Thursday, March 3, 2016

Tips Melawan Trauma Berkendara Motor



Beberapa hari yang lalu saya mengurus pajak motor saya yang ternyata usianya sudah 1 tahun. Tidak terasa memang, saya memiliki, merawat dan mengendarai Poppy sudah setahun ini. 3 bulan sebelumnya, saya memperpanjang SIM C saya yang masa berlakunya habis bulan Januari 2016 kemarin. Kalau diingat lagi, demi bisa naik motor sendiri saya sepertinya boleh berbangga hati *kibas poni*.

Sejak 5 tahun yang lalu, sebetulnya saya sudah bisa naik motor matic. Namun di suatu pagi sebelum berangkat ke kampus, saya diserempet motor dari belakang. Jadi ceritanya, di Jalan Pahlawan Trip menuju ke Jalan Bogor adalah jalan percabangan yang kurang jelas alurnya. Gambarannya begini: dari Jalan Dempo, belok kiri untuk menyebrang, kemudian sekitar 10 meter-an, belok kanan menuju Jalan Bogor. Singkatnya, itu jalan rawan sekali kecelakaan karena persimpangannya cukup ruwet. Saya berada pada posisi orang yang akan menyebrang ke Jalan Bogor itu saat tiba-tiba sebuah motor melaju kencang dari arah Jalan Ijen (arah belakang). Jatuh lah saya ke arah kanan, yang mana arah berlawanan dan lalu lintas pagi itu ramai sekali karena jam berangkat ke sekolah. Untungnya orang-orang sigap sehingga posisi saya yang 'hampir' itu nggak ditampani sama kendaraan dari arah berlawanan.

Satu-dua hari setelah kejadian itu, saya masih PD berangkat ke kampus naik motor sendiri. Tapi hari-hari setelahnya, saya tiba-tiba merasa ngeri setiap berada di jalan raya mengendarai motor sendiri. Diklakson dari belakang, kaget. Disalip, kaget. Akhirnya alm. Papa memberi ultimatum, "Nggak boleh bawa motor sendiri."

Tapi perasaan yang belakangan saya pahami sebagai trauma itu tidak lantas membuat saya mandeg jegreg nggak naik motor sama sekali. Sesekali colongan naik motor lah, ke supermarket dekat rumah. Meski agar ser-seran, tapi perasaan "pengen pergi-pergi sendiri, nggak mau merepotkan Papa" itu semakin bikin level kenekatan saya perlahan naik.

Beberapa kali saya juga punya pengalaman kurang enak karena selalu minta diantar-jemput teman setiap kali mau pergi. Duh, merepotkan sekali lah kesannya, bahkan ada teman yang sengaja berbohong supaya tidak mengantarkan saya pulang. Sedih 'kan? Tekad semakin bulat, saya bilang ke orang tua, "Pa, Ma, Winda mau beli motor sendiri ya, biar bisa ke mana-mana sendiri. Kegiatan makin banyak lho, masak dianter terus?". Setelah perdebatan alot, akhirnya saya diijinkan naik motor sendiri dan memiliki motor sendiri. Puji Tuhaaaan ...

Masalahnya bukan pada kepemilikan motor pribadi, tetapi bagaimana menghilangkan rasa trauma berkendara. FYI, perjalanan dari rumah menuju ke kantor itu dipenuhi dengan truk-truk dan bis. Maklum, belakangnya kantor itu Terminal Arjosari. Hati siapa yang tidak deg-deg ser setiap kali diklaksonin bis? For. Every. Single. Time. And. Every.Day. Tapi rasa trauma ini bisa dikendalikan, bahkan dihilangkan kok. Nah, ini cara saya:

  • Nekad
Kucing kalau mau lompat dari gedung bertingkat, apanya dulu? Niatnya! Iya, ini benar kok. Saat itu saya berpikir, kalau saya nggak nekat, memangnya mau sampai kapan bergantung ke orang lain. (dan benar saja, 6 bulan setelah saya bisa naik motor sendiri, alm. Papa sakit dan tidak bisa mengantar saya kemana-mana lagi)
  • Tenangkan Diri Sebelum Berkendara
Buatlah hati tenang dengan cara kita sendiri. Ada yang berdoa, ada yang sekedar nyanyi-nyanyi kecil. Alm. Papa selalu memberkati saya dengan tanda salib di dahi sebelum berangkat :')
  • Make A Goal
Alasan saya pengen bisa naik motor adalah karena saya pengen bisa nyetir motor Royal Enfield. Huahahha ... Cheesy ya? Meskipun begitu, hal-hal seperti ini yang secara tidak sadar memotivasi kita. Lha ya, mana bisa nyetir Royal Enfield kalo naik motor aja nggak bisa? Sekarang motivasi saya agak berubah sih. Berhubung hanya bisa naik motor matic, saya ditantangin teman saya untuk belajar naik motor kopling ala-ala gitu hihihi ... Hauuummmmm...

royal enfield
Si Royal Enfield 500 Tan, idaman | Image taken from zidgni.com
  • Be Safe!
Dengan memastikan kendaraanmu aman dan perlengkapan berkendaramu lengkap, kamu pasti akan lebih percaya diri untuk menantang jalanan. Ini penting banget, karena kalau misalnya kamu nggak bawa SIM, pastinya kamu akan was-was sepanjang jalan kalau-kalau ada razia. Rasa was-was ini membuat kita akan lepas konsentrasi dan itu berbahaya sekali.
  • Lawan .. lawan .. lawan!

... dan tidak ada yang lebih ampuh daripada melawan rasa takut itu sendiri :)

Satu-satunya faktor penentu sukses atau tidaknya kita melawan trauma adalah diri sendiri. Memang agak susah jika dalam case kita pernah tabrakan kemudian orang terdekat jadi ikut insecure jika kita turun ke jalan lagi. Tapi jangan kecil hati. Situasi-situasi tertentu akan memaksa kita keluar dari rasa trauma dan membuat kita jadi PD kok.

Pernah punya pengalaman serupa?

7 comments:

  1. lebih susah menghilangkan trauma bawa mobil..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, pernah ya? Boleh bagi pengalamannya?

      Delete
  2. wah sempet nih aq mak, walopun cuma krn tergelincir sedikit, bbrp waktu masih gemeter tiap bw motor, untungnya lama2 ilang juga,abis mau ga mau sih yam kan butuh kendaraan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget mak, karena keterpaksaan akhirnya seseorang jadi berani ya.

      Delete
  3. Wow si Royal keren banget!
    Aku malah nggak bisa nyetir, baik motor ataupun mobil. Pernah les nyetir mobil sih tapi masih nggak bisa-bisa. Dua kali hampir nyungsep di got, pernah mau nabrak warung hiks, sekarang sdh 7 tahunan nggak nyentuh mobil lagi. Kemana-mana nunggu dianter suami, emang jadi merepotkan.

    ReplyDelete
  4. jadi pengingat buat aku juga supaya selalu hati-hati berkendara

    ReplyDelete
  5. Sama. Aku biasa naik matic trus ditantangin pakai kopling.
    Kalau naik motor jatuh sih pernah beberapa kali. Tapi nggak sampai trauma. Malah sempat traumanya pas lihat kecelakaan motor tepat di depan mata. Ngeri ngilu gimana gitu :D

    ReplyDelete

"The Words is Mightier Than The Swords" - Edward Lynn-Button
Tinggalkan jejak yang baik, no spamming, junk, dan tinggalkan nama ;)