Jelajah Kotagede #2: Teduhnya Kampung Alun-alun dan Mampir Ke Pabrik Cokelat Monggo

11:49:00 AM


kampung alun alun kotagede
Kampung Alun-alun RT 37 RW 09 | Image taken by Winda Carmelita
Jogja sedang terik-teriknya ketika saya melanjutkan perjalanan dari Pasar Legi Kotagede menjelajahi gang-gang kecil di sekitar pasar. Tepatnya kampung cagar budaya RT 37 RW 09 Kecamatan Purbayan, Kotagede. Di balik gang-gang inilah, tersimpan cerita Kotagede yang begitu bersejarah.

kampung alun alun kotagede
Bangunan yang terpengaruh gaya Belanda | Image taken by Winda Carmelita
Beberapa kali saya dan rombongan diajak berhenti di tengah-tengah gang dan mengamati sekitar. Jadi, di area ini dulunya area kerajaan Mataram Islam yang begitu agung dan sakral. Hanya bagian dari kerajaan yang boleh menempati daerah ini. Bangunan-bangunan di sini pun masih sangat terasa kental kemegahannya. Terpengaruh gaya arsitektur Belanda yang begitu mempengaruhi budaya masyarakat saat Hindia Belanda menjajah saat itu. Sayangnya ya, saat ini kondisi bangunan-bangunan cagar budaya ini sudah banyak yang tidak terawat.

Ada yang menarik saat saya menelusuri gang-gang ini, yaitu di setiap kusen rumah terdapat kertas seperti daftar iuran dan wadah plastik kecil. "Jimpitan" sebutannya. Ini adalah bagian dari sistem ronda masyarakat sekitar Kotagede. Jadi setiap hari pemilik rumah menaruh uang sebesar Rp 500 di jimpitan itu, yang kemudian akan diambil oleh petugas ronda malam hari. Uang jimpitan ini digunakan secara kolektif untuk membeli camilan dan minuman untuk menemani mereka yang bertugas ronda. Sounds nice, di kampung saya sudah nggak ada tradisi beginian hehehe ...

kampung alun alun kotagede
Jimpitan | Image taken by Winda Carmelita
Lepas dari sudut-sudut gang, kami disambut gapura warna putih. Di sinilah kampung cagar budaya yang dinamakan Perkampungan Alun-alun berada. Ketika menginjakkan kaki di sini, suasananya teduh dan sunyi sekali. Jadi ingat rumah Nenek saya di Oro-oro Dowo :') Saking sunyinya, konon motor pun kalau mau lewat di sini harus matikan mesin dan didorong.

kampung alun alun kotagede
Kampung alun-alun yang asri, teduh dan sunyi | Image taken by Winda Carmelita

kampung alun alun kotagede
Tiap sudut rumah, punya filosofinya | Image taken by Winda Carmelita
Di kampung yang dulunya jadi tempat punggawa atau prajurit Mataram ini banyak terdapat rumah-rumah tradisional yang dimiliki oleh satu keturunan trah keluarga *saya lupa namanya, maafkan. Tiap rumah punya desainnya tersendiri, yang didasari atas filosofi tertentu. Bukan asal mendesain rumah biar kelihatan bagus lho. Salah satu yang saya ingat adalah rumah dengan tiga pintu, yang masing-masing pintu punya peranannya sendiri. Misalnya, pintu tengah untuk jalan masuk tamu istimewa, sementara salah satu pintu samping untuk jalan masuk kerabat dan teman-teman dekat. Padahal, tiga pintu itu sebetulnya ya mengerucut pada tujuan yang sama. Memang kerasa banget bagaimana budaya Jawa saat itu mengutamakan soal strata sosial ya.

kampung alun alun kotagede rumah adat joglo
Rumah adat Joglo | Image taken by Winda Carmelita
Di dalam kampung ini juga kita bisa menemukan pendopo rumah Joglo yang masih berfungsi dengan baik. Ketika saya mengunjunginya, pendopo ini ditutup dan memang hanya dibuka untuk hajatan istimewa saja. Yang menarik, saya baru tahu kalau pendopo dibangun dengan empat fondasi utama yang dibangun simetris di tengah-tengah, dinamakan "Soko Guru". Soko guru ini tidak menancap ke tanah, tapi justru fondasi inilah yang dibangun pertama kali. Barulah pilar yang lain secara sejajar di bangun untuk memperkuat bangunan.

Perjalanan pun dilanjutkan. Pemberhentian selanjutnya adalah ke Pabrik Cokelat Monggo. Melintasi pekarangan rumah orang, jemuran baju, pegupon alias rumah burung dara, akhirnya rombongan pun sampai di pabrik perusahaan cokelat lokal khas Jogja yang legendaris ini. Cukup takjub juga saya, karena biasanya sebuah toko atau bisnis didirikan di lokasi yang ramai atau di pinggir jalan besar. Tetapi Cokelat Monggo ini justru di tengah perkampungan.

Di tengah perkampungan, ada pabrik cokelat! Berasa Willy Wonka | Image taken by Winda Carmelita

pabrik cokelat monggo kotagede
Nyaman banget di sini, pengen berlama-lama karena sejuk | Image taken by Winda Carmelita
Di lokasi ini, terdapat toko yang juga jadi satu dengan pabriknya. Kita bisa melihat proses pembuatan cokelat yang hanya dibatasi dinding kaca. Para pekerja di sini, kerjanya super cepat, seperti berlomba-lomba dengan mesin deh.

pabrik cokelat monggo kotagede
Bisa lihat aktivitas pembuatan cokelat dari balik dinding kaca | Image taken by Winda Carmelita
Balik lagi ke tokonya, di showroomnya ini banyak sekali varian cokelatnya. Saya biasanya hanya tahu cokelat Monggo yang batangan dengan bungkus kertas coklat bergambar semar. Begitu intip langsung di pabrik sekaligus tokonya, wuih, ternyata lebih beragam. Bahkan ada varian sea salt juga. Selain cokelat batangan, di sini pengunjung juga bisa pilih cokelat pralin secara satuan kemudian diwrap cantik banget pakai boks. Atau juga ada pilihan cokelat boks yang tematik. Kalau nggak salah hitung sih ya, harga cokelat di pabrik ini lebih murah sih.

pabrik cokelat monggo kotagede
Varian cokelatnya banyak dan masih 'segar' | Image taken by Winda Carmelita
Sayangnya, saya nggak begitu menggebu-gebu sama cokelat karena bukan sweet tooth. Cuma beli satu pralin rasa sea salt (atau salty caramel ya? Lupa), buat tombo kepengen aja.

Baca Juga: Wedang Blangkon Jogja

Kampung alun-alun bagi saya seperti mesin waktu yang membuat atmosfer seketika berubah saat menginjakkan kaki di sini. Setiap langkah kaki di sini seperti diikuti rentetan sejarah di masa lalu, tentang bagaimana masyarakat Kotagede pada masa itu hidup dan benar-benar membangun tradisinya hingga jadi saat ini.

Selesai dari pabrik cokelat Monggo, masih ada tujuan walking tour lainnya ke Makam Raja-raja Mataram, tidak jauh lokasinya. Bersambung di post selanjutnya ya ... Selamat menanti hihihihi

Baca Juga: Menyantap Aneka Mie Komplit di Warung Bakmi Jowo Mbah Gito



You Might Also Like

3 comment

  1. Jadi pengin ke Kota Gede lagi. Soalnya belum lengkap menjelajahinya, karena tidak ada pemandu wkwkwk. Tapi setuju, suasana gang-gangnya ayem tentrem.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh ayo Mas, ke Jogja bareng ... Ikut Jogja Good Guide aja :D

      Delete
  2. MasyaAllah, rumahnya kayu kelihatan adem banget...

    ReplyDelete

The Words is Mightier Than The Swords" - Edward Lynn-Button
Tinggalkan jejak yang baik, no spamming, junk, dan tinggalkan nama ;)

Popular Posts

Blog Archive

Google+ Followers

Part of

Warung Blogger
Blogger Perempuan