Monday, December 29, 2014

Tentang Saat Tergalau Dalam Hidupmu

Terkadang, kita tidak perlu hujan dan lagu-lagu sendu untuk mengantarkan kita pada suatu setting atmosfir bernama galau. Saat bicara tentang galau, umumnya orang mengidentikkan dengan "kisah cinta yang tak kunjung selesai" sehingga beberapa orang menghakimi kegalauan dengan "Wis ojok mikiri lanangan ae."

Kenyataannya, galau itu bisa menyerang siapa saja. Galau itu wajar dan manusiawi. Saat kamu ada dalam perasaan bimbang, perasaan tak enak yang lebih baik disimpan sendiri daripada dilampiaskan dengan melempar guci Cina ke tembok rumahmu. Galau tak selalu berhubungan dengan "kisah cinta yang tak kunjung selesai". Galau bisa jadi sepenting itu atau bahkan tidak lebih penting dari itu.

Galau pengen sekolah lagi, tapi kondisi tidak memungkinkan. Sementara setiap melihat penawaran beasiswa S2 dan melihat teman sedang ber-S2 ria, hatimu seperti mencelos sementara di sisi lain kamu turut berbahagia atas mereka .. Ah .. Iya, bisa jadi ini cuma iri belaka. Rejeki sudah ada yang atur yah?

Galau karena kamu kadang merasa sepi, mencari teman bicara tapi belum menemukannya. Kemudian daripada ribet, akhirnya kamu memutuskan tidur lebih awal. Conversation di berbagai grup dan social media terasa menjemukan dan kamu tak lagi ada gairah untuk meladeninya. Kamupun ingin sekedar pergi keluar ngopi bersama 1-2 orang terpercayamu. Ramai hanya sececap, segelintir kemudian kamu sudah memeluk gulingmu dan kembali merasa sepi. Segala hal gila ini menggerogoti sedikit demi sedikit energimu. Kamu bosan ada di kubikel yang sama, tak bisa ke mana-mana.

Galau karena ternyata kamu tidak sepintar itu, tidak sekeren itu, tidak seberani itu, tidak seyakin itu, tidak seasyik itu, tidak setegas itu... tidak se-itu yang dianggap orang selama ini ..

Galau karena kamu takut tidak bisa memberikan yang terbaik. Ya untuk keluargamu, ya untuk teman-temanmu, ya untuk pekerjaanmu ... sementara mereka (sepertinya) ada harapan padamu (atau kamu cuma ke-GR-an?).

Galau karena setelah kamu memberikan yang terbaik, masih pun ada orang yang tidak berkenan akan kehadiranmu. Lelah dengan drama, kamu memutuskan pelan-pelan menyingkir.

Galau karena kecemasanmu mulai menjadi-jadi. Takut ditinggalkan siapapun, takut gagal, takut tidak terpilih ..

Galau masa depan, apakah kamu mau seperti ini seterusnya, apakah kamu bisa bertahan dengan keras hatimu? Sampai kapan? Apakah dengan cara ini kamu bisa meraih yang kamu harapkan? Galau itu muncul saat kamu perlahan-lahan mengenal yang namanya review kehidupanmu, paling tidak setahun belakangan ini.

Galau karena mentalmu yang mulai kacau, apakah benar kamu baik-baik saja? Apakah benar kamu sudah mati rasa? Di sisi lain, kamu mulai sedih setengah mati akan beberapa hal dalam dirimu. Saking sedihnya sampai kamu sendiri tidak bisa mengungkapkannya pada siapapun. Kemudian kamu jadi khawatir akan kehidupanmu dan kesehatan jiwamu. Tapi akhirnya kegalauan yang tak bisa diceritakan ini pun tetap bersemayam manis dalam hatimu. Kemrungsung sendiri lah.

Galau karena ternyata luka batinmu belum terobati ... dan karena kamu belum selesai dengan dirimu sendiri. Kamu tak berminat pada masalah orang lain karena melihat dirimu sendiri pun kamu tak bergairah. Sementara riuh rendah di luaran, orang sibuk dengan dirinya sendiri. Membicarakan dirinya sendiri. Bajunya yang bagus, lagunya yang keren, uangnya yang banyak, rumahnya yang mewah, pacarnya yang ganteng. Mencari celahnya, kamu merasa tak ada tempat. Akhirnya kamu merasa sendiri .. Sendiri .. sendiri ..

Jadi, galau itu bukan karena "mikiri lanangan ae" 'kan? Nggak heran kenapa saya sangat sensitif pada kata-kata itu karena untuk "mikiri lanangan ae", ruang dan waktu saya sudah cukup tersita dengan e-mail yang datang tiap menit atau dengan apa yang kiranya hari itu bisa saya kerjakan.

Akhirnya, tak seorang pun mengertimu karena memang tak perlu ada yang mengertimu, selain dirimu sendiri. Kamu ingin berubah, tapi tak perlu lah kamu memberitahukannya pada orang lain karena kamu lelah 23 tahun hidup sebagai obyek iri hati, obyek disalahkan dan dibilang tidak pantas diperjuangkan.

And then I think that maybe I was designed to be alone .. Saat saya bilang saya ingin pergi, saya akan melakukannya -- atau paling tidak telah memikirkan caranya.




No comments:

Post a Comment

"The Words is Mightier Than The Swords" - Edward Lynn-Button
Tinggalkan jejak yang baik, no spamming, junk, dan tinggalkan nama ;)