Wednesday, September 28, 2016

Memilih Yang Tepat Untuk Menerangi Hari-Hariku

Akhir-akhir ini saya agak cerewet sama yang namanya lampu. Berhubung pekerjaan sehari-hari saya memang kebanyakan mengetik di komputer, maka perlu penerangan yang benar-benar tepat supaya mata gak gampang lelah. Apalagi saya adalah 'penyandang' minus dan silinder sejak SD.


Beberapa bulan lalu, saya sampai ke dokter mata lagi karena saya ngerasa mata saya sebelah kiri terus-terusan berkedut-kedut. Konon, mata berkedut tanpa mau dapat duit. Tapi duitnya nggak dapat-dapat, kedutannya terus. Nah lho ... Pusing 'kan (literally, pusing yang seperti kepala ditusuk-tusuk). Setelah dari dokter, ternyata benar ... Mata saya terlalu lelah. Solusinya adalah menambah lampu di sekitar tempat saya biasanya mengetik, biar lebih nyaman.

lampu, lampu led, lampu hias, lampu tidur, lampu sorot, lampu led motor
Lampunya futuristik | Image taken from gizmodo.com.au
lampu, lampu led, lampu hias, lampu tidur, lampu sorot, lampu led motor
Lampunya, mirip sama topinya Thompson-Thomson nih | Image taken from dore-kau.com

Sejak saat itu, mulailah saya berburu lampu yang gak cuma cakep penampilannya saja, Tapi juga fungsional. Saya coba mencari-cari sih, di toko elektronik dan online, tapi ya cukup susah juga karena saya awam betul soal memilih lampu minimalis untuk ruang kamar saya yang kecil. Setelah coba lirik kanan-kiri, baca-baca, paling gak panduan untuk memilih lampu hias minimalis itu ada lima (5), yaitu:



  1. Bahan yang digunakan. Beberapa diantaranya adalah stainless steel, kaca, rotan, hingga yang paling mewah adalah kristal. Semakin mewah bahan yang digunakan tentunya harganya mahal. Kalau saya sih memilihnya yang sesuai sama konsep kamar saya yaitu .... random :))
  2. Bentuk juga jadi salah satu pertimbangan, Beberapa mungkin lebih senang dengan motif floral, seperti yang umum dijadikan sebagai lampu ruang tamu, namun juga ada beberapa bentuk sederhana seperti lingkaran, oval atau juga kotak untuk pemasangan di dalam kamar tidur.
  3. Menentukan ukuran lampu, yang disesuaikan dengan ukuran ruangan dan kebutuhan. Jangan sampai terlalu kecil dan remang-remang, kalau tujuannya memang untuk mendukung pencahayaan ruang kerja.
  4. Hemat listrik, nah ini perlu banget apalagi seperti saya yang bayar listrik sendiri :)) Selain untuk lebih hemat, dengan daya yang rendah juga cukup efektif di dalam membuatnya lebih awet.
  5. Untuk pilihan warna, sebenarnya warna memang sangat bergantung pada pemasangan bohlam, Tapi warna luar lampu pun turut berpengaruh buat pancaran gradasi warna lampumu. Pilihan warna di ruang tamu memang lebih baik dengan putih, namun untuk kamar tidur dapat bisa sesuaikan dengan selera.

Nah, untuk ukuran kamar 3x4 m, lampu hias minimalis yang saya pengen sih gak cuma yang cakep wujudnya, tapi juga bisa menerangi saya mencari sesuap berlian. Ya karena memang sesungguhnya, yang dibutuhkan bukan hanya yang tampak nyetil gayanya, tapi yang mampu menerangi jalan hidup kita *asik *ini ngomongin lampu lho *sampai sekarang belum ketemu *lampunyaaa~~
Click Here to Read MoreMemilih Yang Tepat Untuk Menerangi Hari-Hariku

Thursday, September 22, 2016

Nikmati Citarasa Kari Khas Jepang di A & W Restoran

Terkadang, kalau pas PMS rasa lapar memang gak terbendung. Kayak beberapa waktu yang lalu, saya ngelihat postingan Instagram A&W Restoran, pas di fotonya Japanese Curry Premium Mixbowl™-nya. Duh, rasanya pengen cepat pulang, terus ke MOG, langsung masuk ke gerai A&W, pesan 3 paket sekaligus. Yah, memang ginilah, namanya juga cewek.  Giliran pas PMS, lihat postingan makanan di Instagram aja bawaannya pengen jilat layar HP. Padahal kalau hari biasa, boro-boro … Butir-butir nasi aja dihitung supaya nggak berubah jadi karbohidrat yang bikin gendut.



Niatan saya, sore sepulang kerja langsung ke A&W yang letaknya di MOG. Tiba-tiba saya ingat, kalau saya punya janji yang tertunda dengan salah satu dari tiga sahabat terbaik saya, Tasyah. Sudah beberapa minggu ini, kami berdua janjian ketemuan, tapi nggak terlaksana karena kegiatan saya yang menggunung. Saya pikir, sekalian menghibur Tasyah yang lagi sedih karena bapaknya sedang sakit di rumah sakit.


“Syah, sore ini kamu jaga Bapak di RS?” tanya saya melalui Whatsapp, siang itu.
“Nggak kok, Wind. Udah ada adikku yang jaga.”
“Kamu mau gak temenin aku makan? Aku pengen ke A&W, itu ada menu baru Mixbowl. Kayaknya enak.”
“Boleh, boleh, Wind!”
“Oke, Syah, jam 17.00 ya aku meluncur. Ketemuan di sana. Don’t worry, I treat you,” ujar saya.


Singkat cerita, sebelum Tasyah sampai, saya sudah di A&W duluan. Saya berencana pesan Japanese Curry Premium Mixbowl™. Eh ternyata Japanese Curry Premium Mixbowl™ ini punya 3 pilihan (ayam, udang, ikan). Per paket dibandrol dengan harga mulai Rp. 33.000 (belum termasuk pajak). Sesuai dengan janji saya, kamu tak traktir, Syah, pesen semuanya gih! Hihihi ..


Gak lama menunggu, 3 paket Japanese Curry Premium Mixbowl™ beserta RB alias Root Beer, terhidang manis menggoda di depan kami. Meskipun doyan semuanya, ternyata saya dan Tasyah punya favorit yang berbeda.


Japanese Curry Prawn Mixbowl™, Pilihan Tasyah

 
A&W indonesia, aw indonesia, kari jepang, japanese curry, japanese curry premium mixbowl, mixbowl, rice bowl, promo A&W 2016, promo A&W, menu A&W
Japanese Curry Prawn Mixbowl™ | Image taken by Winda Carmelita


Tiga tempura udang digoreng sempurna beserta saus kari yang gurih. Satu set Japanese Curry Prawn Mixbowl™ ini lengkap beserta nasi putih. Kata Tasyah, “Enak!”, karena udangnya cukup besar, gak amis dan gak keras. Cocok banget dicocol sama saus kari, untuk lauk nasi putih. Oh ya, di dalam saus karinya, ada potongan kentang dan wortel, serta taburan seledri yang membuat rasa menu ini jadi makin tasty.


Japanese Curry Fish Mixbowl™, Pilihanku

A&W indonesia, aw indonesia, kari jepang, japanese curry, japanese curry premium mixbowl, mixbowl, rice bowl, promo A&W 2016, promo A&W, menu A&W
Japanese Curry  Fish Mixbowl™ | Image taken by Winda Carmelita


Kalau Tasyah suka udang, saya suka yang varian ikan. Japanese Curry Prawn Mixbowl™ ini datang dengan potongan fillet ikan yang digoreng dengan tepung roti. Japanese Curry Prawn Mixbowl™. Fillet ikannya cukup besar, dipotong jadi empat bagian. Nah, meski digoreng renyah bagian luarnya, bagian daging di dalamnya masih sangat lembut.


Japanese Curry Chicken Mixbowl™, dimakan berdua

A&W indonesia, aw indonesia, kari jepang, japanese curry, japanese curry premium mixbowl, mixbowl, rice bowl, promo A&W 2016, promo A&W, menu A&W
Japanese Curry Chicken Mixbowl™ | Image taken by Winda Carmelita


Karena pesannya tiga paket, yang makan hanya berdua, jadilah satu paket terakhir, Japanese Curry Chicken Mixbowl™, diserbu bareng-bareng. Dua potong daging ayam salut tepung, digoreng dan dipotong-potong menjadi empat bagian. Meski cuma dua potong, tapi cukup kok untuk jadi lauk nasi dan saus kari-nya. Meski nunggu giliran dimakan terakhir, chicken stripsnya gak keras dan tepungnya gak jadi ayem lho.


ENAK, SYAH?”

A&W indonesia, aw indonesia, kari jepang, japanese curry, japanese curry premium mixbowl, mixbowl, rice bowl, promo A&W 2016, promo A&W, menu A&W
Image taken by Winda Carmelita


Tanya saya pada Tasyah. “Enak!”, begitu jawaban Tasyah. “Tapi, sayangnya sih nasinya udah agak dingin pas disajikan. Coba kalau panas kebul-kebul gitu, pasti lebih enak,” katanya. Meski nasinya udah agak dingin, tapi tetap habis tandas tak tersisa, ini buktinya:



Makan berdua sama Tasyah gini, adalah momen langka yang jarang terjadi semenjak kami lulus kuliah. Mau ketemuan aja susahnya minta ampun. Kalau pas kuliah dulu, kami bisa kumpul berempat, bareng Tutik dan Anyum barengan, kapanpun. Sekarang, sudah terpisah kota dan kesibukan masing-masing. Tinggalah saya dan Tasyah yang ada di Malang saat ini. Itupun karena belum ditinggal Tasyah kerja ke luar kota hehehe … *nangis*.

A&W indonesia, aw indonesia, kari jepang, japanese curry, japanese curry premium mixbowl, mixbowl, rice bowl, promo A&W 2016, promo A&W, menu A&W
Saat kami masih menjadi mahasiswi-mahasiswi ranum plus pengawalnya :)) | Dokumentasi pribadi
 Pernah kami mau masak telur buat sarapan pas nginep di rumah Anyum. Eh, telurnya abis. Saya dan Anyum diutus untuk beli telur, malah belok ke toko alat tulis deket rumahnya Anyum. Mendingan kalau ngumpul dan nginep lagi, kita pesan makanan via delivery 14061 atau melalui awdelivery.co.id aja, daripada fail lagi :))

A&W indonesia, aw indonesia, kari jepang, japanese curry, japanese curry premium mixbowl, mixbowl, rice bowl, promo A&W 2016, promo A&W, menu A&W
Semoga bisa ketemu full team lagi ya ! | Image taken by Winda Carmelita
Makan sendiri, rasanya sepi. Paling enak, makan bareng sahabat. Because happiness only real when we shared ;).
Click Here to Read MoreNikmati Citarasa Kari Khas Jepang di A & W Restoran

Thursday, September 15, 2016

Antara Ubud dan Maumere dan Drama-Drama Penuh Kecerobohanku

Ngomongin soal passport, biasanya nggak jauh-jauh dari yang namanya travelling, backpacking, asurasi perjalanan Indonesia, dan liburan. Well, saya baru saja menyelesaikan membaca buku berjudul "Passport to Hapiness". Buku ini menceritakan tentang perjalanan Ollie, penulisnya, menjelajahi 11 kota di berbagai belahan dunia. Di 11 kota itu, Ollie mengukir masing-masing cerita tentang perjalanannya mencari cinta dan menenangkan diri pasca perpisahannya dengan suaminya.

Jujur, saya belum pernah mengadakan perjalanan jauh seorang diri untuk tujuan menenangkan diri dan menata rancangan hidup seperti Ollie. Seorang diri ke Bali pernah, tapi urusan pekerjaan. Saya pengen banget seorang diri, di sebuah tempat yang nggak terlalu ramai, nggak plesiran juga ke pusat-pusat perbelanjaan. Pengen menikmati hidup, menenangkan diri dan menjadi orang yang nggak dikenal di suatu tempat asing :D

Destinasi 'kabur' impian saya nggak jauh-jauh kok. Nggak sampai ke luar negeri segala. Adanya di Indonesia. Cuma dua tempat yang pengen saya jelajahi seorang diri. Yang pertama adalah Ubud. Semua ini dimulai sejak beberapa tahun yang lalu, Kakak saya pernah bekerja di Ubud. Nah, ketika pindahan saya ikutan bantuin dia ke Bali (Ubud) sana. Itulah pertama kalinya saya ke Ubud dan melihat Bali dari sisi berbeda.

Adem yak | Foto: copyright www.neverendingvoyage.com
 Bali yang sebelumnya saya tahu adalah: pantai dan panas. Tetapi di Ubud, beda. Sepanjang mata memandang, saya melihat hamparan hijau sawah-sawah yang bikin hati jadi tenang. Meski banyak toko-toko di sana, tapi model tokonya beda. Bukan toko-toko yang mentereng. Di sana saya sempat pengen beli layang-layang Bali, sudah kenalan sama bli yang ngobrol panjang lebar tentang cara pembuatannya yang masih sangat tradisional. Eh, gak jadi beli karena ... mikir, bawa pulangnya gimana hehehe ...

Setiap kali mendengarkan alunan musiknya Gus Teja, yang ada di pikiran saya ya Ubud. Bukan tempat lainnya. Terbayang banget, pagi-pagi disambut sunrise, menghadap ke sawah sambil minum kopi. Lalu, bersepeda keliling Ubud, belajar bikin penjor, belajar basket weaving dan fruit carving, belajar main suling bambu ala Bali, jalan kaki gak pakai alas kaki masuk ke sawah-sawah. Aku anaknya sawah dan suka keceh memang kok :D

Basket weaving | Foto: copyright grantourismotravels.com
Entah ya, belum ke sana saja saya bisa yakin kalau di sana saya bakal banyak mengalami pengalaman spiritual. Bukan pengalaman spiritual semacam di padepokan Aa Gatot Brajamusti lho ya! Hahaha .. Tapi pengalaman spiritual yang damai, tenang dan sejuk. Seperti sejuknya daerah Ubud. Meskipun sejuk, tapi tetep sih, di sana saya sanggup ngebir dingin 2 botol kayak kepanasan aja gitu *halah ngguayamu Wind :))

Selain Ubud, destinasi impian saya yang kedua untuk 'kabur' dari kejamnya kehidupan yang fana ini *halah, adalah Maumere. Maumere adalah ibukota Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara. Kenapa sih saya pengen banget ke Maumere? Semuanya berawal karena ... saya pernah menggarap sebuah proyek social media dengan Maumere sebagai spotlightnya. Jadilah saya browsing-browsing, di Maumere ada apa aja sih, apa yang menarik buat dibahas dan dijadikan bahan postingan. Eh, ternyata Maumere bener-bener bikin jatuh hati sampai ndlosor-ndlosor.

maumere, bukit de nilo, patung bunda maria
Patung Bunda Maria Segala Bangsa, incredible ya! | Foto: copyright capamaumere.com
Melihat foto-foto promosi Maumere, saya seperti tersihir pada dua tempat, yaitu Bukit Nilo dan Gereja Tua Sikka. Sebagai seorang Katolik, pengen banget rasanya mengunjungi patung Bunda Maria Segala Bangsa yang tingginya kira-kira lebih dari 30 meter itu. Konon ya, dari atas Bukit Nilo kita bisa ngeliat matahari terbit. Ya ampun, kebayang banget lah ya kebesaran Tuhan yang menciptakan segala sesuatunya di dunia ini dengan begitu sempurna *hahahaha ... kok malah khotbah, wind?*

Gereja Tua Sikka juga jadi tempat impian untuk kudatangi. Gereja Tua Sikka ini tempat bersejarah yang dibangun sama misionaris-misionaris SJ dengan bantuan Raja Sikka. Ada apa di gereja tua Sikka? Ya ada gereja .. Hahahaha ... Di gereja mau ngapain? Ya berdoa. Berdoa ngapain jauh-jauh, Wind? Ya meski gak ke Gereja Sikka juga berdoa kok, tapi pengen aja ke sana, no reason needed :p

Saya adalah orang yang sangat menikmati segala sesuatunya sendirian. Makan sendirian di restoran, minum kopi sendirian di cafe, duduk sendirian di alun-alun sambil makan tahu petis ... jadi travelling sendirian saya pun tetap menikmati. Atau malah 'sangat menikmati' ya? Sebelum ini sih saya pernah pergi sendirian, ke Bali, tapi untuk urusan pekerjaan. Dan ketika itu saya menyadari bahwa saya suka pergi sendirian. Pergi jauh sendirian bagi saya layaknya meditasi dan sarana untuk menenangkan pikiran yang riuh.

Tapi sebetulnya sih, ada yang membuat khawatir kalau pergi sendirian. Yang khawatir, terutama adalah orang rumah. Karena saya orangnya pelupa (makanya cepat move on). Pelupanya level akut. Mulai dari ketinggalan handphone, lupa gate sampai lupa bawa tas :))

Saya pernah ketinggalan handphone pas sudah masuk ruang tunggu di stasiun kereta api dan saya nggak hafal nomor handphone Mama ataupun Kakak saya. Grusa-grusu, untungnya ada mas-mas konter handphone baik hati yang mau meminjamkan handphonenya cuma-cuma kepada saya untuk menelepon ke rumah. Terus, saya pernah cengar-cengir duduk di ruang tunggu gate pesawat menuju ke Ambon, padahal saya 'kan tujuannya mau pulang ke rumah. Rumah saya di Malang, Pak! :(( Saya baru sadar ada di gate yang salah ketika lagi antre mau beli Beard Papa, lalu saya baru sadar saya duduk di gate 7, bukannya gate 8 pesawat menuju ke Malang :|

Cerita terepic ya ... saya pernah meninggalkan tas saya di peron stasiun kereta dan baru sadar beberapa menit saat sudah di dalam kereta dan kereta akan berangkat. Sungguh terlalu.

Orang-orang sekitar saya sih selalu wanti-wanti, hati-hati kalau pergi sendirian. Lha wong saya punya track record buruk hehehe ... Kayaknya kalau pergi-pergi sendirian saya harus mulai mempertimbangkan mendaftar asuransi perjalanan Indonesia deh. Supaya bisa mengantisipasi kejadian-kejadian tak terduga, misalnya barang ketinggalan, barang hilang tersesat, keterlambatan pesawat atau (amit-amit) kalau ada gangguan kesehatan dan kecelakaan. Saya juga baru tahu kalau ada asuransi perjalanan ini sewaktu iseng browsing dan ketemu webnya Futuready.com. Jadi, Futuready.com adalah web yang bisa dibilang seperti “supermarket” asuransi, dimana kita bisa memilih aneka asuransi sesuai kebutuhan, mulai asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan hingga asuransi perjalanan. One-stop-shopping lah istilahnya.

Image taken from Futuready.com


Ketika saya mengungkapkan impian saya pergi ke Ubud dan Maumere suatu hari nanti, untuk perjalanan spiritual, satu saja tanggapan Mama saya:
“Kamu pergi adoh-adoh ... wong ke kamar mandi ae andukmu kari-an." (kamu pergi jauh-jauh, wong ke kamar mandi aja handukmu ketinggalan)
Kemudian green tea yang sedang saya minum, rasanya mendadak seperti air perasan kaos kaki :’(
Click Here to Read MoreAntara Ubud dan Maumere dan Drama-Drama Penuh Kecerobohanku

Monday, September 12, 2016

Resep Gampang: Chicken Honey Thyme Marinated with Sambal Matah

Resep ayam, resep chicken honey, resep ayam goreng, resep ayam goreng madu, resep gampang, resep steak ayam, resep chicken steak, resep roasted chicken, resep chicken thyme marinated, resep sambal, resep sambal matah

Ayam dan sambal matah adalah dynamic duo yang gak terpisahkan. Biasanya makan roasted chicken seperti ini, harus beli dulu dan harganya lumayan mahal. Di hari libur ini, saya bikin sendiri dong, ala kadarnya tanpa diroast karena gak punya panggangan. Rasanya ... pokoknya bisa bikin nambah nasi terus sampai tiga kali :D

Bikin chicken honey thyme marinated with sambal matah ini gampang banget. Kalau dipanggang pasti lebih enak lagi karena sari-sarinya nggak terbuang percuma. Nah, kalau hari ini pengen makan yang enak, ala-ala restoran di Bali, yuk cobain resep ala Winda Carmelita ini. By the way, ini takarannya suka-suka ya, saya kalau masak macam Rachel Ray yang gak pakai takaran pokoknya asal nyemplung aja.

Bahan chicken marinated:
  • 1/2 kg dada ayam
  • 1/2 cangkir olive oil
  • 1/4 cangkir madu
  • Thyme kering, secukupnya
  • Garam, secukupnya
  • Lada bubuk, secukupnya

Cara Membuat:
  1. Fillet dada ayam, jangan terlalu tebal ya. 
  2. Marinasi ayam dengan campuran olive oil, madu, thyme kering, garam dan lada bubuk, sambil diremas-remas supaya dada ayam empuk.
  3. Diamkan selama 3-4 jam. Kalau versi saya, ayam yang sudah dimarinasi ini saya masukkan kulkas selama 12 jam. Jadi bikinnya kemarin, pagi ini baru diproses.
  4. Setelah bumbu marinasi meresap, panggang daging ayam di teflon pakai api yang kecil sekali. Bolak-balik supaya gak gosong. Usahakan ayamnya nggak terlalu matang sampai dagingnya liat supaya nggak keras saat dimakan. Kira-kira tiap potongan ini saya masak 10 menit-an.
  5. Supaya gak gosong, saya bikin lagi bumbu olesannya mirip dengan bumbu marinasi di atas (ditambah gula sedikit biar lebih terasa). Sambil dibolak-balik, diolesi bumbu marinasinya.
  6. Angkat, sisihkan.

Bahan sambal matah:
  • 5-6 siung bawang merah, kupas dan cuci bersih
  • 5 cabe rawit
  • 2 batang serai, geprek
  • 1 sendok air perasan jeruk lemon
  • 1/2 sendok teh terasi bakar
  • Garam, secukupnya
  • Gula, secukupnya
  • Minyak goreng (I subtitute this with olive oil)

Cara membuat:
  1. Campurkan semua bahan jadi satu, kecuali minyak goreng. Agak diremas-remas ya biar keluar sarinya. 
  2. Lalu, siram dengan minyak. 
  3. Aduk rata, siap disajikan.


Chicken honey thyme marinated ini, emang cenderung Western. Tapi begitu dimakan pakai sambal matah, rasanya jadi segar. Asem-asem dari sambal matah, campur dengan rasa ayam yang gurih-asin, enak banget kalau dimakan sama nasi putih. Orang Indonesia ya, Bu, gak kenyang kalau nggak makan nasi. Tapi kalau mau dimakan dengan kentang goreng, enak juga kok.

Resep ayam, resep chicken honey, resep ayam goreng, resep ayam goreng madu, resep gampang, resep steak ayam, resep chicken steak, resep roasted chicken, resep chicken thyme marinated, resep sambal, resep sambal matah
Semoga resepnya cocok ya di lidah kamu ^^
Click Here to Read MoreResep Gampang: Chicken Honey Thyme Marinated with Sambal Matah

Sunday, September 11, 2016

Scaller: Dihentak Distorsi Johny Greenwood, Dibawa Hanyut Alanis Morissette


scaller, radiohead, alanis morissette
Scaller | Taken from scallermusic.com

Jika saya akhirnya mengenal Scaller, sepatutnya lah saya berterimakasih pada program musik Taman Buaya Beat Club di TVRI. Pertama kali saya melihat performance grup ini ya dari acara musik yang less-kucek-jemur-dance ini. Tapi hanya sekilas saja saya sempat melihat performance mereka di layar kaca. Akhirnya saya mendarat lagi pada duo alternatif rock asal Jakarta ini, berkat sebuah channel Youtube yang bernama Sound From The Corner.


Perlu beberapa kali memutar session Scaller di channel Sound From The Corner untuk benar-benar memahami dan terhanyut dengan musik mereka. Apakah artinya musik mereka susah dicerna? Well, bukan seperti itu sih, tapi bagi saya mendengarkan Scaller harus secara seksama karena musik mereka sesungguhnya datang terkemas dengan baik, sepaket dengan lirik yang diciptakan oleh duo Stella dan Reney ini.
'Live and Do better next time,
You can't cry and blame passed time
We are, We are Stronger than the rocks that limit us
Live and Do better next time.' -- Live and Do
Sepanjang 29 menit 11 detik rekaman penampilan mereka di channel STFC dan dua kali menontonnya sambil bekerja di kantor, saya baru 'ngeh' dan menghentikan kerjaan saya, beralih ke layar Youtube saat detik menunjuk ke angka 16:20. Yes, Live and Do, dibuka dengan suara Stella. Asli, gaya menyanyinya di lagu ini mengingatkan saya pada Alanis saat membawakan lagu You Oughta Know. Eh, kalau nggak salah sih ya, You Oughta Know. Tapi yah ... dengan rasa Scaller. Halus, tipis-tipis menghentak. Kalau diibaratkan minum arak Bali lah, 'naik'nya pelan banget kemudian ... 'bam'!

Di salah satu komen di video Scaller bilang, mendengarkan Scaller seperti mendengarkan Alanis Morissette sedang ngeteh bareng Radiohead. Memang benar sih, apalagi di lagu-lagu awal di video ini. Mendengarkannya sambil merem, seolah Reney adalah Johny Greenwood, yang nunggu pergantian jam kuliah terus iseng ngejam sama Alanis sore-sore :))

Yang saya sesali sih cuma satu. Kemana aja saya selama ini baru mengetahui ada band yang gak biasa kayak begini? Mereka sudah terbentuk sejak 2012 lho. Semoga bisa menonton mereka secara langsung, untuk membuktikan bahwa telinga saya kali ini nggak salah pilih :D Gak sabar menanti rilisan mereka!



Ps: Ini bukanlah review. Saya bukan pengamat musik. Hanya pendengar yang harus terus mengasah telinga dan cara menulisnya :)

Click Here to Read MoreScaller: Dihentak Distorsi Johny Greenwood, Dibawa Hanyut Alanis Morissette