Airport Story: Cerita Kehidupan dari Lari-lari Kesasar di T3

8:06:00 PM




Saya itu orangnya nggak se-rebel quote-quote yang seliweran di Twitter perkara pengalaman mencicipi hal baru. Wong pesen makanan di GoFood atau mau makan di resto mana, pilihan saya itu-itu saja, yang sudah pernah saya coba dan tahu rasanya. Nyari alamat rumah yang saya sama sekali belum pernah lewati jalannya, saya sudah stres duluan sebelum berangkat. Kayak semacam nervous gitu lho sama hal baru  πŸ˜‚

Pun pengalaman pertama saya naik pesawat, sendirian, itu rasanya kayak adem-panas. Pertama kali naik pesawat sendirian itu ke Bali. Waktu itu bandara Ngurah Rai baru saja direnovasi. Sebelum itu, saya kalau ke Bali nggak pernah naik pesawat karena memang seringnya road trip. Nah, sudah kali pertama, tata letak bandaranya baru pula. Benar-benar pas masih baru banget dibuka waktu itu. Jadi saya cari info ke sana ke mari tempat check in counter di mana, ambil bagasi di mana ... Ya cuma dikit infonya. Alhasil, kayak cengok sendiri. Padahal kalau dipikir-pikir sekarang, punya mulut 'kan bisa ya bertanya ke sekuriti. Punya mata, bisa lihat papan penunjuknya. Tapi namanya orang nervous hahahah ...

Itu masa-masa di mana saya masih sangat awam bepergian sendirian. Setelah-setelahnya, justru lebih suka pergi sendirian walaupun kans kesasar itu masih sangat tinggi huehehehe ... Sering banget saya itu salah terminal lah, salah gate lah ... Luar biasa ... Lemme tell you a story, a stupid but meaningful story:



Jadi, beberapa waktu yang lalu, saya ada tugas liputan ke Lampung. Karena tidak ada penerbangan langsung dari Malang ke Lampung, jadinya saya harus transit dulu di Jakarta untuk kumpul bareng reporter-reporter yang lain. Info dari yang handle acara, kami berkumpul di terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, barulah terbang bareng-bareng ke Lampung.

"Wah, asyik nih!" pikir saya waktu itu, sebagai anak udik yang hanya bisa ngiler-ngiler lihat kedigdayaan ((KEDIGDAYAAN)) terminal 3 dari layar hengpong doang selama ini. Tanpa saya tahu ternyata ... gedenya T3 itu macam kecamatan ya! Guedeeee dan luas. Bagus!

Untungnya, waktu berkumpul dengan tim yang lain masih lama, sekitar 3-4 jam-an. Jadi masih punya waktu buat ... kesasar. Sungguh, saya kesasar itu beberapa kali. Nyari pintu keluar, kesasar. Mau ke Terminal 3, kesasar. Nyari peron kalayang, kesasar. Tapi saya menikmati kegiatan itu sebagai plesir hahaha ... Ya masih untung kesasarnya di Terminal 3, bukan di negeri orang atau sesat pikir cacat logika *halah.

Mural lucu-lucu, lumayan menghibur mata ... tapi kaki tetep gempor, Jendral!

Di tengah-tengah kecapekan luar biasa karena ngider mulu, saya mampir beli kopi di Starbucks terus duduk. Di sebelah saya ada ibu-ibu, sudah sepuh, lagi sendirian duduk. Di dekatnya ada koper besar satu, dan kardus satu. Basa-basi, saya tanya kosong nggak di sebelahnya. Kata si Ibu, "Kosong, Mbak, monggo." Terus saya ditanya-tanyain, mau ke mana, ada acara apa. Saya juga balik tanya, ibu mau ke mana, acara apa. Ternyata si Ibu tadi mau ke Palu, mau sambang anaknya yang tinggal dan  kerja di sana. Katanya sudah lama anaknya nggak pulang ke Jakarta dan pas anaknya ada rezeki lebih, beliin tiket ibunya PP Jakarta - Palu naik pesawat Garuda Airlines. Duh pasti seneng ya πŸ˜‡

Terus si Ibu cerita, kalau suaminya baru setahun yang lalu meninggal, dia tinggal sama pembantu. Dan kalau bepergian begini suka keinget sama si Bapak. Dulu ke mana-mana berdua, sekarang sendirian. Aduh Ibuk, aku kok jadi membayangkan perasaan Mamaku πŸ˜‡

Awalnya saya bener-bener keburu-buru lari ke sana ke mari, semata cuma pengen segera ke titik kumpul duluan, buka laptop terus yaaaah, entah ngapa-ngapain gitu. Gara-gara ngobrol sama si Ibu, kayaknya tension saya jadi melambat. Saya ajak si Ibu bareng-bareng cari peron-nya Kalayang, yang ternyata harus nyeberang gedung. Bhaiquee ... Ya sudah dibawa ketawa sambil haus lagi hahahha

Saya yang masih kuat lari dan bawa ransel begini aja, capek bener lari-larian di T3. Apalagi si Ibu yang sudah sepuh, sendirian, bawa dua barang bawaan. Kalau kondisi begini, it's easily to judge, "Gimana sih anaknya, kok Ibunya sudah sepuh, dibiarkan pergi sendirian?" Tapi ya kita nggak pernah tahu kesulitan orang lain sih ya. Bisa jadi memang si Anak cuma punya budget berangkatin PP Jakarta-Palu untuk Ibu seorang, atau memang si Ibu nggak pengen merepotkan anaknya karena menganggap diri masih mampu pergi sendiri. Atau alasan-alasan lain yang kita nggak pernah tahu, tapi mulut pengen komentarin mulu. 

Kami berpisah karena rute yang berbeda. Hal yang saya highlight sesaat sebelum berpisah itu, si Ibu mengucapkan terima kasih, "Makasih ya, sudah ditemani." Di-te-man-i. Bukan, "dibantu". It means a lot for me! 



Setelah berpisah dengan si Ibu, saya kontak tim yang harusnya jemput saya di lokasi ke titik berkumpul. 

Me: "Hai Mbak, aku sudah di T3 nih, udah di depan di daerah yang nunggu-nungguin taksi itu lho."
Her: "Mbak Wind, sorry banget, Mbak. Ternyata salah info, Mbak. Kita berangkatnya dari Terminal 1B."
Me: "Hwe? Ha - ha - ha ... Terus aku ke sana ya Mbak? πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚"

Buat yang belum tahu, jarak dari T3 ke T1B itu sekitar 2,5 km. Lumayanlah kalau pengen kurus apalagi sambil bawa ransel 8 kg + laptop 15 inch. Kalau saya sih ogiaaaaahhh😐😐😐

Untungnya saya nggak disuruh salto, gelinding atau ngesot dari T3 ke T1B. Nggak lama kemudian ada mobil yang jemput saya. Biasalah, SKSD 'kan baru pertama kali ketemu. Semua saya SKSD-in hahaha termasuk drivernya. "Oh sudah lama Pak ikutan kerja sama xxx?"
Eh, ternyata bukan driver kantornya tim yang handle acara saya lho. "Bukan, Mbak, saya drivernya Golden Bird."

Saya baru denger yang namanya Golden Bird, ya saat itu. Saya pikir semacam layanan lokal transportasi bandara apa gitu ya. Eh ternyata pas saya Googling, ternyata Golden Bird itu layanan antar jemput-bandara dari Traveloka. Jadi kita bisa pesan mobil untuk mengantar dari dan ke bandara menuju dari dan ke lokasi-lokasi yang akan kita tuju. 'Kan biasanya suka susah tuh ya kalau cari kendaraan dari bandara buat antar ke luar atau sebaliknya. Kalau pakai layanan Golden Bird ini, kita akan dijemput dan diantar sesuai pesanan di aplikasi Traveloka. 

Saya iseng-iseng intip tarifnya Golden Bird di aplikasi Traveloka, klik link ini. Ternyata tarifnya tuh cukup murah lho, karena hitungan sewanya per mobil. Bukan per kepala. Sudah include sewa sopir, bayar toll, BBM dan pajak. Menguntungkan banget buat yang perginya berame-rame semobil ke bandara nih. Misalnya dari bandara Juanda ke Malang, tarifnya cuma Rp 350 ribu, bisa muat untuk 4 orang. Seorangnya nggak sampai Rp 100 ribu lho!


Sejak tahu ada fasilitas-fasilitas yang semakin mudah ini, saya jadi makin pengen bepergian lagi ke luar kota bahkan luar negeri sendirian. Saat sendirian, kita akan ketemu dengan hal-hal yang nggak terduga, yang sedikit-banyak akan mengubah cara pandang kita melihat hidup. Dan sekarang sudah zaman modern, ada banyak solusi yang bisa mempermudah kita memecahkan masalah mobilitas, contohnya Golden Bird. 

Punya cerita lucu atau deep di bandara?

Saya ... masih punya ... banyak. Tulis semua gak nih? Kayaknya lucu juga punya Airport Story bersambung nih hahahahahπŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

You Might Also Like

2 comment

  1. Soal pindah terminal itu emang ngeselin ya. Orang pindah gate aja udah gedeknya setengah mati. Apalagi kalau waktunya udah mepet. Aku pernah pindah gate pas di Bangkok. Trus karena santai, eh malah sempet ke starbucks dulu. Alhasil lari-lari hihihi. Sejak itu selalu duduk anteng liatin board info >.<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahahaha .. Ternyata aku tidak sendiri. Sejak 2x salah gate pun aku sekarang kl di bandara nggak mau ke mana-mana Mbak, takut salah trus kebawa pesawat ke pulau lain ... Ntar aku kesenengan dong #eh hahahhaa

      Delete

The Words is Mightier Than The Swords - Edward Lynn-Button
Tinggalkan jejak yang baik, no spamming, junk, dan tinggalkan nama ;)