Malaikat di Sekitar Kita




Saat kita sedang merasa di bawah, lemah, dan tidak berdaya
Terkadang yang kita pilih adalah diam, menjauh dari kerumunan, berusaha mengurai ruwetnya benang pikiran, memendamnya sendiri

Di saat itulah, sebetulnya Tuhan mengirim malaikat penyelamat lewat berbagai cara dan wujudnya.

Kadang kita yang lupa, "mereka datang lewat berbagai cara dan wujudnya."

Entah itu lewat orang yang tampak sekadar mendengarkan keluh-kesah kita,
Kiriman makanan rumahan sederhana,
Cookies dan susu jahe yang tiba-tiba sampai di depan rumah mewakili pelukan untuk menenangkan,
Gambar-gambar lucu yang memancing tawa,
"Eh, kamu tau nggak sih?",
Video tingkah laku kucing yang menggemaskan,
Sapaan, 'Halo, apa kabarmu?' dari teman lama,
Ungkapan cinta, 'I love you' yang dulu mungkin setiap hari kamu telan mentah-mentah, tak terasa manis lagi kecapnya,
Kecerewetan yang memuakkan bagi kita, tapi sebetulnya hanya ingin memastikan kita baik-baik saja,

... dan hal-hal kecil lainnya, yang kelihatannya tidak begitu berarti.

Kita lah yang punya pilihan, untuk menerima kehadiran mereka atau menampiknya begitu saja.

Kadang yang kita (juga) lupa, 'malaikat-malaikat' itu hadir bukan karena mereka suci dan telah sempurna hidupnya,
Tapi mereka datang mengulurkan tangan, sementara mereka sendiri menahan perih lukanya masing-masing.
Yang mungkin tidak kita ketahui, tidak kita sadari.
Karena kita sibuk merasa menjadi 'manusia paling tidak beruntung sedunia.'

Situasi hari ini, tidak mudah. 
Dan tidak perlu kita bermanis-manis bahwa yang kita hadapi ini "baik-baik saja."
Semua orang sedang menghadapi 'neraka'nya masing-masing. 



Comments

Popular Posts