Wednesday, March 26, 2014

[Giveaway] Tentang Dongeng, Burung Emas Dan Wortelince Yang Bisa Bicara

Bicara tentang masa kecil, pasti sangat menyenangkan ya. Beruntunglah saya hidup di era 90-an yang mana di masa ini hiburan untuk anak-anak itu sangat melimpah. Dari acara televisi, bacaan, hingga permainan, semuanya bikin kangen kalau diingat setelah dewasa seperti ini. Bahkan, dulu sempat ada adegan nggak mau ke sekolah karena ngeyel nonton acara Sesame Street di televisi. Hihihi, memorable banget!

Salah satu hal yang paling saya ingat ketika saya masih kecil adalah bacaan masa kecil saya. Sejak kecil saya sudah dibiasakan membaca buku. Dari yang awalnya cuma melihat gambar, akhirnya bisa baca tulisan sendiri di buku. Ini semua gara-gara Mama saya suka membelikan buku bacaan supaya saya nggak nangis lagi kalau ditinggal bekerja.

Nggak heran, di rumah (hingga sekarang) penuh dengan buku bacaan. Ketika saya kecil, buku-buku milik kakak saya masih disimpan dengan rapi oleh Mama. Wuih, saya suka banget kalau diajak ke gudang karena di sana ada berkardus-kardus buku bacaan punya kakak. Dari sekian banyak buku bacaan, entah kenapa saya kepincut sama buku ini:

image taken from: bacabukuanak.wordpress.com
Buku ini berisi kumpulan dongeng yang saya rasa ini sumbernya dari dongeng-dongeng luar negeri. Bukunya berukuran besar sekali untuk saya waktu itu, kalau baca musti duduk di kasur dengan kaki selonjoran dan ngedot *iya, saya ngedot sampai kelas 1 SD*. Meskipun kisahnya tak semuanya ceria seperti kebanyakan dongeng anak-anak, tapi membacanya bikin saya terkesan. Malahan, beberapa ceritanya terkesan 'seram', misalnya tentang Mata Satu, Mata Dua dan Mata Tiga yang ceritanya tentang penyihir. Hiiih!

Sejujurnya, saya tidak pernah dibacakan dongeng, jadi ketika saya bisa baca umur 5 tahun, saya 'disuruh' Mama membaca sendiri. Eh, ternyata itu ada manfaatnya lho terhadap kesenangan saya menulis. Katanya, anak yang suka membaca itu punya kemampuan untuk menulis lebih baik daripada yang tidak. Waktu kelas 3 SD, saya mulai menulis cerita pertama kalinya. Saya agak lupa sih seperti apa isi ceritanya, yang jelas menceritakan tentang persahabatan kelinci. Ditulis di komputer yang waktu itu masih pakai sistem operasi DOS dan dicetak dengan printer Epson yang berisiknya bikin tetangga bangun. Hahahaha.

Lama saya tidak membaca buku cerita dongeng seiring dengan bertambahnya usia saya jadi ABG. Tiba-tiba saya dipertemukan lagi dengan dongeng, bagaimana ceritanya?

Ketika saya memasuki semester 6 perkuliahan, saya dapat tugas kuliah yang cukup menantang. Saya masih ingat waktu itu saya ambil kelas Social Marketing yang mana kelompok saya memiliki untuk berkampanye menyentuh kehidupan anak sehari-hari. Apa sih masalah anak yang paling banyak terjadi? Hmm, setelah dipikir-pikir, anak-anak usia TK itu susah makan dan suka membuang-buang makanan. Wah, bad habit tuh kalau diteruskan sampai tua, pikir kelompok saya waktu itu.

Akhirnya, kami mengajukan proyek campaign Finish Your Food (Habiskan Makananmu) dengan menyasar target kampanye ke anak-anak yang sedang merayakan ulangtahun di salah satu restoran fast food terkenal. Nah, di sini mulai masalah. Bagaimana cara menarik perhatian anak-anak dan menyampaikan kampanye dengan bahasa yang sederhana? Tik .. tok .. hingga proposal jatuh tenggat waktunya, kelompok saya masih kebingungan mencari metodenya. Akhirnya, teman sekelompok saya yang kocak banget, namanya Rizky, mengusulkan untuk mendongeng. Ide bagus tuh karena anak-anak pasti suka dengan kegiatan story telling, apalagi kalau ada boneka-bonekanya 'kan?

Masalahnya, dongeng apa? Jujur, umur sudah 20-an, sudah banyak yang lupa dongeng apa saja yang biasa didengarkan waktu kecil. Karena diburu waktu nih, nggak sempat buat mencari bahan, akhirnya saya asal ngomong ke kelompok saya "Wis, aku ae sing nggarap dongeng e" (Udah, aku aja yang garap dongengnya).

Dan kemudian .. bikin dongeng itu ternyata susah, Jenderal! Kenapa? Karena tidak mudah menuangkan ide pikiran orang dewasa menjadi bahasa yang disederhanakan ala anak-anak. Selain itu, barangkali karena orang dewasa hidupnya sudah rumit ya, jadi mikirnya juga lebih mbulet. Hihih. Saya sampai semedi di kamar, menghadap layar laptop semalaman hanya untuk cari ide cerita. Akhirnya, setelah berpikir, semedi dan didukung dengan segambreng snack, dongeng made-in saya sendiri jadi. Judulnya Mopi Tersesat di Hutan Makanan. Dongeng ini berhasil diceritakan oleh Rizky dengan gaya ala Pak Tino Sidin-nya yang konyol banget.

Herannya, gara-gara menulis dongeng karena terpaksa itu, saya jadi kembali kangen baca dongeng, lho! Saya baru menyadari, dengan dongeng yang kadang hanya beberapa paragraf saja, bisa bikin imajinasi melayang-layang. Salut dan kagum banget dengan penulis dongeng dan cerita anak yang mampu menyederhanakan jalan pikiran orang dewasa ke dalam tulisan yang gampang dipahami anak-anak. Penting banget membiasakan anak-anak dengan membaca atau mendengarkan dongeng karena bisa merangsang imajinasi anak, menurut saya.

Di masa mendatang, saya berharap bisa belajar menulis dongeng yang baik. Syukur kalau ada yang mau menuangkan tulisan menjadi sebuah ilustrasi dongeng yang lucu ala British kaya karya teman saya, Mas Agung ini:

Supaya apa sih? Supaya nanti kalau saya punya anak nggak perlu bingung beliin dia buku dongeng karena emaknya bisa dongengin sendiri. Hihihi.

Oh iya, kenapa sih saya kasih nama wortel di cerita Mopi Tersesat di Hutan Makanan dengan nama Wortelince? Karena waktu kecil, saya dipanggil sama teman-temannya Papa Mama dengan sebutan Wortel dan gede ini saya sering dipanggil teman-teman Wince. Hihihi. :')

*tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Mamahtira Tira Soekardi. Yuuuk ikutan! Salam mendongeng!*

4 comments:

  1. good luck ya mbak, aku ngontip ah ke GAnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Mak, ayuk ayuk ikutan juga Mak :D

      Delete
  2. mbak Winda, mbak menang GA nya mendapatkan kain batik trusmi Cirebonan, tolong mbak alamat lengkap dan no hp kirim via inbox FB Hastira Soekardi atau via emailku hastira@gmail.com. Selamat ya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Mama Tira, sudah saya kirim via email ya :)

      Delete

"The Words is Mightier Than The Swords" - Edward Lynn-Button
Tinggalkan jejak yang baik, no spamming, junk, dan tinggalkan nama ;)