Wednesday, March 18, 2015

Tentang Menggenggam Pilihan Dan Cabang-Cabangnya

Selama bertahun-tahun, saya tidak pernah percaya dengan kalimat "Hidup itu pilihan". Bagi saya, kadang hidup itu tidak bisa memilih. Kalau boleh memilih, saya mungkin tidak mau duduk di balik meja kerja seperti saat ini. Lebih memilih jalan-jalan lah, solo travelling ke Irlandia ... kalau ada duit dan waktunya.

Pemikiran saya itu didasari bahwa ada beberapa jalan hidup kita sudah ada yang mengatur. Kita tidak memilih. Kita dipilihkan hidup seperti ini oleh yang berkuasa menempatkannya (read: Tuhan). Kita tidak bisa memilih lahir di keluarga mana, keluarga yang seperti apa. Tidak bisa memilih lahir dengan mata, rambut, postur tubuh yang seperti apa. Kalau bahasanya, itu takdir. Termasuk saat saya berpikir, ketika ditempatkan di sebuah keluarga seperti ini, maka jalan hidup saya akan seperti ini. Jika di keluarga itu, maka jalan hidup saya akan seperti itu. Itu mutlak, iya, karena sekian tahun kehidupan kita masih bergantung pada orang tua, setidaknya sampai usia SMP.

Tapi kenyataan berbicara lain, saat saya mulai di ambang kelulusan. Kata-kata "Pa, kalau saya nggak kerja di Surabaya, saya datang interview di KLN saja ya." Di situ saya mulai benar-benar memilih. Memilih jalan hidup yang .. jika saya sekolah lagi, bisa jadi saya tidak akan duduk dengan tumpukan e-mail seperti hari ini di Kapanlagi Network. Jika saya bekerja seperti ini, bisa jadi (dan memang sudah terjadi) saya tidak berdiri mengajar mata kuliah Komunikasi Visual, di depan sebuah ruang kelas di Universitas Ciputra seperti yang diharapkan waktu itu.

Jika dulu perkara memilih hanyalah sebatas bingung menentukan baju mana yang harus dipakaikan ke boneka Barbie saya, sekarang masalah memilih juga melibatkan : (1) perasaan, (2) masa depan, (3) cabang-cabangnya (keluarga, next stepnya mau bagaimana, hasil yang didapat, dsb).

Akhirnya saya menyerah dan mengamini "hidup itu pilihan".

Image taken from : pinkchocolatebreak.com
Apakah kita selamanya mau jadi orang yang begini-begini saja? Ada orang yang memilih seperti itu, ada juga yang tidak.
Apakah ada orang yang mau hubungan cintanya berantakan? Tidak. Tetapi ada yang memilih seperti itu juga.
Ada orang yang memilih untuk hidup tanpa rencana, bahkan hingga mati.
Ada orang yang memilih untuk hidup penuh dengan rencana, tanpa melakukannya. Yah, yang ini masih lebih baik lah.
Ada orang yang memilih untuk hidup dengan rencana, dan mampu menjalani satu demi satu rencananya.

Saya yakin segala kemungkinan dalam hidup, semestinya tidak dipilih dengan acak seperti memilih kucing dalam karung. Kehidupan macam apa yang bisa dijalani dengan cara seperti itu? Jika suatu saat pilihan yang dijalani tidak sesuai harapan, anggaplah itu pelajaran agar tidak terjadi lagi di kemudian hari.

Ada pilihan yang akan menyenangkan hati sang pemilih, tetapi menyakiti hati yang lain.
Ada pilihan yang akan menyengsarakan hati sang pemilih, tetapi menyenangkan hati yang lain.
Tetapi apapun kemungkinannya, seharusnya pilihan itu ada di tangan sang pemilih sendiri. Karena nanti yang akan menggenggam cabang-cabangnya adalah tangan sang pemilih. Apakah sakit, apakah terasa hangat. Semua itu pilihan, pasti ada resikonya.

Karena saat pilihan dipilih, kita "menggunakan kesempatan" itu untuk mengubah hidup kita, baik maupun buruk. Siapa kita saat ini, adalah hasil dari pilihan kita di masa lalu.

Selamat sore!

10 comments:

  1. Nasehatnya orangtua dulu, takdir itu kehendak Allah dan tidak bisa diubah, tapi nasib, manusia bisa mengupayakan untuk kebaikan hidupnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Maak Sary, akupun akhirnya berpendapat seperti itu :)

      Delete
  2. Hidup itu pilihan, mau ngupil pake jari tangan, jempol atau jari kaki win.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh kamu ngupilnya pake jari kaki? Wih lobang idungnya segede Bakabon dong Ric :))

      Delete
  3. Yaampun, nasehatnya masuk banget mak

    ReplyDelete
  4. semakin dewasa, semakin susah2 pilihannya. hahaha
    tapi ya namanya hidup ya gitu ya...

    ReplyDelete
  5. nasihatnya bagus,jadi sekarang percayakan kalau hidup itu pilihan? hehe

    ReplyDelete
  6. Berusaha yang terbaik semampu kita ya mba, Allah sing nentukan...

    ReplyDelete
  7. pilihan memang selalu ditemani dengan yang lain-lain...konsekuensi itu yang terkadang tidak selalu indah. tapi saya percaya, semua yang kita jalani, akan indah pada waktunya :)

    ReplyDelete

"The Words is Mightier Than The Swords" - Edward Lynn-Button
Tinggalkan jejak yang baik, no spamming, junk, dan tinggalkan nama ;)