Self-Love


Self-love. Mencintai diri sendiri.
Semakin dewasa, semakin banyak harapan dan keinginan kita yang tidak terkabul.
Pengennya sih, semua orang bisa menerima diri saya apa adanya, sepaket lengkap.
Tapi, yang namanya kehidupan dan bersosialisasi, selalu memunculkan gesekan-gesekan yang terkadang menyiram bensin berupa amarah dan kebencian.

Parahnya, kebencian itu seringkali dialamatkan ke diri sendiri.
Merasa tidak puas.
Merasa tidak mampu.
Merasa sering mengecewakan orang-orang di sekitar.
Merasa malu, entah karena bisikan yang mampir ke telinga kita, atau pun karena suara hati yang selalu ragu akan diri sendiri

Self-love bukan sekadar mencintai lemak-lemak yang hinggap di perut, pinggang, paha dan lengan kita
Tetapi, bagi saya, self-love itu mulai berolahraga lagi meski ringan-ringan saja, untuk menyeimbangkan aktivitas yang lebih banyak duduk ketimbang bergerak, dan kebiasaan buruk lain yang pelan-pelan ingin saya kurangi

Self-love bukan sekadar menelan mentah-mentah soal "tubuhku, otoritasku"
Tetapi, bagi saya, self-love itu merawat dan menyayangi semua yang melekat di tubuh saya, dan tentunya bertanggungjawab atasnya.

Jika bagi seseorang, self-love adalah punya tattoo dan piercing di tubuhnya, dan itu membuatnya  merasa lebih merdeka, mengapa tidak?
Karena standar kebahagiaan masing-masing orang berbeda, mereka punya kisah dan luka di masa lalu yang perlu dipelihara dan diobati dengan caranya tersendiri.

Jika bagi seseorang, self-love adalah mengubah penampilan, mengapa tidak?
Mungkin saja dengan mengubah penampilannya, ia menemukan dirinya yang dulu pernah hilang dan terkungkung dalam batasan-batasan yang tidak pernah bisa dipahami orang lain?

Self-love bisa saja memutuskan keluar dari relasi yang toxic 
Self-love bisa saja mengakhiri hubungan yang manipulatif
Self-love bisa saja pergi nyalon, pijat, mewarnai rambut, meni-pedi sampai puas
Self-love bisa saja bepergian ke luar kota sendirian
Self-love bisa saja seharian tidak melakukan apapun tanpa merasa bersalah, setelah melewati seminggu yang sibuk dan menyita pikiran
Self-love bisa saja menjadi lebih asertif dan berani berkata "tidak" atau "saya tidak setuju"
Self-love bisa saja dengan menangis dan melepaskan beban yang bikin dada sesak
Self-love bisa saja dengan mencari bantuan ke profesional saat merasa dunia sedang tidak baik-baik saja dan kita tak bisa mengatasinya sendiri

Bagi saya, self-love adalah kepuasan, kebanggaan dan kelegaan terhadap diri saya sendiri. Saya melakukannya karena saya berharga untuk berbahagia, bersyukur dan tetap hidup.

Sulit sih, tapi semoga kita semua bisa merayakan kemerdekaan atas pilihan-pilihan mencintai diri sendiri :)

Image taken from pexels.com/Allie Smith

*) Saya memutuskan membuat satu label baru lagi di blog ini, yaitu 'Jot Down' yang berisi opini atau pengalaman sehari-hari, dalam tulisan yang cukup singkat. Saya sering terhambat menyelesaikan tulisan di blog, karena saya merasa harus menulis yang detil dan panjang, tetapi seringkali saya bingung sendiri dengan pengembangan tulisannya. Akhirnya, tulisan itu terbengkalai begitu saja di draft dan tidak pernah terselesaikan. 

Semoga dengan label 'Jot Down' ini jadi makin rajin menangkap pikiran-pikiran yang berhamburan dan menyusunnya jadi tulisan yang bisa dibaca orang lain, terlebih lagi membuat hati saya lega dan puas :)

Comments

Popular Posts