Friday, January 3, 2014

Tentang Social Media, Cepol Bu Ani dan Handling Feedback

*postingan ini sebetulnya sudah dipublish tanggal 3 Januari 2014, tapi karena kesalahan teknis (terhapus tidak sengaja) maka saya posting ulang tulisan ini*

Semenjak Ibu Negara kita punya Instagram, sudah beberapa kali ada kejadian komen-mengkomen yang cukup ramai diperbincangkan. Dari awalnya 'kasus' tentang foto cucu SBY yang diambil oleh Ibu Ani Yudhoyono yang ramai karena terlihat seperti foto editan, hingga yang terakhir perkara cepol dan kegiatan memasuk Ibu Ani yang diabadikan di Instagram.

image taken from @imandita
Masalahnya sama: followers berkomentar, Ibu Ani menanggapi. Sayangnya komunikasi dua arah yang termediasi teknologi ini mengalami missed. Ibu Ani sepertinya sensitif terhadap komentar-komentar followers IG-nya sementara ada beberapa komentar IG yang terkesan menjadikan keluarga & aktivitas Ibu Ani sebagai lelucon.

Di social media kita punya pilihan mengkontrol siapa saja yang bisa melihat postingan-postingan kita or just simply control ourself to write down anything abour our life. Social media memang memfasilitasi kita untuk membagikan diri ke ranah publik dan ini artinya juga memberikan ruang untuk siapapun berkomentar tentang kehidupan kita, termasuk menanggapi dengan nyinyir.

Apa sih yang musti kita siapkan dalam ber-social media?

Mental !

Karena social media bisa digunakan siapapun tetapi tidak untuk digunakan siapapun. Lha? Begini, secara teknis & prosedural memang social media dapat digunakan oleh orang-orang yang berkemampuan standar membaca menulis menggunakan gadget dan komputer, dengan minimal usia tertentu sesuai kebijakan pengembang aplikasi. Tetapi secara psikis, menggunakan social media perlu kematangan dan kesiapan. Matang dalam menanggapi komentar, siap mendapat komentar-komentar yang baik maupun tidak, mampu mengontrol konten-konten yang pantas dibagi maupun tidak. Kesiapan dan kematangan psikis dalam bersocial media ini bukan tergantung pada usia, tingkat pendidikan maupun jabatan seseorang, menurut saya. (baca cerita menariknya di sini). Tapi bagaimana seseorang memahami berkomunikasi & berelasi dalam dunia maya layaknya di dunia nyata.

Lalu bagaimana jika ada komentar yang kurang nyaman yang ditujukan pada kita? Berdasarkan pengalaman:
  • Tegur baik-baik. Tidak perlu membalas dengan kata-kata yang sama-sama 'tidak berpendidikan'-nya. Percayalah itu akan menunjukkan pride Anda sebagai seorang user social media yang bijak.
  • Kalau ditegur baik-baik tidak mempan? Block account atau report as spam saja. Paling tidak di kemudian hari akun tersebut tidak bisa lagi membaca postingan Anda.
  • Ignore them. 

Saya pun pernah mendapat kejadian orang-orang dengan komentar kurang baik di postingan saya. Apa yang saya lakukan? Daripada saya membalasnya, saya lebih memilih untuk menggunakan cara 'kejam' yaitu block account atau report account as spam. Hehehe. Aman, hidup saya juga lebih nyaman.

Ibu Ani kayanya perlu belajar handling social media dari yang Maha Cetar Membahana, Ses Syahrini deh :p

No comments:

Post a Comment

"The Words is Mightier Than The Swords" - Edward Lynn-Button
Tinggalkan jejak yang baik, no spamming, junk, dan tinggalkan nama ;)