Sunday, July 10, 2011

Surat Untuk Panji

Malang, 30 Mei 2007


Buat : Panjiku


 


Panji, ini langit sudah menghitam. Bulan menggelayut mannja bagaikan aku padamu dulu. Tidak ada rintik hujan. Tidak ada temaram lampu petromaks. Yang ada Cuma berisik suara CD Playerku yang melantunkan lagu kesayangan kita dulu. Close To You milik Carpenters yang dulu sering kita senandungkan bersama. Kau masih ingat? Ya, ya, ya. Selama bertahun-tahun kita punya dunia sendiri. Aku, kau dan Close To You.


Panji, menyadari ketika kau tak ada lagi di sampingku, bukan lagi air mata yang luruh. Namun seluruh tubuhku. Yah, mungkin duia sudah mulai gila, Sayang. Cinta membutakan mata kita. Tubuhmu semakin kurus kering. Begitu juga denganku. Pipi tembem yang biasanya kau cubiti selama puluhan tahun, kini mengurus berganti keriput dan tulang pipi kering dimakan beban pikiran. Bukan lagi waktu yang memakan kisah kita, tapi keadaan dan situasi yang tak pernah kita pikirkan, sudah keburu menginfeksi lingkungan di luar diri kita.


Panji, meski begitu aku tetap mengingat kapan kita bermandi ribuan bunga krisan putih kesukaanku, kapan kau nyanyikan Close To You, kapan kita berbagi gado-gado bersama. Mungkin sudah tak terhitung lagi berapa juta detik kita telan bulat-bulat bersama. Sejak kucium harum dunia hingga ketika kurasakan getirnya aku mencintai dirimu!


Panji, aku akhirnya tahu sekarang, mengapa kau tak pernah terima cinta dari fanny, Nissa, Farah, Dissa atau yang lainnya. Aku sungguh tersanjung ketika menyadari kau lakukan semuanya karena kau mencintaiku. Kau lah yang membuat aku melupakan Rama, seniman nyentrik yang brengsek itu karena menduakanku demi mengejar Camelia yang namanya seperti judul lagu favoritnya karena perempuan itu mau dilukis tanpa busana, tidak sepertiku. Rama yang kucintai sejak kita membangun rumah pohon belasan tahun yang lalu dan setiap hari aku dan dia berperan menjadi suami-istri. Itu impianku sedari kecil. Kau tentu masih ingat bagaimana keakraban keluarga kita bertiga—kau, aku dan Rama—tanpa kita tahu ada yang celah rahasia di antara kita bertiga hingga akhirnya kita seperti ini. Cinta buta, Panjiku.


 Tak bisa kulupakan malam itu ketika aku menangis di teras depan rumah setelah malam minggu terakhirku bersama Rama. Kau hampiri aku meski harus melompati pagar rumahku seperti pencuri—pencuri hatiku. Malam itu kita mengobrol di teras rumah semalam suntuk sampai ngantuk berubah menjadi kejadian heroik kita melawan serangga kecil penghisap darah yang menyusup diam-diam dan mengganggu.


Panji, malam itu kurasakan ada yang berbeda di antara kita.


Mimpiku tentangmu. Sadarku tentangmu. Sejak dahulu, aku selalu rindu pada aroma khas tubuhmu, pada dirimu yang selalu ada di front terdepan dalam barisan demo mahasiswa, pada langkahmu yang selalu penuh semangat, pada dirimu yang selalu menyanggah lontaran-lontaran pendapatku di kelas namun kau selalu setuju jika kuajak nyolong jambu tetangga, pada raungan motormu yang menggila, pada mata teduhmu, pada omelan-omelanmu jika aku nekad melompati pagar sekolah pada jam istirahat hanya untuk membeli gado-gado untuk kita berdua.


Aku seperti melihat cerminan diriku dalam dirimu! Kau sendiri yang bilang, mata cokelat kita pancarakan aura yang sama.


Panji, sekian lama kita kubur perasaan, tiba-tiba kau katakan itu. Kukira kau mengigau. Ternyata kau dalam sadar. Bahkan ketika kau mencintaiku selama itu, kau uga dalam sadar! Aku tak cukup berani katakan apa yang sebenarnya bergejolak dalam hatiku. Hanya kutunjukkan dengan perhatian dan kasih sayangku.


Panji, mungkin seharusnya kita bereinkarnasi menjadi bentuk lain agar mereka tak perlu uring-uringan hingga kebakaran jenggot. Sekian lama kita bertetangga dan keluarga kita berkawan baik, aku diasingkan ke rumah Pakdhe Darmo di Jogja, sementara kau disuruh kerja di perusahaan Oom Ridwan di Depok sejak mereka tahu kita sering tidur beralas rerumputan di lapangan sepak bola samping kompleks rumah hanya untuk lihat bintang seperti di sinetron-sinetron sampai aku ketiduran dan kau menggendongku sampai ke rumah. Mungkin mereka telah mencium ‘ada apa-apa’ di antara kita. Mereka lakukan itu semata-mata mereka tidak ingin kau bertemu denganku. Padahal kita tidak lakukan apa-apa. Cuma makan es lilin di alun-alun berduaan, itu aib? Bukankah orang lain yang sering melihat kita di sana tidak pernah pusingkan hal itu? Mereka anggap kita… yah, mereka Cuma anggap kita seperti layaknya…


Panji, malam itu kuterima telepon dari Ayah. Ayah bilang, aku harus pulang ke Malang. Ia ingin aku menikah secepatnya dengan Rama. Laki-laki brengsek itu kembali dan membawakan setandan pisang dengan beberapa burung kenari untuk mencuri hati Ayah dan Ibu. Ia bersujud di bawah kaki Ayah dan Ibu, menyesal karena menduakanku demi Camelia yang ternyata menjadi simpanan om-om di Bandung sana. Aku tahu, Ayah dan Ibu menyuruhku segera menikah dengan Rama bukan karena pisang setandan dan beberapa burung kenari itu. Lebih-lebih karena mereka ingin men-delete kenangan-kenangan spesial tentangmu dari otakku dan berusaha membangkitkan kembali serta menjejal-jejalkan pesona si nyentrik yang pernah membuatku jatuh cinta mampus. Mereka takut aku dekat-dekat padamu kemudian kawin lari. Ah, sinetron jaman sekarang sudah meracuni otak mereka. Padahal tentu kita tidak akan menjadi Malin Kundang, bukan?


Panji, sore itu dengan miris kutatap kamu yang termenung duduk di ayunan halaman rumah. Kau lihat aku cantik bak dewi khayangan, tapi bukan untukmu. Malaikat membuat mimpi menjadi kenyataan ketika aku lahir. Kau terjemahkan bait lagu kesayangan kita dan bisikkan itu ketika Ibu memasangkan bunga krisan di rambutku. Kau berikan jabat tanganmu padaku dan Rama, tapi sorot matamu tak bisa berbohong. Kau tak rela aku bersama Rama yang sudah menyakitiku.


Panji, aku bahkan sudah lupa bagaimana cara mencintai seorang Rama. Karena bertahun-tahun  sudah aku berganti mencintaimu, tanpa perlu aku belajar terlebih dahulu. Aku sudah terbiasa mencintaimu, terbiasa makan mie ayam tanpa pakai sambal karena kau selalu mengingatkanku akan penyakit maagku, terbiasa mengejar-ngejar bis menuju ke kampus bersamamu, terbiasa nyanyikan Close To You, terbiasa makan gado-gado berdua denganmu… ah, aku tak bisa ungkapkan semua!


Panji, kadang aku menganggap Rama adalah dirimu. Padahal sungguh jelas terlihat perbedaan yang signifikan antara kau dan Rama. Kau senang makan gado-gado, Rama lebih memilih tidak makan jika mencium aroma gado-gado. Rama menghadiahi aku kanvas berlukiskan bunga krisan, sedangkan kamu menghadiahi aku bunga krisan sungguhan. Kalau Rama menghiburku dengan lukisan-lukisannya yang bergambar wajahku, kau nyanyikan lagu-lagu dengan petikan gitarmu. Kau takkan bisa tergantikan!


Panji, sudah kuterima benda berwarna merah anggur itu. Namamu dan Sekar terukir manis di sudut kanan dengan tinta emas. Aku akan datang ke sana dan memberikan selamat pada kalian berdua. Biar skor kita seri. Dulu kau lihat aku bersanding dengan Rama, sementara kali ini biar mataku tersiksa melihat Sekar menggenggam erat tanganmu.


Panji, mungkin seharusnya nama kita diganti. Mungkin nama kita lah yang menjadikan kita seperti ini. Kisah kita tak  menjadi seperti nama yang kita sanding sejak bertahun-tahun. Mungkin jika namaku menjadi Sinta, Rama lah yang akan kucintai, bukan kamu. Mungkin jika namamu bukan Panji dan aku bukan Kirana, Sekar tak akan merebut posisiku di sampingmu.


Panji, jaman sudah berubah. Apa saja memang bisa terjadi. Tapi hanya satu yang tak akan bisa terjadi. Cinta kita. Harusnya kita sadari itu sejak dulu. Mengapa kita tak bisa bersama? Tak perlu kau tanyakan, tapi biar kujawab.


Karena kita lahir dari rahim dan penanam benih yang sama.


 


Penuh cinta,


Kirana, adikmu

No comments:

Post a Comment

"The Words is Mightier Than The Swords" - Edward Lynn-Button
Tinggalkan jejak yang baik, no spamming, junk, dan tinggalkan nama ;)