Jelajah Kotagede #1: Legitnya Kipo dan Segarnya Jamu Warisan Keluarga di Pasar Legi Kotagede

8:35:00 AM

Walking tour Kotagede bersama Jogja Good Guide | Image taken by Winda Carmelita

Jarum jam menunjukkan ke angka 08.30 ketika Gojek yang mengantarkan saya, sampai di pelataran pasar. Pasar Legi Kotagede. Pasar yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya, pun wilayah yang sangat asing buat saya.

"Mas, saya sudah di Pasar Kotagede ya," saya mengirimkan pesan itu melalui Whatsapp kepada Mas Rangga. Hari Sabtu minggu yang lalu, saya sudah bertekad bulat menghabiskan satu hari tersisa saya di Jogja untuk napak tilas Kotagede bersama Jogja Good Guide. Suatu hal spontan yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya.

Tak lama kemudian, balasan pun datang. Mas Rangga adalah pemandu dari Jogja Good Guide yang akan menemani berkeliling hari ini. Sembari menunggu peserta walking tour lainnya, saya pun berkenalan dengan beberapa peserta lainnya. Ternyata saya nggak sendiri, ada juga peserta lain yang benar-benar jalan sendiri seperti saya hahahah ... Namanya Mbak Hani dari Bojonegoro. Kemudian ada juga Mbak Pinka bersama suami dan anak perempuannya, dari Palembang.

Peserta walking tour pun sudah komplit sekitar jam 09.00. Menariknya, peserta hari itu cukup banyak, sekitar 15 orang dari berbagai negara. Anak-anak pun juga ikut. Rute perjalanan pun dijelaskan oleh Mas Rangga, bahwa rute Kotagede hari ini dimulai dari Pasar Gede dan akan berakhir sekitar 500 m dari pasar. Rute akan dijelajahi selama kurang lebih 4 jam.

kipo pasar kotagede
Kipo | Image taken by Winda Carmelita

Perjalanan pun dimulai dengan menyantap KIPO. Saya nggak pernah tahu sebelumnya bahwa di Jogja ada makanan bernama kipo. Bungkusan berwarna hijau diangsurkan oleh Mas Rangga dan ketika saya buka, "Lho kayak klepon." Jadi, kipo adalah camilan dari tepung beras yang diberi pewarna hija dengan isian gula merah kemudian dipanggang/digoreng. Bedanya sama klepon, isian gula merahnya tidak lumer, tapi masih berbutir-butir dan tidak ada kelapa parut yang ditaburkan di atasnya. Rasanya legit, manis. Enak kok.

Konon nama kipo itu berasal dari "iKI oPO?" Hahahaha ... Sederhana tapi kreatif ya, ketimbang bingung cari nama dong. 
Setelah makan kipo, kami diajak masuk ke Pasar Legi Kotagede. Pasar Legi Kotagede, atau biasa disebut Pasar Kotagede ini adalah pasar tertua di Jogja lho. Sudah ada sejak abad ke-16, di masa kerajaan Mataram Islam dan masih terus beroperasi hingga saat ini. Bukan hanya sebagai tempat transaksi jual-beli saja, tapi Sargede ini juga jadi cagar budaya. Nggak heran kalau ketika menginjakkan kaki di sini, nuansa kearifan budaya Jawa dan kesederhanaanya masih sangat kental.

Jajanan tradisional di sepanjang lorong | Image taken by Winda Carmelita
Pasar Legi Kotagede ini padat sekali, dengan lorong-lorong yang tidak terlalu besar. Penjual telur asin, ikan bandeng dan jajanan-jajanan tradisional memenuhi jalan. Meskipun begitu, pasar Kotagede terbilang rapi dan bersih lho. Di bagian dalam pasar, saya tidak melihat adanya becekan maupun aroma yang menggangu. Padat, tapi teratur.

Jajanan pasar | Image taken by Winda Carmelita

Kami diajak berhenti di penjual jajan pasar, mencicipi getuk. Beda sama di Malang ya, jajan pasar di Malang 'kan isinya cenil, lupis, bledhus/gronthol, putu ... Kalau di pasar ini, ada getuknya, ketan, dll. Ini nih yang bikin saya senang blusukan ke pasar-pasar tradisional karena tiap pasar pasti punya ciri khas panganannya sendiri, yang meskipun namanya sama pasti citarasanya beda.

pasar legi kotagede
Jamu asli dan segar, diracik di depan pembeli | Image taken by Winda Carmelita
Perjalanan dilanjutkan menuju ke lapak penjual jamu. Penjual jamu di pasar Kotagede ini bukan penjual jamu yang tiba-tiba muncul, melainkan mereka adalah orang-orang yang secara turun-temurun secara kekeluargaan meracik jamu dan berjualan di sini. Bahkan sejak pasar Kotagede pertama kali dibangun, di zaman pemerintahan Panembahan Pasopati abad ke-16. Kebayang ya, bagaimana kearifan lokal ini diwariskan sejak beratus-ratus tahun silam.

Jamu yang dijual di sini, diracik langsung di depan pembelinya. Saya membeli jamu kunir asem. Mangkuk dari bathok kelapa pun diangsurkan. Lucu rasanya minum dari mangkuk bathok kelapa karena biasanya 'kan minum dari cangkir ya. Saya biasa banget minum jamu sejak kecil, jadi lidah sudah terbiasa. Tapi jamu yang sebelum-sebelumnya saya cicipi itu beda dengan yang ini. Di sini jamunya lebih kental, nggak terlalu banyak campuran airnya, jadi rasanya sangat asli. Setelah jamu kunir asem saya habiskan, ibu penjualnya kembali menangsurkan semagkuk jamu beras kencur. "Supaya nggak terlalu pahit Mbak," kata ibu penjualnya.

Kemudian saya jadi mikir, kalau generasi selanjutnya dari ibu-ibu penjual jamu ini tidak berminat melanjutkan jualan jamu seperti pendahulunya, siapa yang akan melanjutkan ya? :')


tingwe
Tingwe | Image taken by Winda Carmelita
Di samping penjual jamu, ada seorang ibu yang menjual tingwe. Tahu tingwe? Rokok/cerutu yang dilinting sendiri alias linting dhewe. Di Malang, saya nggak pernah lihat ada penjual rokok tingwe seperti ini. Kalau pun ada yang jual tingwe, tidak dijual di pasar. Ada banyak varian tembakau yang bisa dipilih, dari yang dijualnya per ons atau pun sudah per paket. Pengen nyoba sebenarnya, tapi karena waktu yang padat jadi tidak sempat.

Selembar uang lima ribuan saya berikan dan perjalanan pun kami lanjutkan. Masih ada banyak destinasi yang harus dijelajahi, yang membuat saya nggumun luar biasa karena menemukan rumah dengan tiga pintu dan terkesima akan teduhnya Perkampungan Alun-Alun.

Bersambung di postingan selanjutnya ...

You Might Also Like

4 comment

  1. Waaaa seruuu ternyata! Apakah rutin city tour gini? Jajanan pasarnya bikin ngiler :))

    ReplyDelete
  2. Baru tau yang namanya KIPO. Jajanan yang mirip ini aku pernah makan (nggak tau namanya), warna sama, isian pake gula merah + kelapa parut. Kalo KIPO ini isian dalemnya cuma gula merah aja ya?

    ReplyDelete
  3. wah, jadi kangen sama kipo. dulu saya langsung ngakak waktu pertama tau kalo kipo itu singkatan dari iki opo. hihhhihi

    ReplyDelete

The Words is Mightier Than The Swords" - Edward Lynn-Button
Tinggalkan jejak yang baik, no spamming, junk, dan tinggalkan nama ;)

Popular Posts

Blog Archive

Google+ Followers

Part of

Warung Blogger
Blogger Perempuan