Saturday, December 31, 2016

After Office Talks: Rejeki Ibukota

Kemarin lusa, secara impulsif saya mengajak teman saya, Dana, buat menikmati senja. Sesuatu yang sebetulnya jarang terjadi karena biasanya kami bertemu cuma untuk cengengesan, ngobrol-ngobrol di teras rumah teman kami atau recording.

Sore itu kami bertemu dengan secangkir kopi, segelas milkshake, kentang goreng, dan berpuluh puntung rokok. Tentu jika kombinasinya seperti itu, ada obrolan yang menguras pikiran. Saya, terutama, sedang dilanda kegalauan luar biasa menyoal apa yang sedang saya rencanakan. Gambaran besarnya sudah dirancang, tapi tiba-tiba di sekitarnya rayap menggerogoti kanvasnya. Sementara hingga saat ini saya tidak punya amunisi yang tepat agar rayapnya pergi, tanpa tersakiti dan kanvas tempat saya menuangkan gambaran besarnya tetap bisa diselamatkan.

Masing-masing orang punya tujuan dan cara hidup yang berbeda-beda. Ada yang sederhana, pokoknya bisa hidup dan puas dengan yang sudah dicapainya. Ada yang mengisi gelas kehidupannya dengan berbagai keinginan, pencapaian, agar lebih hidup. Ada juga golongan yang merasa “Membangun mimpi …. orang lain itu melelahkan, Jendral!”.

Obrolan senja itu sebetulnya bukan kali pertama karena beberapa hari sebelumnya dan beberapa hari setelahnya saya juga bertukar pikiran dengan teman-teman saya. Ada yang berpendapat, kita harus tetap di sini, ke manapun kamu pergi dan berkarya, kembalilah ke kotamu sendiri. Ada yang berpendapat, bertahanlah sambil merajut benangmu sendiri. Ada jendela-jendela yang berhasil diminyaki dengan obrolan-obrolan itu. Tetapi pintunya, yang paling utama, masih belum saja berani kubuka. Padahal kuncinya saya yang pegang, meski disimpan oleh orang terdekat saya.

Saat banyak orang bicara soal idealisme, bagaimana industri saat ini dikendalikan oleh kaum kapitalis, yang terjadi pada saya (dan banyak orang yang punya kisah tak jauh berbeda) adalah lebih mendasar. Kami tak mampu ke mana-mana karena kuncian kondisi, (terpaksa) bertahan adalah pilihan yang bahkan tak bisa (dan tak mau) dipilih.

Hard to leave ... | image taken from pexels.com

Empat kali, yang saya ingat. Mungkin akan menjadi yang kelima kali. Itu yang kuingat, dan banyak yang tidak ingin kuingat. Entah, sampai kadang saya merasa gak perlu lah bermimpi, toh sebetulnya saya tahu itu bakal menyakiti hati sendiri. Sudah jalani saja hari-harimu seperti biasanya meski sudah lelah mampus.

“Pengennya sih rejeki ibukota, meskipun tinggalnya di desa,” kata saya pada Dana, mengakhiri sesi obrolan sore itu. Sebelum akhirnya kami berpindah membahas topik lain yang sama menikamnya, “Mengapa menikah beda agama itu ruwet?”

Read this on my Tumblr

5 comments:

  1. kayaknya ini pertama kali aku mampir diblogmu, mba. biasanya orang blogwalking-an trus kopdar. kalo kita, kopdar duluan, baru nyangkut ke blognya.

    jadi inget pernah ngobrol serupa ttg ini bersama seorang teman dekat, di bawah pohon talok. syahdu, tapi miris. 2 orang yg terpaksa menghentikan langkah mimpinya. dan menyadari perlahan-lahan mulai menjadi 'orang biasa' di kota yg konon nyaman ini. ah terlalu nyaman.

    ReplyDelete
  2. Aku juga baru mampir di blog ini..
    Pembicaraan yg lumayan rumit ya Mbak.
    Salam kenal dariku :)
    Perjuangan belum usai, salam :)

    ReplyDelete
  3. I kinda love the way you describe your anxiety mbaa..

    salam kenal :)

    ReplyDelete
  4. ngobrolin kegelisahan bareng partner yg tepat, semacam menemukan blessing in disguise yah :)

    ReplyDelete
  5. Obrolan ini juga pernah aku bahas sm seseorang yang akhirnya memang kita ditakdirkan tidak bisa bersama. Yaaa memang yang namanya rezeki uda diatur sama Tuhan. Tetaplah bermimpi dan work smart yaaa

    www.extraodiary.com

    ReplyDelete

"The Words is Mightier Than The Swords" - Edward Lynn-Button
Tinggalkan jejak yang baik, no spamming, junk, dan tinggalkan nama ;)