Kendalikan Jempolmu, Gak Perlu Mengumbar Amarah di Social Media

6:54:00 PM



This social media etchis about: your emotional tweet or post that driving us crazy :p

Banyak menghabiskan waktu dengan mengamati social media, apalagi ketika mau tidur, sering mata ini tertumbuk pada beberapa tweet-tweet atau postingan yang bikin hati ingin nyinyir, "Lho kok?","Kok lho?", "Hmmm, iso ae ..." dan sebagainya. Gumaman itu justru muncul bukan karena abis ngelihat humor-humor kitsch-nya @hati2diinternet, @BestOfNetizen atau akun-akun kitsch lainnya. Tapi lebih ke akun-akun personal, entah siapapun yang ada di baliknya.

Saya dulu pernah menjadi leader yang juga berurusan dengan hal-hal seputar rekruitmen. Tiap-tiap leader pasti punya cara sendiri untuk merekrut anggota baru untuk timnya. Saya pun begitu. Saya adalah tipikal orang yang meminta semua akun social media dan blog calon karyawan baru untuk dicantumkan di CV. Wajib, harus hukumnya. Sesimpel, karena nantinya akan bekerja di dunia social media, saya pengen tahu seperti apa sih konten yang biasanya di-share, seperti apa sih kemampuan copywritingnya dan ... seperti apa sih kepribadiannya.

Baca Juga: 
Indonesian Netizen Nowadays: Mempertanggungjawabkan Tombol 'Share' (Belajar dari Foto Selfie di Lokasi Bom Sarinah)


Mungkin terdengar, "Byuh, social media 'kan bisa jadi pencitraan. Jangan percaya apa yang ditulis orang di social media." Well, said, memang betul. Tapi bagi saya, itu hanya berlaku untuk seleb-seleb social media aja :)) Kalo orang biasa mah, gak gitu-gitu amat 'kali.

Social media bisa jadi pintu pertama yang mengesankan atau justru membuat seseorang garuk-garuk kepala. Beberapa calon rekrutmen pernah CV-nya langsung saya masukkan ke 'trash' karena:
  1. Gak pakai subject e-mail (jangan dianggap remeh ya, sehari kita-kita bisa terima ratusan e-mail. E-mail tanpa subject jelas sama artinya kamu ngasih tahu kita 'Ini gak penting kok, jadi gak usah dibaca' :p)
  2. Gak ada cover letter (alasannya hampir sama dengan poin nomor 1)
  3. CV-nya gak mengesankan (Hey, this is your chance to sell out your capability. Impress us~)
  4. Isi timeline social media-nya 'ngeri'.
Berhubungan dengan nomor 4, saya pernah dan cukup banyak nemu yang model-model selalu marah-marah di social media. Entah siapa yang jadi obyek sasaran amarahnya. Setimeline isinya cursing anyone dengan kata-kata yang 'aduhai' sampai pengen elus dada ... dadanya Ashton Kutcher *biar, aku mau milih dada yang anget kok*

Sebagai calon leadermu, sejujurnya hal seperti itu bikin aku jadi takut. Nanti kalau jadi timku, lalu ada sakit hati dikit, semua-semua diumbar di social media.  Segala ada masalah sama perusahaan, ditulis di social media. Mbok ya, kayak menelanjangi diri sendiri gak sih seperti itu, bermasalah sama perusahaan tapi masih cari makan di situ juga ... Nah, biasanya tipikal-tipikal CV seperti ini akan menerima 'delete' sesegera mungkin daripada bikin kemrungsung di kemudian hari.

Baca Juga: 
Let Your Resume Speaks About You: 3 Kesalahan Di Awal Mengirim Lamaran Pekerjaan


Bukan berarti memahami social media harus sekaku itu. Pastinya kita bisa membedakan kok mana yang intentionnya untuk becanda sama mana yang benar-benar memaki. Social media memang ngajangi ombo manusia modern untuk menumpahkan uneg-unegnya. Wong Twitter aja sampai sekarang dipercaya sebagai micro-blog alias micro-diary. Berarti sah-sah aja dong ngomel di social media? Sah. Tapi kalau memang intentionmu punya akun social media adalah untuk bangun personal branding, better you think twice before your thumb click on 'post' button. Serius, ini saya kasih tahu banget-banget-banget ya, karena mungkin lebih banyak HRD-HRD dan manager-manager yang lebih kejam daripada eks-leader seperti saya di luar sana. Lihat kamu typo satu huruf aja, langsung buang CV :)) *gak segitunya juga sih*

Saya pun juga gadis pada umumnya, yang terkadang kalau labil pengen nyampah di social media. Tapi jadikan ungkapan hatimu, kekecewaanmu, kemarahanmu di social media menjadi lebih elegan. Misalnya dijadikan picquote atau pakai kata-kata puitis. Istilah saya adalah "sambat elegan". Kekesalan tercurahkan, hati lega, syukur dapet banyak retweetan biar Klout-mu naik, impression tinggi, akunmu dapat banyak like, dijual ke brand atau agency bisa tuh jadi influencer :)) 

Eh, brand atau agency juga males lho kalau mau meminang akun-akun personal yang suka marah-marah norak di social media, apalagi marahin brand atau agencynya hahaha ...

Baca Juga:
Tentang Pilpres, Unfriend Dan Teman di Dunia Nyata


Setiap sesi kelas etika social media yang saya bawakan di depan umum, terlebih di depan pelajar dan mahasiswa, ada satu poin penting yang saya tekankan. Seorang penyair bernama Edward-Bulwer Lyton pernah bilang, "The pen is mightier than the sword." Alias kata-kata lebih tajam daripada pedang. Di zaman serba digital dan semuanya terekam secara visual, baik itu teks atau video, memang ada betulnya. Jangan sampai 'pedang' itu melukai orang lain, lebih-lebih mencelakakan dirimu sendiri tanpa kamu sadari.

 Akan berlanjut ke part berikutnya :)

Oh ya, saya terkadang menulis tentang social media under label 'social media'. Monggo kalau mau ngintip. Will be updated regularly .... Niatnya sih begitu hehehe :B
Hitung-hitung mengenang masa kejayaan saat masih bergelut di dunia social media dan masih sering sharing tentang socmed kepada khalayak ramai :p 

*Image taken from kaboompics.com 

You Might Also Like

21 comment

The Words is Mightier Than The Swords" - Edward Lynn-Button
Tinggalkan jejak yang baik, no spamming, junk, dan tinggalkan nama ;)

Popular Posts

Blog Archive

Google+ Followers

Part of

Warung Blogger
Blogger Perempuan

Voucher Diskon 15% Zalora Indonesia

Voucher Diskon 15% Zalora Indonesia
Diskon 15% Zalora Indonesia