Kenapa Kita Jadi Makhluk Yang Insensitif dan Intoleran?

4:04:00 PM

Kisah pertama

MESIN ATM INI PUNYAKU!

Beberapa hari yang lalu, saya dan dua teman pergi ke salah satu mall. Kami bertiga sama-sama kehabisan uang cash dan memutuskan ambil duit dulu ke ATM. ATM lagi sepi, cuma kami bertiga dan aku duluan yang ambil uang karena kedua temanku itu, Mbak Rita dan Kak Wilda masih menelepon.

Setelah aku selesai ambil uang, di belakang sudah ada satu orang perempuan yang mengantri. Di belakangnya, temanku Kak Wilda yang berdiri. Saya asyik main HP sih, ketika saya menyadari, "Buset, lama amat ambil duitnya." Eh, ternyata perempuan di depan Kak Wilda gak kunjung selesai bertransaksi.

Udahlah, muka Kak Wilda dan orang-orang di belakangnya bete semua. Saya pun jadi ikutan capek berdiri nungguin. Deretan orang segitu banyak, cuma kode-kodean mata aja. Sementara, Mbaknya masih tetap keukeuh tanpa perasaan bersalah terus bertransaksi. Yep, bisa ditebak lah, dia lagi transfer ke banyak rekening. Nggak ngerasa di belakang yang menunggu sampai ada 5 orang.

Ketika dia mau pencet itu tombol transfer lagi, saya datangi dia, "Mbak, mau transfer lagi ya? Gimana kalau udahan dulu, Mbak? Di belakang Mbak banyak yang menunggu lho. Kalau mau ya ditunggu sampai ini urusan orang banyak selesai, ATM-nya sepi, baru transfer lagi." Kira-kira kalau ditunggu perpanjangan kata-kataku sih, segitu panjangnya. Tapi belum selesai ngomong, si Mbaknya sewot, narik kartu ATM-nya dan bilang, "SUDAH SELESAI KOK!".

Lha. Kok jadi aku disewotin. Hahaha. Saya balas lah, "Lha kalo saya gak negur, Mbaknya pasti gak selesai-selesai 'kan?" Padahal kelihatan jelas, kalau nggak ditegur dia bakal tetap terus menguasai ATM itu deh.

Ya memang ga ada sih larangan buat mentransfer uang buanyaaaaaaak di ATM. Tapi mbok ya, respect sama orang-orang yang di belakangnya, yang menantimu lama, Mbak. Hanya untuk urusanmu. Mbok ya o, apply buat dapat token KeyBCA gitu 'kan enak buat transfer-transfer dari smartphone.
----------------------
Kisah kedua

AMBULANS

Pulang pergi kantor setiap hari, saya biasa melewati belakang RSSA Malang. Itu jalur yang biasa dilewati oleh ambulans dan mobil jenazah. Dari jalan Belakang RSU itu, keluarnya pertigaan Pasar Bunga Splendid. Di sana lalu lintas ramai sekali dan seringnya banyak yang gak mau ngalah.

Mungkin saya salah satu orang yang gak mau ngalah sih kadang-kadang. Tapi beda ceritanya beberapa minggu yang lalu saya kesal sekali. Karena mobil ambulans yang di depan saya, gak dikasih jalan sama sekali sama pengendara mobil dan motor dari arah Jembatan Kahuripan. Ada 'kali ya 2-3 menitan, mobil ambulans ini kelihatan galau antara mau menerobos laju kendaraan yang mengarus tiada henti atau menunggu arus sampai sedikit reda. Memang hari itu padat banget sih, banyak acara di jalan-jalan besar di Kota Malang.

Di mana-mana, setahu saya mobil ambulans dan mobil jenazah harus didahulukan. Itu bawa orang sakit yang urgent atau at least, ada orang sakit di suatu tempat yang menanti untuk diangkut ambulans. Pun juga mobil jenazah, ada jasad yang harus dibawa ke tempat peristirahatan terakhirnya.

Bapak-bapak pengendara motor di samping saya tiba-tiba menerobos dan mengklakson panjang, berusaha menghentikan arus kendaraan. Saya pun ikutan mengklakson panjang dan akhirnya ambulans bisa memecah arus sejenak untuk mengambil jalan ke arah berlawanan. Akibatnya? Iya, saya dan bapak pengendara motor dipisuhi sama dedek-dedek gemes yang merasa jalannya 'dihambat' oleh ambulans dan kami berdua.

Entah mungkin saya terlalu nyinyir ya. Tapi akhir-akhir ini saya sering kaget sama yang terjadi di sekitar saya. Insensitif dan intoleran. Ah, entahlah. Saya menulis blogpost ini sebagai pengingat. Semoga suatu hari kalau kelakuan saya fals, kalian mau ngingetin ya :') 

Pertanyaan saya:

"Kenapa Kita Jadi Makhluk Yang Insensitif dan Intoleran?"

Ini pertanyaan lho, saya juga gak tau jawabannya :')
Smurf, intoleran, intoleransi, insensitif, ambulans, keyBCA, e-banking
Terlalu banyak Smurf yang membuatku Smurf akhir-akhir ini | Image taken by Winda Carmelita

You Might Also Like

20 comment

  1. karena kita merasa ketika kita toleran orang lain memanfaatkan kebaikan kita... itu yg gue pelajarin dari kerasnya perjuangan naik bus :)))))

    ReplyDelete
  2. Soal ATM ini sering banget aku nemuin dan yagitu, kalau nggak ditegur mereka gak kelar - kelar eh pas ditegur malah lebih ngomel. Kan ngeselin banget ya :(

    ReplyDelete
  3. Postingannya jleb banget Mba :(
    Isi hatiku juga sih ini. Dan lagi, kok pelakunya banyakan anak-anak atau remaja gitu ya? Meski orangtua juga banyak sih T_T
    Hal ini jadi PR banget buat seorang ibu kayak aku. Gimana mengajarkan dan paling pentih mencontohkan sensitifitas dan empati ke anak-anak.

    ReplyDelete
  4. Ktika kita memudahkn jln orang lain suatu saat kita akn lbh d mudahkan ^^ #prinsip

    ReplyDelete
  5. Makjleeeb bgt nih..sadar tidak sadar kadang kita ga peka sama kondisi orang lain dan lebih mementingkan ego. Harus instropeksi diri lagi ni

    ReplyDelete
  6. Ya manusia kadang begitu ya, emosi masih didahulukan. Lebih banyak intropeksi diri lagi .

    Makasih dah reminder..

    ReplyDelete
  7. Tp pernah gini mbak, ada ambulans pakai sirine dikasih jalan eh ternyata mampir rumah makan. Si sopir memanfaatkan kelebihan ambulans utk menerobos lalin pdhal lagi nggak urgent. Ah tapi kalaupun kita sdh kasih jalan idealnya ngga sewot sih ya mbak...kan brarti kita uda baik n si sopir ambulans mgkin urgent kelaparan :)

    ReplyDelete
  8. Tp pernah gini mbak, ada ambulans pakai sirine dikasih jalan eh ternyata mampir rumah makan. Si sopir memanfaatkan kelebihan ambulans utk menerobos lalin pdhal lagi nggak urgent. Ah tapi kalaupun kita sdh kasih jalan idealnya ngga sewot sih ya mbak...kan brarti kita uda baik n si sopir ambulans mgkin urgent kelaparan :)

    ReplyDelete
  9. ya ampuuun..gitu bangeet ya win..tapi baca kisahmu memang sepertinya begitulah kondisi sekarang yaaa

    ReplyDelete
  10. PR bangsa ini ya mba. Kepekaan mulai hilang. Miudah2n bs kita mulai dr diri kita dulu, mulai dr hal yg paling kecil dan mulai saat ini. Smg bs menjadi teladan bagi anak2 dan org lain

    ReplyDelete
  11. yang ATM itu aku bolak balik nemuin.

    ReplyDelete
  12. Aku juga kadang merasa nggak enak kalau di belakang ATM banyak yang ngantri. Kadang ikut ngantri dua kali. Hihiii

    ReplyDelete
  13. iya ya kalo transfer sebenernya kan enakan online aja ya daripada di atm...

    ReplyDelete
  14. Kali... yg transfer..buat ngasih fee blogher...he2...

    Aku kadang suka risih kalo ditungguin di atm ama yg ngantri... makanya nunggu sedikit sepi dulu..

    ReplyDelete
  15. Pernah tu ngantri di belakang org mainan ATM lama bener, pdhl dah dikasi kode batuk2 dll. Hedeh. Pakai ATM emang ada etikanya ya, sayang gak semua org peduli

    ReplyDelete
  16. Sedih. Miris. Kesal.
    Itu perasaanku kalo pas nemuin kejadian kayak gitu. Tapi kalo udah kebangetan ya harus ada tindakan sih. Biar ngeh.

    ReplyDelete
  17. Soal yang di ATM itu beberapa kali saya nemuin, kadang saya berdeham-deham gitu di belakangnya. Bila tidak paham juga, terpaksa bilang, "Mohon maaf, bisa bergantian." Sungguh, betapa penting untuk memahami "sekitar" ya, Mbak.

    ReplyDelete
  18. 'We are what we eat', kata orang sono. Mungkin karena apa yang kita makan (termasuk 'konsumsi visual'—seperti TV dan bacaan) begitu, ya lama-lama jadi begitulah kita.

    Eh tapi iki aku ora ngerti ding.. :)

    ReplyDelete
  19. kasihan juga tuh mungkin kalo gak di klakson nin, gak bisa jalan tuh ambulancenya

    ReplyDelete
  20. Aku baru nemu Hari Sabtu kemarin, Mbak. Naik KRL, penuuuh pake buaaaangeeeeet. Dan kebetulan tuh, banyak ibu-ibu bawa balita. Daaan, reflek dong ya, aku dan penumpang KRL mencarikan tempat duduk dan sasarannya adalah orang muda. Pas kebetulan tuh, ada orang muda yang sedang main hape. UDah ditegor dua sampai tiga kali kagak ngeh. Tahu-tahunya mulut si orang ini dibikin cemberut, trus nutup hape dengan keras, bangun tapi tetep menghalangi kursi kosong itu. Laaah? cemberut mulu gak geser gak apa, ya orang jengkel ya, lalu digeser tu badan orang itu. Aku ngelihatnya ngelus dada, euy. Jadi panjang komen aku ;)

    ReplyDelete

The Words is Mightier Than The Swords" - Edward Lynn-Button
Tinggalkan jejak yang baik, no spamming, junk, dan tinggalkan nama ;)

Popular Posts

Blog Archive

Google+ Followers

Part of

Warung Blogger
Blogger Perempuan

Voucher Diskon 15% Zalora Indonesia

Voucher Diskon 15% Zalora Indonesia
Diskon 15% Zalora Indonesia