Pekerjaan Generasi Milenial Itu 'Gak Jelas'

10:10:00 PM

Ngitung utang negara :))
Beberapa hari yang lalu, saya nemu satu artikel yang menarik. Soal pekerjaan. Artikel ini ditulis sama nbcnews.com tentang 5 pekerjaan milenial yang gak bakal dipahami sama orang tua. Lima pekerjaan itu adalah:

  • Social media manager
  • Content marketer (termasuk di dalamnya pekerjaan menjadi penulis website dan atau jasa penulis artikel SEO)
  • Community manager
  • Digital influencer
  • Mobile app developer
Kalau saya boleh nambahin satu lagi, drone pilot 

 Di artikel itu sedikit disenggol juga soal tanggapan orang-orang yang mendengar anaknya mengerjakan hal-hal di atas itu dengan "Itu namanya bukan kerja," atau "Hah? Itu apaan?" (kemudian dijelasin sampai berbusa-busa juga nggak paham :|)

Saat saya membaca tulisan itu, lagi rame-ramenya pendaftaran CPNS. Cocok! Di timeline Twitter saya mengarus deras curhatan teman-teman yang didorong sama keluarga dan orang-orang terdekatnya buat daftar menjadi PNS. Alasan para orang tua ini sebetulnya nggak salah kok. Masih kuat bercokol anggapan kalau menjadi PNS itu masa depan dan masa pensiun lebih terjamin. Nggak ada orang tua yang nggak pengen anak yang dicintainya hidup dengan mapan dan berkecukupan sampai hari tua :)

Saya pernah mengalami juga kok. Didorong-dorong untuk mencoba tes CPNS. Tapi ... bukan oleh orang tua saya. Malah oleh beberapa teman yang sempat merasa 'prihatin' dengan pekerjaan saya di media yang menurut mereka 'kurang'. Ya bagi mereka yang lingkungan sekitarnya telah terbiasa dengan pekerjaan-pekerjaan era Orde Baru (*halah, bahasamu Wind), pekerjaan dunia kreatif memang terdengar kurang seksi apalagi jika dibawa untuk propose ke calon mertua hahahaha ... 

Sementara beberapa teman menyarankan saya mencoba menjadi PNS yang mana kok saya sendiri ini embuh sebenarnya pekerjaan jadi PNS itu apa bedanya sama pekerjaan kami-kami di swasta selain karena perihal tunjangan, orang tua saya nggak pernah ambil pusing sama pekerjaan saya. Sepanjang yang saya ingat, orang tua saya cuma 'nggandholi' saya perkara lokasi kerja saja. Soal pekerjaan apa yang saya lakoni, mereka menyerahkan sepenuhnya. "Mama-Papa ini cuma mengarahkan, tapi kamu yang memutuskan. Yang menjalani hidup 'kan kamu. Nanti kalau ada keblusuknya, ya kamu yang bertanggung jawab sendiri."

Tapi kemudian ketika ditanya apakah orang tua saya tahu sebenar-benarnya kerjaan saya kayak gimana? Yo ndak tauuuuuuu~ Awal-awal bekerja jadi social media admin tahun 2012 itu, orang tua saya tentu sangat asing sama kerjaan fesbukan, Twitteran terus itu. Tapi mereka pun akhirnya paham setelah saya tunjukin kerjanya gini, dapat uangnya kantor dari situ. Sebenarnya mereka juga nggak rese' gimana gimana sih, cuma murni penasaran aja secara teknis.

Pekerjaan menjadi content writer lebih mudah dipahami oleh orang tua saya. Tapi kadang mereka juga 'mengeluh' karena kalau ditanya teman-teman dan saudaranya, bingung jawabnya gimana. "Udah, dijawab aja reporter, wartawan." Case closed. Semua orang rasanya pasti sudah akan dapat gambaran kerjaannya reporter itu gimana 'kan ...

Dulunya saya pernah berpikir bahwa dengan punya pekerjaan yang prestisius, orang tua saya pasti bakal bahagia dan bangga. Tapi semakin ke sini, saya akhirnya paham, standar kebahagiaan orang tua saya (apalagi sekarang cuma tinggal Mama) adalah melihat saya bahagia, melalui cara apapun dan bagaimanapun. Walau kebahagiaan saya adalah dengan bekerja bangun subuh tidur dini hari, "Pokoknya jangan marah-marah melulu di rumah", "masih bisa ngopi-makan enak-jalan jalan-nonton konser." Gitu standar kebahagiaan Mama saya ~ (Btw ini akurat lho, nggak ngarang, silakan ditanya sendiri hahahaha).

Sebagai generasi milenial, yang sering dituduh generasi pemalas, saya justru merasa sangat beruntung dan terbantu dengan kemudahan teknologi, fleksibilitas waktu dan tempat bekerja serta banyaknya lapangan pekerjaan. Semestinya pekerjaan-pekerjaan 'baru' seperti ini nggak perlu dinyinyirin lho. Karena justru memperluas kesempatan kerja dan pastinya mengurangi pengangguran. Dari tipikal pekerjaannya, menurut saya pekerjaan generasi milenial ini lebih menitik beratkan ke pengalaman daripada ijazah. Berbeda sama requirement pekerjaan-pekerjaan 20 tahunan yang lalu yang lebih mengutamakan ijazah formal. 

Jadi~ buat semuanya, apapun pekerjaan yang dilakoni temanmu atau saudaramu, doakan lah supaya mereka bisa berkembang, kerasan, nyaman dan senang dengan pekerjaannya. Seiring dengan itu, doakan supaya pekerjaannya membuahkan hasil yang walau gak banyak, paling gak bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Jangan mengecilkan pekerjaan orang lain, itu sih yang lebih penting. Selama pekerjaannya halal dan yang ngejalanin senang :D

You Might Also Like

2 comment

  1. ortu sama mertua gua juga gak pernah ngerti kerjaan gua apaan. bidang IT selalu mikirnya gua tuh ngerti hardware. jadi kalo mereka ada komputernya rusak tanya gua dan gua jawab gua juga gak ngerti. tambah bingung lah mereka kok gua kerja di IT tapi gak ngerti benerin komputer. :P

    ReplyDelete
  2. ketika aku bilang kerjaku jadi blogger dan dikira para bude sebagai tukang blokir website negatif..rrr
    tapi kerjaan jaman sekarang memang lebih enak, bisa dimana aja. nggak perlu mikirin office look xD (freelancer nih saya ceritanya)

    ReplyDelete

"The Words is Mightier Than The Swords" - Edward Lynn-Button
Tinggalkan jejak yang baik, no spamming, junk, dan tinggalkan nama ;)

Popular Posts

Blog Archive

Google+ Followers

Part of

Warung Blogger
Blogger Perempuan

Voucher Diskon 15% Zalora Indonesia

Voucher Diskon 15% Zalora Indonesia
Diskon 15% Zalora Indonesia