;)