Wednesday, August 19, 2015

Mengapa Kebanyakan Manusia Memilih Jadi Makhluk Yang Minder?

.... karena mendengarkan apa kata orang lain.

Sebetulnya jawabannya sesederhana itu. Teman saya, Natanael, dalam suatu sesi chatting di malam hari melemparkan pertanyaan "Coba kalau manusia nggak punya perasaan ya?". Tentunya tidak akan ada orang yang minder, tidak ada orang yang merasa orang lain sombong, sungkan, tidak ada iri hati, tidak ada kecemburuan (sosial) dan seterusnya dan seterusnya.

Di lain waktu bertahun sebelumnya, ada yang bilang, "Lagumu gak enak! Gak laku lah dijual kalau begini?". Sempat mikir keras. Tapi akhirnya lupa juga sih soalnya lebih fokus bekerja daripada bermusik :)) *lupakan poin ini tidak penting dibahas*

Masalahnya, kita manusia pasti takut ditinggalkan orang lain. Taruhan, ada yang mau diomongin di belakang, dibilang sombong lalu masih bisa tersenyum haha-hihi saat teman terdekatnya ngerasani dan pelan-pelan pergi menjauhi? Kalau ada, saya acungi jempol. Mentalmu kuat, Dek! Masalahnya, sejak kecil kita sudah di-desain untuk (me)rendah(kan) diri. Misalnya : "Wah, kamu kok kurusan, makin cantik lho!" | "Ah, enggak, gendut kok masih-an" (Padahal dietnya sukses turun 20 kg). Mengapa kita tidak dengan percaya diri menjawab, "Makasih ya, memang dietku sukses kok!". Entah maksud si pemuji benar-benar memuji atau basa-basi, tapi apakah ada yang tersakiti? Saya rasa nggak ada.

Saya adalah makhluk yang sangat kurang PD dan saya menyadari itu. Sulit bagi saya menjawab dengan positif pujian yang diberikan kepada saya semata karena (1) saya selalu merasa masih kurang alias perfeksionis, sehingga belum pantas menerima pujian (dan nggak tau juga kapan pantasnya), (2) saya tahu masih ada yang lebih pantas buat dipuji, (3) saya "mendengarkan kata orang lain". Dan jebakan kehidupan yang saya takutkan adalah menjadi sombong. Weird, huh?

Akhirnya kesimpulannya adalah : Kita menjadi makhluk yang minder meskipun kita tahu kita bisa karena kita memikirkan kata orang lain. Dan sebetulnya nggak masalah kita mau unjuk gigi, semata karena menghargai diri sendiri bukan dengan tujuan merendahkan orang lain. Saya menulis ini bukan untuk mengajarkan "sombong itu halal", tapi lebih sebagai pecut terhadap diri sendiri. Tidak ada yang akan menghargai kamu selain dirimu sendiri. Kalau kamu bisa achieve suatu prestasi A, ajaklah atau berbagilah dengan orang lain supaya bisa meraih goalnya yang sama denganmu. Ucapkan terimakasih atas pujian yang diberikan orang lain padamu dan aturlah ambisimu akan pujian itu. Yang namanya sesuatu kalau dicekokin berlebihan, nanti batuk :))

Kalau gagal, nggak usah minder. Namanya juga belajar. Mereka yang benar-benar memujimu dari dalam hati tentunya tidak akan menghujatmu jika kamu mengalami kegagalan, kecuali mereka memujimu karena ingin mengangkatmu tinggi-tinggi dan akan menjatuhkanmu sesakit itu saat kamu gagal.

Mereka pernah bilang, saya gembrot (yes, gembrot not gendut). Dan itu menyakitkan. Minder, karena merasa tidak cantik, tidak oke, tidak fashionable, tidak layak untuk tampil. Kemudian saat saya mulai bisa menurunkan sedikit demi sedikit berat badan saya dan mereka bilang, "Kamu kok kurusan?", saya menjawab "Iya nih, coba kalau dulu nggak dibully gendut sampai malu ketemu orang lain semingguan, saya mungkin ngga akan berpikir buat mengatur pola makan." Dan mereka pun bilang, "Tapi gapapa, kamu jangan terlalu kurus, kaya orang sakit. Kegiatanmu kan banyak, jangan dipaksa nggak makan. Gini aja udah cukup oke kok, yang penting sehat."

Rasa khawatir, minder, tidak percaya diri itu tiba-tiba menguap ke udara :)

Hidup itu ibaratnya pelajaran seumur hidup. Ada kalanya kita perlu berbangga hati dapat nilai A, ada kalanya kita masih perlu belajar menaikkan nilai C menjadi A. Siapa yang bisa melakukannya? Yes, you, only you!

YOLO, kak, YOLO *bacanya YOLO ya, bukan YaOLO!*

Doraemon
Giant aja PD tuh meskipun dibilang suaranya kaya kaleng ditabuh -- Image taken from pullthebrake.com

12 comments:

  1. iya bener. harus bisa dikontrol.
    karena kalo ada perasaan minder, berarti ada perasaan PD dan pas kita bisa jadi PD kita bakal berasa seneng.

    ReplyDelete
  2. aku...aku suka minder juga :)

    ReplyDelete
  3. Rasa minder dan kurang percaya diri adalah sikap yang sangat mengganggu ya

    ReplyDelete
  4. Kudu nyontek orang luar nih Mbak, kalau orang luar disebut cantik, pasti akan jawab, thank you. Nah orang kita? Pasti kebanyakan jawab, ah masak sih??? Nggak PD.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Exactly, budaya yang patut ditiru oleh masyarakat Indonesia. Ya walaupun aku juga ngerasa kalau dipuji itu rasanya kayak gimana gitu, aneh, nggak pd, pasti bertanya-tanya, masak sih, biasa ajah kok. Toh juga kita nggak benar-benar tahu ungkapan yang ditujukan kepada kita itu niat memuji atau ada niatan lain. :) Aku jadi ingat salah satu kata-kata dari Joger, beli nggak beli tetap terima kasih.

      Delete
  5. Aku juga kadang2 minderan, harus diubah nih jadi lebih pd tapi nggak sombong :)

    ReplyDelete
  6. yg penting terus berusaha positive thinking ya :)

    ReplyDelete
  7. Iya sih, apalagi jaman sekarang, orang pada nyinyir, bikin makin mengkeret. Yuk ah, semangat!

    ReplyDelete
  8. Energi negatif semacam minder ini memang lebih mudah untuk diserap oleh hati kita yah mbak, suka gampang kemakan aja gitu...
    Makanya harus berusaha untuk dilawan terus yah :))

    ReplyDelete
  9. minder itu harus dimatikan mba

    ReplyDelete
  10. semua orang pasti pernah minder, soalnya dia tau kekurangan dia sendiri. Bisa jadi acuan untuk lebih baik.

    ReplyDelete

"The Words is Mightier Than The Swords" - Edward Lynn-Button
Tinggalkan jejak yang baik, no spamming, junk, dan tinggalkan nama ;)