#DiRumahAja dan Social Distancing


Nggak pernah kepikiran kalau bakal ngalamin yang namanya pandemik yang bikin panik seluruh dunia, karena virus Corona. Beberapa minggu yang lalu sih mungkin orang-orang mikirnya virus ini hanya akan menyebar di Wuhan dan sekitarnya. Tapi penyebarannya sangat cepat dan meliar, banyak banget yang positif kena hingga meninggal. Sekarang seluruh dunia udah ambil sikap, termasuk Indonesia.

Kabar terakhir, kemarin (20/3), Malang udah masuk zona merah karena ada dua orang yang meninggal karena virus ini. Seruan work from home makin gencar dan pemerintah mengeluarkan himbauan agar menjaga jarak dengan #dirumahaja, membatasi aktivitas di tempat-tempat umum. Mall tutup lebih awal, sekolah dan kampus diliburkan selama dua minggu, tempat-tempat makan dan cafe dilarang melayani dine-in (tapi take away masih boleh).

Sebagai rakyat freelancer yang sudah biasa kerja dari rumah sejak setahun lalu, himbauan ini susah-susah gampang dijalani. Susahnya, karena sampai minggu ini saya masih harus keluar rumah karena memang ada beberapa kegiatan dan pekerjaan yang nggak memungkinkan buat dikerjakan di rumah. Misalnya, take voice over. Harus ke studionya Up. Kemudian, take voice dan photoshoot buat Good Boy Jimmy, harus ke studio AA.

Tapi mulai Jumat kemarin, saya benar-benar hanya di rumah saja. Fokus menyelesaikan menulis artikel dan menggarap project yang untungnya nggak butuh keluar rumah kalau kerjaan yang hubungannya sama menulis ini. Cuma susahnya adalah ... keinginan buat pergi keluar rumah, jalan pagi-sore, beli jajan di Indomaret hahaha ~ Ya gak papa keluar rumah, asal dengan prosedur yang benar dan keperluannya jelas. Nggak nongkrang-nongkrong di coffeeshop dan keluyuran nggak jelas.

Dampak dari pembatasan aktivitas ini memang terasa banget. Apalagi buat pemilik usaha kuliner, ojek online, pasar, event organizer, tempat wisata, kru panggung dan kru musik, dan sektor-sektor bisnis yang roda aktivitasnya bergerak di lapangan. Teman-teman pemilik usaha kuliner di sekitar saya, benar-benar putar otak supaya masih bisa bertahan di masa krisis ini. Yang belum go online, akhirnya bikin kebijakan-kebijakan khusus supaya reachable dan menawarkan promo-promo. Memang sulit, bahkan ada yang sampai harus meliburkan karyawannya (dalam artian tutup total) karena nggak ada yang berkunjung artinya nggak ada pemasukan dan nggak bisa membayar gaji karyawan dan biaya produksi.

View this post on Instagram
A post shared by boleh mampir (@hamur_dieng) on




Sedih sih, apalagi bentar lagi mau Paskah, Ramadan dan Lebaran. Tempat-tempat ibadah juga membatasi aktivitas, meniadakan ibadah bersama tapi masih bisa beribadah di rumah masing-masing (kebanyakan gereja mengadakan misa dan ibadat live streaming di Youtube). Tapi gimana lagi namanya juga bencana ya. Harus ada yang dikorbankan demi kebaikan bersama.

Jaga kesehatan, rajin cuci tangan dan kurangi interaksi yang tidak perlu. Semoga badai keprihatinan ini segera berlalu ya.

Image taken from pexels.com/cottonbro

Comments

Popular Posts