Bisa Memasak, "Kewajiban" Perempuan, Laki-Laki Atau ... ?

1:30:00 PM

Entah siapa yang pertama kali memunculkan, sepengetahuan saya sih konsep budaya-budaya patriarki, menganggap sudah "kodrat"nya perempuan itu berada di dapur untuk menyiapkan makanan untuk keluarganya. Sementara laki-laki berada di luar rumah untuk bekerja dan kembali ke rumah untuk "dilayani". Well, saya gak lagi mau bahas tentang konsep patriarki saat ini, tapi saya mau bahas soal ...
A: "Nanti kalau menikah, perempuan itu kudu pinter masak."
B: "Lho siapa bilang? Bisa memasak itu bukan kodrat lho, beda sama melahirkan yang cuma bisa 'dilakukan' perempuan. Itu baru namanya kodrat. Memasak itu life-skill, semestinya dimiliki setiap orang."
A: "Tapi 'kan perempuan itu sudah dibagi tugasnya buat ada di dapur."
B: "Gini aja biar enak, perempuan masak, laki-lakinya cuci piring. Terus Gantian. Gitu 'kan enak."
Pembicaraan ini pernah alami dan berakhir dengan teman saya yang cuma manggut-manggut, entah paham atau malas ribut.

Sebetulnya, saya gak mahir memasak karena jarang masuk ke dapur. Mungkin juga karena Mama saya yang sangat jago masak itu jadi khawatir kalau saya masuk dapur bakal menciptakan suatu ke-chaos-an yang masif, seperti di video klipnya Rage Against The Machine. Padahal nggak segitunya juga sih hehehe ... Tapi saya akui, karena jarang masuk dapur ini, saya suka panik-panik sendiri terhadap sesuatu. Misalnya pas minyak udah panas, tapi bahan belum siap. Harusnya memasak 'kan disiapkan semuanya dulu, baru dieksekusi bertahap.

Kekhawatiran Mama saya juga beralasan sih, kadang saya suka menggunakan cara saya sendiri buat meramu menu-menu masakan yang bahkan saya gak pernah tahu dasarnya. Misalnya nih, mau masak ayam Hainan, padahal saya gak tahu caranya bikin kaldu ayam yang benar hahahaha *toyor kepala sendiri. Meski hasil akhirnya tetap enak dan bisa dimasak, tapi gak semua masakan bisa diperlakukan seperti itu 'kan? Apalagi untuk kasus bikin kue. Sekali salah step, bubar tuh kuenya.

Berulang kali saya dikasih tahu, "Lihat resep dulu kalau belum jago. Jangan niru Mama, Mama sudah puluhan tahun masak jadi bisa kira-kira. Lha kamu ... " Jadilah, hobi saya pun bertambah satu, yaitu menjelajah aneka resep masakan yang ada di internet. Seperti Resep Koki yang menyimpan buanyaaak banget resep masakan dunia dan lokal. Biasanya kalau baca-baca resep di Resep Koki, yang cocok dan pengen saya praktekkan, langsung saya saved di Pocket. Tapi ya kadang gak sempat sih buat ngecekin ada resep-resep baru apa yang barangkali bisa dipraktekkan di dapur minggu ini, so fitur newsletter-nya Resep Koki jadi andalan deh. Langsung masuk e-mail tiap 2-3 kali seminggu. Fitur seperti ini berguna banget lho, apalagi buat orang-orang yang bingung mau masak apa tiap harinya. Yah, maklumlah kita 'kan sosyelet kelas akar rumput yang sibuk menggali berlian :p

resep masakan, resep koki, resep masakan indonesia, resep kue, resepkoki, resep kue, resep ayam, resep cake, resep masakan gampang, resep masakan rumahan, resep sambal, sambal matah, resep nasi hainan, resep ayam bakar, resep anak kos
Contoh masakan sukses ala Winda, Chocolate Beer Cake | Image taken by Winda Carmelita

 Sejak tertarik sama dunia masak-memasak, jadi gampang tergoda buat beli-beli perabotan rumah dan perabotan dapur. Misalnya, ngelihat shop-nya Resep Koki, jadi pengen melengkapi koleksi wadah-wadah penyimpanan makanan yang warnanya nyentrong-nyentrong gitu. Hehehe .. Biasalah pembelian impulsif itu memang melenakan hahahhaa ... 

resep masakan, resep koki, resep masakan indonesia, resep kue, resepkoki, resep kue, resep ayam, resep cake, resep masakan gampang, resep masakan rumahan, resep sambal, sambal matah, resep nasi hainan, resep ayam bakar, resep anak kos
Chicken Honey Thyme Marinated with Sambal Matah | Image taken by Winda Carmelita
Memasak saat ini bukan jadi hal yang setiap hari saya lakukan. Tapi kalau ada waktu kosong, pas weekend, kalau kamu mencari saya dan gak ada kabarnya, bisa dipastikan saya lagi usrek sendiri di dapur. Biasanya sih masakan yang saya buat lebih ke arah masakan Western, karena entah mengapa belum berjodoh sama masakan Nusantara kecuali urusan nyambel dan goreng tempe hehehe ...

Jadi, menurut saya, bisa memasak itu salah satu bagian dari life-skill. Bukan cuma perempuan aja yang "diwajibkan" untuk bisa memasak. Ya semua orang setidaknya mau mencoba memasak. Sesederhana bisa bikin telur ceplok. Toh chef-chef jagoan juga banyak yang laki-laki 'kan.

Kata Mama saya, masak itu ilmu katon, alias ilmu yang bisa dilihat. Kalau kurang asin, ya tambahin garam. Keasinan, ya ditambah air atau diakalin pakai bahan yang bisa menyerap rasa asinnya, dst dst ... Perihal mengasah keseimbangan rasa, pasti butuh banyak latihan, seperti awal kita belajar menulis. Kalau hari ini belum mahir masak, gak papa, kan masih bisa belajar terus :D

Kalau menurutmu, gimana?

You Might Also Like

12 comment

The Words is Mightier Than The Swords" - Edward Lynn-Button
Tinggalkan jejak yang baik, no spamming, junk, dan tinggalkan nama ;)

Popular Posts

Blog Archive

Google+ Followers

Part of

Warung Blogger
Blogger Perempuan

Voucher Diskon 15% Zalora Indonesia

Voucher Diskon 15% Zalora Indonesia
Diskon 15% Zalora Indonesia