Wednesday, December 16, 2015

Kisah Nyata Tentang Kesetiaan

Semakin kita besar, kita akan akrab berhadapan dengan yang namanya rasa kehilangan, seperti yang pernah saya tulis di post yang ini.

Tapi, kehilangan selalu punya cerita bersisian dengan kesetiaan. Ada dua kisah tentang kesetiaan yang takkan pernah bisa saya hapus dari pikiran saya. Cerita ini bukan saduran seperti yang biasanya saya tulis di pekerjaan saya, tetapi cerita ini asli dialami sendiri.

Pertama, kisah tentang kakek-nenek saya. Kakek (saya menyebutnya engkong) adalah seseorang keturunan Tionghoa kaya-raya di Tuban. Singkat cerita, beliau bertemu dengan nenek saya (saya memanggilnya emak) yang notabene adalah wanita pribumi biasa saja yang menjadi anak buah Engkong di pabrik waktu itu. Mereka saling mencintai tapi ditentang keluarga Engkong. Biasa, jaman kolonial mikirnya masih status sosial endebreh-endebreh itu.. Apa yang dilakukan Engkong? Engkong rela dibuang keluarganya demi bersama Emak. Hidup miskin dan pas-pasan sejak membangun rumah tangga, padahal Engkong orangnya sangat cerdas. Semestinya bisa hidup lebih layak lagi jika mengikuti kemauan keluarganya. Tapi, ia rela makan nasi pera dan ikan asin dan hidup apa adanya dengan Emak dan 9 orang anaknya. Nasib berkata lain, Engkong meninggal di usia 45 tahun. Dan hingga berpuluh tahun setelahnya, Emak tetap setia pada Engkong dengan tidak menikah lagi. Whatever it goes, Emak dan Engkong tetap setia satu sama lain ... sekalipun sudah beda dunia.

Kedua, kisah Papa-Mama saya sendiri. Berbeda dengan Emak dan Engkong yang ditentang keluarga, kesetiaan versi Papa-Mama ini berbeda. Mama terserang sakit stroke sejak 17 tahun yang lalu, tepatnya waktu saya kelas 2 SD. Di usia yang sangat muda, 45 tahun, seharusnya Mama masih bisa produktif melakukan banyak hal apalagi Mama nggak bisa diminta duduk diam. Ada aja yang dikerjakan. Tetapi, sejak hari itu, Mama sulit melakukan beberapa kegiatan karena kaki dan tangan kanannya lumpuh. Seringkali saya mendengar cerita miris, saat suami/istri sakit, pasangannya akan meninggalkannya demi orang lain yang 'normal'. Tetapi apa yang dilakukan Papa? Papa tetap setia pada Mama, sampai bertahun-tahun setelahnya. Bahkan, sesaat sebelum Papa meninggal, ia dirawat di RS dan Mama di rumah merasa pusing. Papa bahkan menelepon Mama dengan sisa-sisa tenaganya dan mengingatkan Mama minum obat. Papa pun nggak segan membantu Mama memakai baju hingga belanja ke pasar, menguncir rambut saya waktu kecil sebagai bentuk menggantikan tugas Mama terhadap saya.

Dari situ saya sadar: kesetiaan adalah bentuk paling mahal dari sebuah hubungan. Taruhlah mungkin saat ini saya belum punya hubungan serius dengan seseorang. Tetapi bentuk kesetiaan yang saya rasakan akhir-akhir ini justru terlihat dalam hubungan pertemanan. Satu-dua orang lalu pergi begitu saja saat saya sedang berada 'di bawah'. Tetapi seribu yang lain justru datang meski hanya dengan menanyakan kabar : "Halo, Wind. Apa kabar kamu?" saat saya sedang dirundung duka. Satu-dua orang tak peduli dan terus bergunjing kala ada yang dirundung duka. Tetapi sejuta yang lain justru datang menghibur dan mengingatkan saya bahwa "hidup nggak berakhir sampai di sini, Wind. Manage your stress. Kapanpun kamu mau, contact us. Kita nyanyi lagi, ngopi-ngopi lagi ... Main lagi ... Jangan sedih."

Kesetiaan itu mahal. Mungkin saya nggak akan bisa membelinya pakai apapun. Kesetiaan itu bukan perkara saat senang, tetapi saat bagaimana kita tetap ada di sisinya saat dunia sedang tidak bisa diajak becanda, saat dunia ingin membelokkan skenario hidup yang sudah kita rancang sedemikian rupa.

Bagaimana bentuk kesetiaan? Sederhana saja, seperti 5 menit saja duduk diam, membiarkan seseorang menangis karena merindukan suatu hal yang tak bisa lagi disentuhnya ... Kemudian sedikit pelukan hangat yang memastikan semuanya tetap baik-baik saja.

Itulah kesetiaan ...

Sayangnya, tak semua orang mampu melakukannya.
Kalau ke Neverland, jangan lepasin tangan ya. Nanti jatuh | Image taken from pinterest.com

10 comments:

  1. Ya ampun aku terharu banget dg cinta papa ke mamamu. What a love. What a love indeed.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mak Lusi, kesetiaan itu mahal sekali harganya :'(

      Delete
  2. Terharu. Kesetiaan tak putus meski hubungan fisik terputus. Semoga papa selalu tersenyum melihat keluarga mba Winda. Aamiin

    ReplyDelete
  3. and i'm sorry not being a friend who always be there for you. be strong dear..

    ReplyDelete
  4. Kesetiaan emang mahal. Tapi, seyogyanya setiap manusia bisa akan hal itu.

    ReplyDelete
  5. Kesetiaan yan luar biasa, Wind. Terharu baca cerita Papa dan Mama kamu.

    Tegar banget kamu,ya!

    ReplyDelete
  6. Kalau lagi sedih kadang memang bukan nasehat ini itu yang dibutuhkan, tapi sekedar pendengar yang rela menampung cerita sedih kita :)

    salut mbak, dengan kisah kesetiaan papa-mamanya mbak Wind #terharu

    ReplyDelete
  7. Terharu sekali membacanya. Kisah nyata yang bagai dongeng Win ... beruntung sekali WInda dekat dengan mereka :')

    ReplyDelete

"The Words is Mightier Than The Swords" - Edward Lynn-Button
Tinggalkan jejak yang baik, no spamming, junk, dan tinggalkan nama ;)