Mopi tersesat di Hutan Makanan

Suatu malam, Mopi sedang makan malam bersama keluarganya. Di meja makan tersedia banyak makanan. Ada ayam goreng, sup sayur, pudding.. Wah, semuanya tampak enak!

Ibu Mopi menuangkan sup sayur ke mangkok makanan Mopi dan meletakkan secentong nasi dan sepotong ayam goreng ke atas piring Mopi. Mopi melahap ayam gorengnya dengan lahap. Nyam.. Nyam.. Nyam.. Tapi Mopi tidak menyentuh nasinya sama sekali.

“Mopi, ayo nasinya dimakan juga,” kata ibunya. “Nanti nasinya menangis kalau tidak kamu makan. Sup sayurnya juga dihabiskan ya.”
"Ah, Mopi nggak mau, Ibu. Mopi nggak suka sayur, nggak enak.”
“Mopi harus habiskan sayurannya supaya Mopi sehat.”
Mopi diam saja. Ia selalu menyisihkan sayuran di pinggir piringnya karena ia tidak suka sayuran.

Ketika ibunya pergi ke dapur, diam-diam Mopi beranjak dari duduknya, membawa mangkuk supnya dan menuangkan isinya ke tempat sampah kemudian bergegas kembali ke tempat duduknya. “Ah, yang penting Ibu melihat isi mangkuk sup sayurku habis,” ujar Mopi dalam hati.

Malam hari, Mopi tertidur di kamarnya. Seharian bermain membuatnya lelah.




“Di mana ini?” ujar Mopi dalam hati. Kamarnya berubah menjadi sebuah hutan yang gelap. Sepi, tidak ada siapapun kecuali dirinya. “Ibu? Ibu dimana?”

Tidak ada sahutan.

Mopi terus berjalan ke selatan berbekal dua ekor kunang-kunang sebagai penerang jalannya. Tiba-tiba Mopi mendengar sebuah suara yang menangis tersedu-sedu, “Huhuhuhuhu…”

“Halo, aku Mopi, mengapa kamu menangis?” Tanya Mopi.

Ternyata yang menangis adalah sebuah Kacang Polong. “Aku sedih, seseorang tidak menyukaiku. Ia menyisakan aku di piringnya sewaktu makan malam tadi.”

“Wah jahat sekali dia,” ujar Mopi. “Siapa yang membuatmu sedih?”

“Namanya Mopi.”

Wusssh! Tiba-tiba kacang polong itu menghilang. Mopi kembali melanjutkan perjalanannya. Langkahnya terhenti ketika ia menemui sesosok yang duduk membelakanginya. “Halo, kamu siapa? Mengapa kamu duduk sendirian di sini?”

“Aku Wortelince. Aku tersesat di sini. Seseorang membuangku ke tempat sampah yang bau dan gelap. Seharusnya aku tidak di tempat ini, tapi Mopi yang membuatku berada di sini.”

Mopi terkejut. Wortelince? Jangan-jangan Wortelina berasal dari mangkuk sayur yang dibuangnya tadi sewaktu makan malam.

Mopi mundur beberapa langkah dari tempatnya ketika ia merasa ada tepukan keras di pundaknya. “Berhenti! Kamu Mopi kan?”

Dua bongkah Kubis tampak marah. Mereka mencengkeram pundak Mopi kuat. “Kamu yang membuang kami ke tempat sampah ‘kan?”

“I-iya,” Dengan terbata-bata Mopi menjawab.

“Kamu tahu, ibumu susah payah membuat makanan yang lezat untukmu! Tetapi kamu malah membuang kami ke tempat sampah!”

“Mopi harus menghabiskan makanannya!!” Sebuah suara yang berasal dari belakang Mopi, berteriak. Ternyata Wortelina, Kacang Polong, Nona Seledri dan teman-temannya yang lain, bergerak mendekati Mopi dengan marah. “Tangkap Mopi!”

Mopi berlari dari mereka, secepat mungkin yang ia bisa. Hutan tampak gelap dan ia ketakutan. “Tolong! Tolong aku! Aku berjanji akan menghabiskan makanankuuuu!”

Tiba-tiba Mopi terbangun. Ia gembira melihat Ayah dan Ibunya berdiri di samping tempat tidurnya. “Jangan takut, Mopi. Kami akan bersamamu dan kamu akan segera lupa dengan mimpi burukmu.”

Mopi tertidur lagi dan keesokan paginya ia merasa lebih baik.

Ketika makan pagi, ia melahap semua makanan di atas piringnya dengan penuh semangat. Bahkan sayur-sayuran yang selama ini dibencinya, semua habis tak ada sisa. “Terimakasih, Ibu, sudah menyiapkan makanan yang lezat buat Mopi,” kata Mopi sambil mencium pipi ibunya. “Mulai sekarang Mopi mau menghabiskan makanan Mopi. Semuanyaaaa!”

Ia tidak mau lagi kembali ke Hutan Makanan yang menyeramkan. Sejak saat itu, Mopi selalu menghabiskan makanan di piringnya tanpa sisa sedikitpun.

Komentar

Postingan Populer