Thursday, June 2, 2016

Questioning Everything: Semakin Mencari dan Terus Menggali

"Ada dua cara ampuh untuk memahami isi kepala seseorang. Pertama, sambangi tempat ia tinggal dan lihat koleksi bukunya. kedua, luangkan waktu yang amat panjang dan ngobrol-lah dengan dia." -- Ananda Badudu, vokalis Banda Neira

Ini adalah kutipan testimonial dari Ananda Badudu, vokalis band Banda Neira, yang tersemat di bagian atas sampul belakang buku Questioning Everything: Kreativitas di Dunia Yang Tidak Baik-Baik Saja. Buku ini sukses saya tandaskan dalam waktu 3 hari saja, di malam sebelum saya tidur dan membuat saya termanggut-manggut sambil membayangkan situasi Tomi Wibisono dan Soni Triantoro, kedua penulis buku ini, berhadapan dengan puluhan bahkan ratusan tokoh yang diwawancaranya.

Questioning Everything awalnya saya pikir adalah buku biasa yang berisi rekam tulisan wawancara berbagai tokoh penting di dunia seni Indonesia. Sebut saja: Remy Sylado, Joshua Oppenheimer, Jerinx, Seno Gumira Ajidarma, Puthut Ea hingga Begundal Lowokwaru dan ((AUMAN)) yang terkenal 'nyeleneh' pada scene-nya masing-masing. Tetapi, membaca part per part buku ini, saya jadi tidak bisa berhenti dan terus ingin tahu. Depth-interview, mungkin lebih tepatnya. Meski beberapa nama di antaranya cukup baru buat saya, tapi saya jadi makin penasaran, dan akhirnya bertanya ke Google tentang sosok-sosok dalam buku ini.

questioning everything warning magazine
Image taken by Winda Carmelita
Membaca part demi part wawancara yang sebagian dimuat di Warning Magazine ini, sangat menyenangkan. Saya senyum-senyum sendiri saat membaca bagaimana Sheila On 7 awalnya datang ke Jakarta dan 'diberi' baju-baju bekas pakai milik karyawan Sony Music karena penampilan mereka yang sungguh luar biasa ... ndesone. Iya, baju bekas pakai punya karyawan lho, saking mereka datang ke Jakarta tanpa bekal apapun. Lalu wawancara dengan band Sangkakala juga menarik. Mereka mendeskripsikan sendiri arti glam rock dan hubungannya dengan fashion glam pada masanya.
"Fashion animal itu 'kan sebenarnya pattern yang mahal. Enggak semua orang bisa beli. Makanya pemakaian istilah glamour juga dari situ" -- Sangkakala (p. 262)
sheila on 7 warning magazine
Salah satu penggalan wawancara bersama Sheila on 7 | Image taken by Winda Carmelita

Meski bekerja di bidang media, kalau boleh jujur, kemampuan saya untuk mewawancarai seseorang secara mendalam, masih minim. Meski dulu berkuliah di jurusan Komunikasi, barangkali saya waktu di kelas lagi ngowoh makanya beberapa istilah jurnalistik di buku ini, seakan menyegarkan kembali ingatan saya. Bagi saya, sederhananya buku ini menjadi inspirasi. Bagaimana duo Warning Magazine ini bisa mengajak orang awam sekalipun untuk menikmati lembar demi lembar obrolan kaya gizi dengan tokoh-tokoh di dunia kreatif yang peka kondisi sosial-politik di tanah air, mengajak kita untuk tidak hanya sekedar berhenti pada kurang lebih 10 lembar wawancara tiap tokohnya. Tetapi menimbulkan rasa penasaran lebih dalam, sehingga kita akan terus haus untuk mencari lebih dalam lagi melalui berbagai sumber.

Walau pada suatu sore di bulan Mei kemarin saya tak sempat menyimak dengan serius acara diskusi bedah buku dalam rangka tur buku ini (soalnya sambil nggarap kerjaan di meja sebelah), tapi saya senang karena mengabadikan momen bersama teman-teman dari Warning Magazine, Mas Tomi dan Mas Soni, khususnya. Sungguh, setelah membaca buku ini, saya jadi paham kenapa akhir-akhir ini saya suka grisihen sendiri. Ternyata saya kurang baca buku, lama tidak mengisi otak dengan sesuatu yang membuatnya merasa 'penuh'.

Banda Neira Ananda Badudu
Graphic designed by Winda Carmelita
Membaca ini membuat saya semakin haus akan dunia kepenulisan kreatif. Tidak ada teori yang akan berhasil tanpa praktek nyata dan latihan terus menerus, pun dengan kemampuan berwawancara,  mentranskrip, menulis dan menyampaikan dengan baik, pesan demi pesan yang diucapkan. Mas Tomi dan Mas Soni telah menenggelamkan diri dalam dunia kepenulisan kreatif ini dan saya berharap mereka tidak akan pernah mentas, karena sesungguhnya kita semua, baik pecinta musik, seni dan film maupun orang awam, selayaknya melumat habis asupan otak seperti buku Questioning Everything ini.

Eh lha kok habis beli bukunya, ternyata dikasih 'kenang-kenangan' di bagian dalam bukunya oleh Mas Tomi:



"Buat Winda Carmelita,
Banyak baca, banyak nulis.
Banyak lagu, harus rilis."

Yes, will do that. Amin! Thanks for reminding, Mas!
Terimakasih karena buku ini telah menginspirasi :)

Yuk, ikutan Giveaway for Booklovers di blognya Anne Adzkia

21 comments:

  1. judulnya tempting banget mbak. questioning everything.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banget Mbak, pada dasarnya kita semua manusia selalu ingin mempertanyakan banyak hal :D

      Delete
  2. Ahi hi hi sebenarnya saja juga suka penasaran banget mau tahu apa sih yang sedang dipikirkan oleh orang lain tapi susah banget tuh, ahi hi hi.

    ReplyDelete
  3. kayaknya harus baca bukunya nih, sepertinya bagus ya. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, coba deh pesan bukunya ke teman2 Warning Magazine. Bisa kontak via websitenya :)

      Delete
  4. hai winda carmelita nice to meet you this is my first time blogwalking to your page and I love how you wrote amazingly in bahasa Indonesia with proper punctuation.

    *nyengir*
    seriusan tapi, you're talented dan iya I agreed on "banyak lagu, harus rilis" :)))
    komen ini nyambung gak sih :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku mikir 2 detik lho sampai akhirnya ... "lho ini kan liaaaak!" Huahahaha ...

      Delete
  5. kayaknya menarik ini buku, apalagi dengan nama-nama narasumber yang cukup menggelitik rasa ingin tau saya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menarik sekali Mbak, bolehlah dicoba pesan bukunya hehehe

      Delete
  6. Baru tahu nih buku ini mbak. Judulnya ngena dan bikin penasaran buat mbaca. Spertinya konteks tulisannya amat menarik hhee

    sukses utk lombanya mba ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih Mbak ^^ Bukunya menyenangkan sekali untuk dibaca, jadi bisa tahu pemikiran banyak orang tentang suatu hal :)

      Delete
  7. Waaa jadi penasaran pengen baca bukunya..
    Btw quotesnya keren bgt mba :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, inspiring banget ya Ananda Badudu punya hehehe

      Delete
  8. Wouh artikel ini racun, saya mupeng pengen baca bukunya. Wajib koleksi nih. Biar otak dapat asupan yang bergizi :)

    ...semoga yang kamu percaya patut dipercaya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi aku membawa racun ya Mbak? Yes, ini bukunya sukses meracuni saya juga sebelumnya, baca 1 part aja dari punya temen trus langsung beli

      Delete
  9. ini buku bisa jadi salah satu acuan kalau kita mau belajar mewawancara, ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mak, ini salah satu buku tulisan orang Indonesia yang bagian per bagian wawancaranya sih singkat, tapi padat

      Delete
  10. Jadi terpacu utk maju,siiip.Semoga mbk Winda yg multitalented ini bisa release lagu2 yg ngehits bgt.AminπŸ™πŸ™

    ReplyDelete
  11. Diskusi dengan seseorang seputar buku yang dibacanya memang bikin kita memahami isi kepalanya ya. So inspiring mbak. Makasih udah ikut GAnya yaa.

    ReplyDelete
  12. Ikut melansirkan link rehal buku ke: http://blog.insist.or.id/insistpress/id/arsip/15391

    ReplyDelete

"The Words is Mightier Than The Swords" - Edward Lynn-Button
Tinggalkan jejak yang baik, no spamming, junk, dan tinggalkan nama ;)