Berutang Untuk Gaya Hidup, Demi Siapa?

6:53:00 PM

Image taken from Pexels.com/Happiness Maker


Namanya manusia itu kepengenannya memang nggak ada habisnya ya. Mungkin ini sifat dasar manusia yang memang nggak pernah puas. Misalnya, tetangga beli kulkas, langsung besoknya pengen beli kulkas juga. Bahkan sejak social media mengambil alih hidup manusia modern, kita bisa lho ngiri sama kehidupan seseorang yang bahkan nggak kita kenal.


Contoh terdekatnya ya diri saya sendiri. Gara-gara nemu di discover Instagram, hasrat lama yang saya pendam-pendam jadi muncul lagi, yaitu beli vinyl player. Saya memang dari dulu pengen banget punya vinyl player. Yang keluaran baru aja sih nggak apa-apa, karena kalau yang lawas dan masih berfungsi dengan baik tentu harganya bikin seret tenggorokan. Palingan harga vinyl player keluaran baru atau yang buatan Cina itu harganya sekarang Rp 2-3 jutaan.


Image taken from pexels.com/muffin


Tapi kalau ditimbang-timbang, setelah punya vinyl playernya, pasti bakal beli-beli vinyl-nya. Harga sekeping vinyl sekarang paling nggak Rp 300 ribu-an lah, kalau yang rare collection bisa jutaan. Dan sama seperti bagaimana bentuk-bentuk kecanduan lainnya, namanya rasa pengen itu pasti nggak ada habisnya. Beli satu, besoknya beli lagi, dan seterusnya. Terus rekening kembang-kempis butuh bantuan CPR. Singkatnya, seperti kata saya kepada teman saya saat mengunjungi acara rilisan musik beberapa waktu lalu, “Kita ini hobi berkelas, pendapatan melas.” (duitnya buat beli sayur aja)


Kadang ya pengen banget kok beli-beli barang yang diidamkan, makan di tempat-tempat yang suka muncul di rekomendasi di Instagram, traveling ke sana kemari. Tapi kalau hasrat menggebu-gebu seperti itu lagi memuncak, saya selalu mencoba mengingat lagi prioritas-prioritas yang sudah saya susun sejak awal punya penghasilan sendiri dan satu prinsip yang saya tulis besar-besar pakai warna merah di jurnal harian saya adalah: JANGAN NGUTANG DEMI GAYA HIDUP!


Image taken from Pexels.com/Happiness Maker


Secara personal, saya takut banget jatuh ke dalam lingkaran setan yang namanya utang. Semoga selamanya nggak akan pernah terjadi ya, apalagi berurusan sama debt collector. Masalahnya, sekarang ini banyak banget orang yang berani berutang bahkan menggadaikan surat berharga milik orang lain demi dapat uang untuk memenuhi gaya hidup. Lha kalau mencoba untuk untuk melakukan pinjaman dengan cara gadai BPKB mobil, motor atau sertifikat rumah sendiri (tambahan) buat modal usaha atau butuh duit karena terkena musibah sih sah-sah saja ya. Tapi kalau untuk memenuhi gaya hidup, rasanya kok seperti menjerumuskan diri sendiri ke dalam jurang kelam ya. Istilahnya BPJS, Budget Pas-pasan Jiwa Sosialita.


Kebanyakan orang memang tahu cara berhutang atau mengarang cerita sedih demi dapat utang. Tapi nggak tahu bagaimana cara bayarnya. Sedih banget, sementara yang diutangi seringkali benar-benar membutuhkan uangnya kembali. Yang berutang kalau ditagih galaknya minta ampun atau malah kabur. Miris, padahal niatan yang memberi utang itu baik adanya, mau bantu, ternyata ya ditelikung. Memang dunia sudah kebolak-balik :’)


Ada seorang teman yang bercerita, diutangin teman SMAnya dalam jumlah yang nggak sedikit. Sampai jutaan. Background ceritanya adalah: anak sakit, nggak punya uang buat tebus obat dan beli susu. Sama-sama perempuan, siapa yang tega? Setelah uang berpindah, berselang seminggu, yang berutang upload foto jam baru merk ternama. Yang bikin kesal teman saya, dia diblok dari Instagram dan dari semua messenger. Ketahuannya karena ada teman lain yang melaporkan postingan jam baru itu. Duh. Ikhlas-ikhlas nggak ikhlas juga sih, uang jutaan lho, pakai kedok anak sakit pula.


Ini mungkin hanya satu dari ribuan intrik soal pengutang dan yang diutangin. Kalau dibuat buku, mungkin tebalnya nggak ketulungan dan full of drama dengan berbagai alasan yang beragam. Apalagi zaman sekarang ini era social media di mana nggak ada orang yang (mau) kelihatan miskin secara visual hahahaha … jadi merasa sah-sah saja berutang demi tas mahal, jam branded bahkan traveling.


Yang menurut saya bisa membentengi kita dari perkara berutang demi gaya hidup ini ya yang paling utama adalah diri sendiri. Soal menahan diri itu nggak bisa disuruh sama orang lain, tapi tumbuhnya dari dalam diri sendiri. Seringkali kalau rasa ingin berlebihan muncul, saya ingat-ingat apa sih yang bikin perasaan saya nggak enak atau kesal hari itu? Bisa jadi karena hati nggak tenang, larinya jadi pengen melampiaskan ke hal yang lain. Hedon-hedon lucu tapi nggak butuh itu tadi deh .. Tapi coba kalau hati dan perasaan tenang, biasanya hasrat-hasrat itu nggak muncul atau nggak bakal sekuat saat kita lagi rungsing.


Kemudian, saya menyadari faktor yang sangat-sangat-sangat berperan besar adalah lingkaran pergaulan kita. Jika kita bergaul dengan teman-teman yang orientasinya adalah materi dan glamor, mau nggak mau kita akan mengikuti gaya mereka. Yah walaupun terseok-seok, bakal dibela-belain lah bagaimana caranya supaya bisa terlihat setara dengan mereka. Saya mah kalau nggak punya duit pas diajakin ngopi ya bilang aja, “Ngopinya yang murah-murah aja ya, lagi tiris nih~” atau sekalian, “Duit minggu ini udah abis, minggu depan atau awal bulan aja.”


Carilah teman yang dengannya kamu nggak malu untuk bilang duit lagi ngepas dan mau diajakin makan bakso isinya gorengan Rp 500-an semua sampai kenyang tuntas karena gorengannya mekar di lambung hahahhaha ..


Jangan lupa juga, hiduplah sesuai kemampuan. Ini penting-penting-penting sekali buat terus didengungkan di kepala, pun saya sampai hari ini, karena kalau kemampuan kita di angka tiga tapi cara hidup kita di angka lima, ibaratnya maraton seumur hidup, kuatnya sampai kapan?


Jangan malu dan minder kalau ada orang yang merendahkan daya belimu. Lebih baik kelihatan sederhana tapi hidup bebas dari bayang-bayang utang demi eksistensi, ketimbang terlihat mewah tapi di baliknya berdarah-darah. Nggak terlalu penting kok mengesankan orang lain yang bahkan tidak terlalu mengenal kita ;)


Kalau sudah terlanjur punya utang demi lifestyle gimana? Hmmm, nggak ada cara lain sih selain take your own risk and reconsidering the value of your life. Mungkin juga finansial advisor dan financial planner bakal membantu keluar dari masalah ini. Atau mungkin yang dibutuhkan sebetulnya adalah ketenangan jiwa?


Semoga kita semua bisa menakar kapasitas diri masing-masing supaya tidak terjebak dalam labirin yang menyesatkan diri sendiri ya.


Ada satu quote yang kemarin saya baca di Pinterest dan saya setuju dengan kata-kata ini:



Image taken from Pinterest

You Might Also Like

4 comment

  1. mba itu temen sma-nya yang ngaku anak sakit ntar ketulah omongannya sendiri..dan menrut aku yang begitu pamer merk jam mahal itu kek OKB (orkay baru) karena orang yang bener2 karya justru tampil sederhana contohnya itu pendiri FB dandannya sederhana kan wkwkwk amit2 deh ngutang buat gaya hidup :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ndak tau tuh Mbak, aku diceritain ikutan kesel. Kok bisa berdoa hal buruk menimpa gitu ya :((

      Delete
  2. bener banget win, aku juga sebenernya pengen punya mobil tapi karena prioritasku rumah, aku maksain diri nyicil rumah. karena harag rumah tiap tahun naik sedangkan mobil turun, dihina-hina temen ga apalah, yang penting punya tempat berteduh dan ga kuatir anakku kena usir kalau amit2 terjadi sesuatu sama aku.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang penting skala prioritas itu ya Ce. Gapapa ga ada mobil, sekarang ada ojek online. Yang susah kl ga punya rumah sendiri :(

      Delete

The Words is Mightier Than The Swords - Edward Lynn-Button
Tinggalkan jejak yang baik, no spamming, junk, dan tinggalkan nama ;)