Mengorbankan Detik, Menuai Celaka: Saat Jalanan Dikuasai Manusia-Manusia Arogan

6:05:00 PM

peraturan lalu lintas


Jalanan di hampir seluruh kota di Indonesia semakin padat saja. Motor-motor mendominasi jalanan, seolah tak mau kalah dengan deru mobil, truk dan bis. Pejalan kaki dan mereka yang gowes, dipaksa mengalah dengan kendaraan dengan mesin kecepatan tinggi.

25 tahun saya tinggal di Malang, kota ini semakin sesak saja. Bayangkan, setiap hari perjalanan dari kawasan Galunggung ke Araya, begitu pula sebaliknya, harus saya tempuh sekitar 30 menit-an. Galunggung ke Araya itu sebetulnya tidak begitu jauh sih, hanya saja saya lebih suka menggas motor matic saya dengan kecepatan maksimal 40 km/jam. Maksimal, berarti bisa di bawah kecepatan itu sih.

Sambil mengendarai motor, biasanya saya suka nyanyi-nyanyi atau menghafalkan apa saja yang saya lewati di sepanjang jalan. Saya agak susah mengingat tempat atau alamat, jadi sambil naik motor sambil menghafal hehehe ..

Kadang kala saya asyik sendiri dengan pikiran saya, sampai mungkin bikin kesal pengendara lainnya. Diklakson-klakson deh. Ya sudah sih, kalau memang saya salah, saya minggir atau memacu kendaraan saya dengan kecepatan sewajarnya. Tetapi, beberapa waktu yang lalu saya mengalami kejadian yang .. yah, menjengkelkan. Kejadian yang membuat saya jadi menyadari arogansi pengendara bermotor di jalanan itu ... luar biasa.

Jadi begini, lampu merah menuju ke kawasan tempat saya bekerja, tergolong cukup lama. Kalau tidak salah 89 detik. Nah, sudah jadi kebiasaan orang-orang yang akan belok ke daerah Araya ini, untuk curi start di beberapa detik sebelum lampu hijau. Kira-kira 5 detik sebelum lampu berubah hijau, mereka tancap gas sekencang-kencangnya.

5 detik. Iya, hanya 5 detik. Lebih dari itu, mana berani, wong musuhnya truk dan bis-bis dari Terminal Arjosari yang letaknya di belakang perumahan Araya.

Saya dan beberapa orang yang naik motor, berada di barisan terdepan. 20 detik ... santai ah. Saya masih sempat mengintip apakah lipstik saya udah presisi aplikasinya :P Tiba-tiba di 15 detik terakhir, terdengar suara motor dibleyer-bleyer kencang sekali. Sepertinya tipe motor balap atau motor gede, karena suaranya berbeda lah sama motor kita-kita yang kroco ini.

Perhatian kami yang berada di barisan depan mulai terganggu. Saya sendiri menoleh ke belakang, ya siapa tahu mungkin ada sesuatu yang darurat di belakang sana. Eh, sejurus kemudian yang saya dengar adalah, "WOY! CEPETAN WOY! GOBLOK!" berpadu dengan suara mesin motor yang heboh itu.

... dan masih kurang 10 detik lagi sebelum lampu berubah menjadi hijau.

Entah pada siapa makian itu dilontarkan. Sudah tentu, orang-orang merasa terganggu. Jika biasanya 10 detik terakhir orang-orang segera tancap gas, kali ini seakan semesta memberikan instruksi untuk "Biarin aja, biar tahu rasa." Karena banyak yang terganggu, justru si pengendara motor arogan itu tidak mendapatkan yang dia mau. Pengendara lainnya menunggu hingga lampu hijau, baru semuanya kompak memacu motor dan mobilnya lagi.

10 detik. Arogansi itu sungguh membahayakan. Motor dari arah berlawanan, masih banyak. Pun truk dan bis-bis dengan badan yang besar. Mau mempertaruhkan nyawa siapa? Nyawa sendiri sih, monggo-monggo aja. Mungkin situ kucing, nyawanya ada 9 kali ya..

Curi start 10 detik, apa sih impactnya untuk waktumu selama seharian? Apa dengan 10 detik akan mempercepat perjalananmu menjadi 30 menit? Saya rasa tidak, kok.

Sepertinya kita terlalu sibuk dan diburu oleh waktu. Time management yang kurang baik, arogansi di jalanan, merasa mampu membeli kendaraan mahal tapi tidak punya otak, jika itu bertemu dalam satu arena yang disebut jalan raya ... Buyar sudah.

Mungkin kita bisa saja rebel terhadap peraturan yang mengikat hak kita, entah di rumah atau di kampus atau di tempat kerja. Tetapi jika itu untuk melindungi kepala kita sendiri, kenapa harus dilawan? Saya belum menemukan alasan logis melawan detik-detik merah yang belum berubah menjadi hijau ataupun garis-garis stopline. Hal kecil yang jika dilanggar akan jadi fatal.

Melanggar Lalu Lintas
Ini lho namanya stopline | Image taken from cicakkreatip.com
Nggak cuma sekali atau dua kali saya mendapati kejadian seperti ini. Pun saya pernah diteriakin oleh seorang laki-laki baya karena (menurutnya) sudah 3 detik terakhir saya masih belum jalan juga (which is menurut saya ya .. sudah seharusnya begitu 'kan?). Ya akhirnya saya cuma punya jawaban tak kalah judesnya, dan sudah jadi template makian saya di jalanan:
"Jasik, nek gelem cepet, budhal o wingi Mas!"
(Kalau mau cepat, berangkatnya kemarin, Mas!)

Ps:

  • Pasal 106 Ayat (4): “Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib mematuhi ketentuan: a. rambu perintah atau rambu larangan; b. Marka Jalan; c. Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas; d. dst...”
  • Sanksi: Pasal 287 Ayat (2): “Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan yang melanggar aturan perintah atau larangan yang dinyatakan dengan Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (4) huruf c dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan atau denda paling banyak Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah)”.
Lima ratus ribu .. Hmm, mending buat beli boxset DVD Tintin aja ..

You Might Also Like

14 comment

The Words is Mightier Than The Swords" - Edward Lynn-Button
Tinggalkan jejak yang baik, no spamming, junk, dan tinggalkan nama ;)

Popular Posts

Blog Archive

Google+ Followers

Part of

Warung Blogger
Blogger Perempuan

Voucher Diskon 15% Zalora Indonesia

Voucher Diskon 15% Zalora Indonesia
Diskon 15% Zalora Indonesia