Monday, June 13, 2016

Menjaga Kewarasan Saat Dunia Sedang Tak Bersahabat Dengan Kita

ironic


Disclaimer : ini hanya curhatan. Jika kamu mengharapkan mendapatkan informasi yang sifatnya edukatif, silakan lewati postingan ini. Saya tidak menjual kesedihan lewat kisah ini.

Satu bulan sebelum Papa berpulang, itulah saat-saat di mana beliau sedang kritis-kritisnya. Keluarga begitu diuji dengan kondisi Papa saat itu. Papa sakit kritis, itu artisnya di keluarga ada dua orang yang harus dijaga. Pertama, Papa sendiri. Kedua, Mama. FYI Mama saya menderita stroke sejak saya kelas 2 SD dan sudah kena serangan yang kedua kalinya di tahun 2013 yang lalu. Kondisi keduanya, saat itu, benar-benar jadi perhatian karena akan sangat berpengaruh satu sama lain.

Di kondisi itu, saya terutama yang jadi 'penjaga gawang' di rumah, masih sangat terdistraksi dengan satu-dua hal yang saat itu sedang tidak baik-baik saja. Up and down, yah wajarlah. Kemudian sampailah tanda-tanda ketidak wajaran yang cukup menguras pikiran dan perasaan. Bertumpuk dengan betapa bingungnya saya kala itu menghadapi persimpangan sulit: "Apakah saya akan mendonorkan ginjal saya untuk transplantasi Papa?". Sedangkan pertimbangannya juga tak mudah. Saya masih muda, belum menikah dan ... buat yang kenal saya pasti tahu saya orangnya aktif sekali dan punya banyak kegiatan. Mendonorkan sebagian ginjal saya itu artinya mereduksi diri saya jadi setengahnya.

Saya sangat mencintai kedua orang tua saya dan tidak bisa memilih salah satu di antaranya. Sudah barang tentu saya bersedia jika diminta untuk mendonorkan ginjal untuk Papa, saat itu. Tetapi belum sampai dokter memvonis transplantasi ginjal untuk Papa, ternyata Tuhan ingin mengangkat sakit pria yang paling saya sayangi itu, lebih dahulu.

Pekerjaan, intrik dengan beberapa orang, sakitnya Papa dan bagaimana harus menjaga kondisi Mama sangat mempengaruhi kondisi emosi saya waktu itu. Sedangkan saat itu, saya merasa tidak memiliki teman untuk berbagi, yang sebenar-benarnya 'berbagi'. Tanpa bermaksud mengecilkan perhatian teman-teman yang memberikan dukungan, seperti ada satu ruang kosong di hati yang tidak bisa saya jelaskan. Terlalu kompleks perasaan waktu itu dan yang saya curahkan kepada orang lain mungkin hanya 10%-nya saja. Menangis kepada orang lain, mungkin pernah, sekali, saat saya mengantar Papa ke rumah sakit. Berada pada titik pupus harapan, saya sudah tahu gambaran besarnya bahwa penyakit itu lama kelamaan akan menggerogoti tubuh Papa dan saya harus mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan terburuk.

Suatu malam, saya mengobrol dengan seorang teman yang berkata, "Mungkin kalau aku jadi kamu, aku sudah tidak waras." Sebetulnya, masa-masa itu membuat saya tertekan sekali. Untuk menjaga kewarasan, saya merokok berbungkus-bungkus sambil mencari waktu untuk ngebir sendirian. Mirip-mirip badut yang depresi. Di luar baik-baik saja, padahal di dalam hati ... remuk bukan main. Bukan bermaksud merusak tubuh, tetapi saya tidak bisa bengong sendirian 'kan? Ketidakwarasan itu membuat berat badan saya turun 4 kg, berbonus mata cowong.

Mama, Orang Yang Membuat Saya Tetap Waras

Satu-satunya yang membuat saya menjadi 'waras' ternyata adalah mengingat di sisi saya ada orang yang harus saya jaga. Mama. Selepas Papa tiada, tumpuan Mama ada pada saya. Well, saya tidak pernah keberatan dengan hal itu kok :) Sedih terus menerus tidak akan mengubah keadaan jadi lebih baik. Menemani Mama adalah cara agar semuanya jadi lebih baik lagi. Awalnya begitu khawatir dengan kondisi Mama, takut sekali kalau Mama drop selepas Papa meninggal. Nyatanya, justru Mama yang bilang bahwa semuanya akan baik-baik saja, Tuhan sudah mengangkat sakitnya Papa. Andaikata Papa masih hidup, kasihan juga karena harus merasakan sakit setiap saat. She's so strong, I really love her, I adore her :)

Mengikhlaskan

Meski Papa telah tiada, beliau rasanya masih ada di sini. Saya sangat percaya Papa di atas sana sudah bahagia, bertemu teman-temannya, ketemu Tuhan Yesus. Beliau kini jadi malaikat pelindung kami. Di atas sana Papa pasti sudah senang, lalu kalau saya tidak mengikhlaskan, Papa pasti sedih ya?

Do What Makes You Happy

Saya kembali pada kegiatan-kegiatan yang sempat terbengkalai, membuat ini-itu atau sesimpel makan malam sendirian sambil melihat orang lalu-lalang. Lho, kok sendirian? As long as you're happy, why not? Termasuk jika salah satu kebahagiaanmu adalah meminta orang-orang yang selalu bersinggungan untuk berhenti melakukan hal yang membuatmu sedih. It works on me. Pada akhirnya, segala patah hati dan kekecewaan itu bisa dihentikan, awalnya dari diri kita sendiri. Satu hal yang membuatmu tidak waras, bisa dicegah.

Cycle of Life

Masing-masing kita pasti akan ditinggalkan dan meninggalkan. Well, that's life. Itulah siklus hidup. Kelahiran dan kematian itu pasti. Kita harus siap dengan keduanya.

... dan yang terpenting adalah serahkan semuanya pada Tuhan. Saya bukan tipikal orang yang religius, ke gereja aja masih bolong-bolong, rebel masih banget. Tetapi saat itulah saya merasa bahwa Tuhan adalah tempat bersandar paling menenangkan di saat manusia tak bisa menolong dirinya sendiri. At least, saat itu saya masih bisa bersyukur karena saya masih hidup dan tidak berencana yang aneh-aneh untuk lepas dari masalah (dan menambah masalah yang lain). Semua pelarian itu memang sejenak bisa menggeser beban yang ada di pundak kita. Tetapi akarnya ada di dalam diri sendiri. Satu-satunya yang bisa menjaga kewarasan saat dunia sedang tak bersahabat dengan kita adalah diri kita sendiri.

Ada sebuah lagu yang saya ingat kala saya merasa down. Ironic, dinyanyikan oleh Alanis Morisette:

Well life has a funny way of sneaking up on you
When you think everything's okay and everything's going right
And life has a funny way of helping you out when
You think everything's gone wrong and everything blows up
In your face
 
Every clouds has a silver lining. Roda kehidupan itu pasti berputar. Dan seperti kata Albert Einsten, "Tuhan tidak akan pernah salah memainkan dadu kehidupan kita." :)

** ditulis untuk mengenang yang tersayang, yang 6 bulan lalu berpulang ke pangkuan Bapa*

Mi love :)

4 comments:

  1. memang gitu ya rasanya kalau ada yang sakit di rumah, kudu jagain, tapi kiranya juga kadang butuh dijagain. strong kakaak :)

    ReplyDelete
  2. aku sedih baca ini.. :( Jadi keinget papa... pengen ketemu ortu yg jauh di medan :(..

    kalo sdg dlm kondisi yg sangat2 down gini, 1-1 nya yg bikin aku kuat, cuma Tuhan mbak.. akupun ga terlalu religius.. tp at least masih percaya, kalo semua cobaan itu dtg dari Tuhan utk menguji iman kita :).. dan selalu percaya kalo g ada cobaan yg terlalu berat.. Tuhan ga prnh kasih cobaan di luar batas kemampuan kita.. selalu bgt percaya itu :)

    ReplyDelete
  3. aku bangga dengan ibuku dibuat supekuat, waktu bapakku sakit kanker hati semua diurus ibuku karena bapakku gak mau dengan perawat. begitu tegar sampai aku anaknya saja heran melihat ketegaran dan kekuatan mamaku. Dia bilang Tuhanlah yang memberi kekuatannya

    ReplyDelete
  4. Aku juga pernah loh jadi penjaga gawang, dengan kesabaran, jadi indah pada masanya.

    ReplyDelete

"The Words is Mightier Than The Swords" - Edward Lynn-Button
Tinggalkan jejak yang baik, no spamming, junk, dan tinggalkan nama ;)