Life-Changing Perspective In My Late 20s

10:16:00 AM

Ngalup.co
Di usia sekarang ini, yang paling rajin mampir ke saya adalah kedatangan teman-teman yang diwakilkan dalam bentuk undangan nikahan. Rajin banget, hampir setiap minggu ada. Sebagai Ibu Menteri Keuangan Negara begini ya, harus pintar-pintar membagi jatah per-buwuh-an dan juga memilih mana undangan yang harus dihadiri atau bisa diwakilkan saja.

Suatu hari saya nyeletuk ke teman saya, Rangga,

"Akeh'e sing rabi ... (Banyak banget yang menikah)"
"Yowis wayah e, Win, wis meh 30 tahun iki." (Ya sudah waktunya, sudah hampir 30 tahun.)
"Ha .. ha .. ha ... Kok wis semene seh? :/" (Kok sudah segini (umurnya) sih)

Mendengar kata 'sudah hampir 30 tahun', rasanya saya terkagum-kagum ... Pada diri sendiri ... yang masih suka lupa umur. Berasanya masih 18 tahun terus. Padahal, kalau disadari secara mendalam:

  • Umur 17 tahun itu artinya "Sudah 10 tahun yang lalu"
  • Saya masuk kuliah 9 tahun yang lalu
  • Lulus kuliah sudah hampir 5 tahun
  • Sudah separuh lebih menjalani usia 20-an
Sebagian teman-teman saya mengalami perubahan hidup yang cukup signifikan, salah satunya adalah menikah dan punya anak. Harus diakui keduanya yang membuat hidup terasa 'berbeda'. Tetapi karena saya belum mengalami keduanya, antara usia awal 20-an sampai sekarang ini, secara keseharian terasa mengalir terus. Masih berinteraksi dengan teman-teman yang sama zaman sekolah dan kuliah, masih mendengarkan musik-musik yang sama ...

Tapi harus diakui, antara usia awal 20-an dengan akhir 20-an ini, yang berbeda adalah bagaimana tanggung jawab dan keputusan yang diambil membentuk cara pandang, terutama shaping and planning our future. Saya sangat merasakan itu secara personal, mulainya sejak usia 24 tahun. Saat itu saya mengalami titik balik dalam hidup yang secara sadis seperti menampar saya bolak-balik sampai puyeng.

Segala pelajaran itu mengantarkan saya pada perubahan perspektif memandang segala hal yang terjadi. Pun, saya bertemu dengan banyak orang dengan kisah hidup yang berbeda-beda dan ini yang bisa saya bagikan ke kamu semua yang baru saja menjalani hidup di awal usia 20-an atau pun sebaya dengan saya saat ini.


#1: Investasi, investasi, investasi



Kata-kata "investasi" biasanya merujuk ke urusan finansial. Hal yang saya pelajari di akhir usia 20-an ini adalah belajar mengelola kerja keras selama ini. Salah satu bentuknya adalah investasi keuangan. Sederhananya, nanti di masa tua saya tidak ingin merepotkan orang lain, terlebih anak-anak saya nanti. Jadi, mumpung masih muda dan produktif, uang itu dikelola, bukan dipamerkan apalagi dihamburkan.

Investasi bukan hanya perkara finansial. Di akhir usia 20-an, kita semakin sibuk dengan pekerjaan. Terkadang pekerjaan yang monoton dan bikin kita malas belajar. Harus dicambuk untuk 'berinvestasi' dalam bentuk meluangkan waktu mendalami sesuatu sampai expert. Pulang kerja, sempatkan kalau ada kelas-kelas gratis atau workshop. Saya mulai menginvestasikan waktu dan investasi networking untuk hal-hal seperti ini, soalnya mau lanjut sekolah lagi nggak tahu kapan jadi manfaatkan belajar dari siapa saja dan dari mana saja:')

Investasi merawat diri juga penting. Dulu saya pernah berpikir, kalau orang asyik diajak ngobrol dan cerdas, nggak perlu lah dandan. Otak lebih penting daripada fisik. Ternyata saya salah. Dengan merawat diri artinya kita menghargai diri sendiri dan menghargai orang yang kita ajak ngobrol. Toh, meluangkan waktu 10 menit buat masker wajah won't hurt anyone. Sesederhana rajin pakai pelembab, sunscreen dan masker wajah, tapi itu investasi kecil supaya nggak cepat terkena penuaan dini.

Tips: Coba deh pagi-pagi masukkan masker wajah (sheet mask) ke kulkas. Pulang kerja, setelah mandi atau mau tidur, pakai deh tuh maskernya. Adem ~ Capek-capek hilang deh.

Tentang ini, saya tulis di post sebelumnya, "Berdandan Bukan Karena Endel, Tapi Menghargai Diri Sendiri."

#2: Managing, managing, managing



Masalah di usia akhir 20-an adalah masalah tentang managing. Untuk hal ini, saya menganggap "managing" lebih tepat diartikan sebagai "mengelola" ketimbang "mengatur", karena mengelola itu lebih kompleks dan melibatkan banyak pertimbangan.

Nggak bisa mengelola prioritas, berakhir dengan nggak tahu tujuan hidup dan how to reach your goals. Nggak mampu mengelola waktu, emosi dan stres, akhirnya hanya mengeluh-mengeluh-mengeluh, kurang bersyukur dan terkena penyakit hati yang kronis. Nggak mampu mengelola hubungan dengan orang lain, akan kehilangan banyak kesempatan mengembangkan diri.

Hidup hanya dilewati, bukan dijalani dengan 'hidup' jika kita nggak pandai-pandai mengelola. Segala hal tanpa pengelolaan yang baik hanya akan semakin berat dijalani.

#3: Keputusan sepenuhnya ada di tangan kita



Saya sempat membaca sebuah tulisan di sebuah blog. Saya lupa siapa penulisnya. Intinya adalah, "Kamu tak bisa memilih lahir di keluarga yang mana. Kalau kamu dilahirkan di keluarga yang miskin, jangan mengutuk orang tuamu tapi 'kutuk'lah dirimu jika sampai dewasa kamu tetap tidak mampu mengubah hidupmu. Keputusan ada di tanganmu."

Keputusan untuk bekerja di perusahaan A, resign dan lebih memilih pekerjaan B atau di rumah saja menjadi ibu rumah tangga, usia hampir 30 tahun dan belum kunjung menikah ... Semua keputusannya ada di tangan kita. Orang lain boleh memberi masukan, berhak menilai apa yang kita pilih, tetangga boleh bergosip tentang status kita. Tapi pada akhirnya kita lah yang menjalani hidup, sepaket lengkap dengan segala keputusan, konsekuensi dan komitmen yang kita pegang. Don't let society belittle you.

Kita sudah besar dan sudah mampu memutuskan apapun dalam hidup kita. Tinggal sekarang, mau memutuskan jadi orang yang seperti apa.

#4: Bersiaplah dengan berbagai kekecewaan dan kehilangan



Tentang kehilangan, ini adalah salah satu hal yang menjadi turning point saya setelah meninggalnya Papa tahun 2015 yang lalu. Di usia akhir 20-an, orang tua semakin menua dan kita nggak pernah tahu seberapa Tuhan menganugerahkan usia kepada mereka. Tapi pasti semua orang akan ditinggalkan, dengan atau tanpa pamit. Ini adalah kenyataan pahit yang harus dihadapi.

Setelah peristiwa itu, saya akhirnya melihat bahwa kita semua harus siap dengan segala kondisi yang tidak sesuai dengan harapan. Karena semakin dewasa semakin banyak hal-hal di dunia ini, yang kita rencanakan, tidak terkabul. Saya masih belajar untuk menerima poin ini.

Perasaan kecewa dan kehilangan yang dibiarkan berlarut-larut karena hanya akan membuat kita terus berkubang di dalam kolam lumpur dan tidak realistis menjalani hidup. Face it, raise up and fight it. 

#5: Be realistic, be logic



Di umur awal-awal 20an, saya punya idealisme tinggi terhadap satu-dua hal. Ya tentang passion, ya tentang prinsip hidup. Tetapi, semakin bertambah tanggung jawab dan semakin banyak ketemu orang, saya akhirnya belajar bahwa "idealis boleh, tapi harus realistis."

Saat bertemu dengan fakta bahwa ada mulut yang harus diberi makan, tagihan listrik dan air yang harus dibayar, di situlah saya belajar untuk harus realistis. Mencari pekerjaan yang realistis memberikan pemasukan cukup walau tidak berlebih setiap bulannya dan saya tetap bisa berkarya.

Seorang teman pernah berkomentar, "Kok bisa sih kamu cuma duduk aja di depan komputer seharian? Pulang ke rumah masih ngadep komputer lagi, nulis. Kalo aku sudah nggak bisa, nggak jalan otakku kalau nggak dibebasin gitu." Saya jawab, "Kalau kamu sudah beda beras lima ratus perak per kilo jadi masalah dan kamu punya tanggung jawab yang harus dipikul, di situ kamu berubah jadi orang yang realistis."

Idealisme memelihara kita supaya tidak mudah goyah, passion harus ditemukan agar kita tetap bersemangat menjalani hidup. Tapi kita harus tetap realistis, karena semakin dewasa hidup bukan hanya perkara memikirkan "ke-aku-an", tapi "kita" 'kan?

I'm still learning, and never ending learning. Dulu saya pernah 'marah' dengan keadaan, "Kenapa harus saya yang A, B, C, D ... Kenapa nggak ada yang mau bantu?" Akhirnya saya merasa bahwa saya harus belajar banyak hal dan solve the problem by myself.

Bersyukurlah kalau kita harus ditempa hal-hal seperti ini sebelum usia 30 tahun. Let's make the 30s more fabulous!

Mengutip tulisan Fellexandro Ruby dalam IG storiesnya,
"20s - Me, me, me
30s - Value, value, value"

Love,
Winda, in a journey to discover myself, sambil tetap nontonin video-video konyol 7 kali sehari.

You Might Also Like

2 comment

  1. Emamg kita ini udah lahirnya samaan, yang dipikir juga samaan. Haha... cocok!

    Makin berumur, makin mikir masa depan. Jangan sampai skarang boros besoknya kurang.
    Tapi bukan berarti kita trus ya pelit sama diri sendiri. Soalnya ya... itu motivasi hidup. Hargain diri sendiri maka kita merasa bernilai uhuyy!

    ReplyDelete

The Words is Mightier Than The Swords" - Edward Lynn-Button
Tinggalkan jejak yang baik, no spamming, junk, dan tinggalkan nama ;)

Popular Posts

Blog Archive

Google+ Followers

Part of

Warung Blogger
Blogger Perempuan

Voucher Diskon 15% Zalora Indonesia

Voucher Diskon 15% Zalora Indonesia
Diskon 15% Zalora Indonesia