Cerita Berat Badan Turun 10 Kilogram Dalam Enam Bulan

 

Ki: 66 kg (Mei 2020) - Ka: 55 kg (Feb 2020)
Kalau soal pipi, tentu saja saya berserah :')


Ola!

Tulisan terakhir di blog ini tertanda tanggal 31 Desember 2020. Berarti tulisan yang ini adalah yang pertama di tahun 2021. Sebuah keterlambatan yang signifikan karena ini sudah bulan Februari. Ke mana aja kamuuuu? 

To be honest, sejak bulan September 2020 sampai hari ini (dan beberapa bulan mendatang) banyak sekali hal yang saya lakukan. Mulai dari persiapan opening bisnis baru berupa cafe-creative hub yang saya running bersama teman-teman, shooting music video band teman, sampai ke depannya adalah project dengan band saya sendiri yang lumayan lama terbengkalai itu πŸ˜‚ I'll talk about this later ya!

Beberapa orang menyadari ada perubahan besar dari saya. Yang dua terlihat adalah saya semakin gila-gilaan mengerjakan banyak hal, dan perubahan dalam hal berat badan. Singkat cerita adalah saya berhasil menurunkan berat badan sebanyak 10 kg sejak bulan Agustus 2020 hingga Februari 2021 ini. Awalnya 66 kg sampai sekarang 56 kg. 

Mungkin penurunan berat badan ini nggak begitu banyak ya, cuma 10 kg. Enam bulan pula. Diwarnai dengan timbangan yang stuck di angka 58 kg sampai bertanya-tanya, "Apa yang salah?", sampai akhirnya sekarang cukup bertahan di angka 55-56 kg, tergantung di hari itu sudah BAB apa belum, dan apakah di hari sebelumnya cukup rakus apa nggak (per 24 Februari 2021).

Cerita Dimulai dari Sini ...

Berat badan terberat yang pernah saya alami adalah 63 kg, di masa kuliah. Sampai awal masuk kerja tahun 2014-an, berat badan saya masih di angka 60 kg-an. Kemudian karena waktu itu sibuk bekerja dan Papa sakit parah-parahnya, di tahun 2015, berat badan saya turun sekitar 58 kg-an. Sayang sih nggak ada simpen fotonya. Tapi yang jelas dengan berat badan segitu dulu, saya pernah dikira turun berat badan karena sakit. Soalnya keliatan nyowong gitu wajahnya. Malesin banget.

Nah, berat badan saya mulai naik lagi di tahun 2017. Sampai di tahun 2019-2020 awal kemarin, berat badan saya ada di angka 61 kg-an. Menginjak bulan Mei 2020, saya mengalami kejadian nggak enak yang membuat saya kesulitan menjalani hidup dengan berkualitas. Ada obat-obatan yang saya minum, yang salah satu dampaknya bikin saya jadi gampang lapar. Saya melampiaskannya dengan banyak sekali makan untuk mengobati kekosongan diri. Jelek banget lah ini. Akibatnya, selama Mei-Oktober 2020, siklus menstruasi saya kacau. Siklusnya bisa sampai 40 harian lebih. 

Saya sempat ngobrol sama teman, menimbang-nimbang apakah saya harus kembali konsultasi untuk membicarakan dampak obatnya terhadap siklus menstruasi saya atau kah memang ada yang nggak beres sama kesehatan reproduksi saya. Tapi saya mendapatkan pencerahan yang lain, "Kayaknya aku coba olahraga dulu deh."

Waktu itu berat badan saya 66 kg, sedangkan tinggi badan saya 153 cm. Dilihat dari BMI-nya, angka yang muncul adalah 28,2. Termasuk kategori overweight. Batas atas dikit lagi sudah masuk ke kategori obesitas. Gile. Takut banget! Dan di badan berasa nggak enak banget. Gampang ngantuk, ngos-ngosan, kurang bugar, laperan.

Berhubung saya jarang punya foto-foto selfie, bukti saya beratnya 66 kg ada di video ini:


Rutin Jalan Kaki



Kalau ada orang bilang diet itu gampang, yang sulit niatnya, memang itu harus diamini paling serius. Saya mikir, olahraga apa ya yang gampang dilakukan? Dulu sempat ngegym, tapi karena pandemi 'kan tempat gym masih tutup waktu itu. Oh iya, saya kalau sumpek paling suka jalan-jalan. Kenapa nggak jalan-jalan aja?

Jadilah, saya keluarin itu sepatu running dan mulai jalan-jalan ringan. Berbekal headset, tiap pagi saya jalan-jalan. Di aplikasi masih terekam, saya memulai ini semua tanggal 29 Agustus 2020 dengan 4,012 langkah sejauh 3,09 km selama 44 menit. Itu durasi jalan yang lambat banget lho. Terbukti badan saya dulu seberat itu buat diajak jalan kaki saja. 

Hampir tiap hari saya jalan kaki ke mana-mana, pagi-sore, selama jaraknya dan aktivitasnya masih reasonable untuk ditempuh dengan jalan kaki. Pernah ada masanya kegiatan saya di luar rumah tidak begitu padat, sekitar bulan Oktober 2020. Jadilah saya jam 06.00 jalan pagi, terus jam 16.00 saya jalan sore. Muter-muter sampai 4-5 km lah sekali jalan. Kalau sambil dengerin lagu di headset, rasanya jarak tempuh segitu itu tidak terasa. Yang awalnya hanya bisa 4,000 langkah sekali tempuh, akhirnya kemajuan bisa 5,000 langkah selama 45 menit-an. Lumayan.

Di hari-hari ini, saya bisa jalan pagi sekali rute sampai 6-7 km dengan 8,000-9,000 langkah. Ditambah aktivitas di cafe yang naik-turun tangga setiap hari, 10,000-11,000 langkah bisa lah dilibas. 

Mengatur Makan Bukan Berarti Kelaparan

Diet nggak kelaparan dan bisa makan apa saja

Jalan kaki saja nggak cukup. Kalau mau turun berat badan, saya pikir memang harus diimbangi dengan pola makan. Dulu di masa-masa kelam itu (hahahah), saya makan nasi bisa 2 kali nambah dalam sekali makan. Bayangkan ya, berapa itu kalorinya. Seandainya di masa itu saya cek darah, mungkin hasilnya jelek banget. Apalagi sering pelampiasan ke lalapan, bebek goreng, malem-malem makan mie rebus di Kayungyun.

Hal pertama yang saya lakukan adalah mengurangi porsi nasi bertahap sambil menambah jumlah sayur dan buah harian. Perlu diingat bahwasanya pada dasarnya makan saya itu banyak. Jadi nggak ada cerita makan diiprit-iprit sok kecantikan. Jumlah nasi sedikit, sayurnya buanyaaaaak. 

Kemudian saya eksperimen makan pakai rolled oat karena konon glukosanya lebih rendah ketimbang nasi. Oke lah, saya coba masak rolled oat dengan cara saya sendiri sebagai pecinta makanan asin. Nggak dimakan pakai susu dan buah, melainkan makan rolled oat pakai cah oyong, tumis jamur, dan apapun masakan rumah hari itu. Prinsipnya sama kayak makan nasi, tapi diganti rolled oat. Lumayan kenyang karena seratnya lebih tinggi mungkin ya. 

Tapi soal makan-memakan ini saya nggak strict. Kalau pengen nasi lalapan jamur, ya makan aja. Sekali dalam seminggu. Besoknya ya makan sayur-buah lebih banyak. Makan bakso juga masih jalan terus, secara arek Malang makanan utamanya bukan nasi, melainkan bakso gerobakan πŸ˜‚ Tapi porsinya yang dikurangi. Istilah kecenya defisit kalori, tanpa riweuh ngitung kalori. 

Pemahaman saya adalah banyak aktivitas fisik jadi apa yang dimakan seimbang dengan yang dibakar. Lagipula selain aktivitas fisik kayak naik tangga dan jalan kaki, tubuh kita dengan sendirinya bakar kalori untuk amunisi menjalankan organ-organ tubuh 'kan? Jadi, di hari ini kalau saya merasa seharian aktivitasnya tinggi, ya sudah saya malamnya gas makan nasi ayam daripada mati. Nasi ayam Pak No perempatan Rajabally Kayutangan, top andalan! 😝

Berat Badan Stuck, Naik Sesekali, Ya Kuterima Saja 

Dalam usaha menurunkan berat badan ini, di awal perjalanan saya mematok target di angka 55 kg sampai bulan Desember 2020. Dan kesampaian!

Tapi menuju ke angka 55 kg ini ya nggak semulus kelihatannya. Pasti ada masa-masa di mana berat badan stuck. Saya mengalaminya ketika di angka 58 kg. Sulit banget mau turun ke angka 57 kg. Padahal awalnya cukup cepat ya, dari 66 kg ke 60 kg itu dalam waktu 2 bulan. Lha ini mau turun sekilo aja kok sebulan nggak turun-turun. Eh tapi kalau diukur dari lingkar-lingkar tubuh, mulai mengecil. Ya sudah tidak apa-apa toh nggak cuma bergantung pada angka timbangan. Celana, rok, baju zaman awal kuliah dulu jadi muat kembali, itu sudah sangat menghibur hehehe.

Menginjak bulan November 2020, pas sibuk-sibuknya persiapan dan eksekusi shooting MV plus persiapan opening cafe, berat badan saya turun jadi 55 kg. Ya faktor seharian aktivitas fisik dan berpikir, jadinya kalori yang dikeluarkan tentu saja buanyaaak. 

Sekarang, berat badan saya bisa dibilang seimbang lah. Naik-turun sekilo itu wajar, wong tubuh manusia memang dinamis. Hari ini makan sayur-buah banyak, nanti malam kelaparan habis kerja rodi makan nasi goreng, besoknya timbang naik sekilo. Eh, ternyata belum pup. Habis pup, berkurang sedikit. Hahaha. Begitu terus deh.

I'm Happy and Proud With My Journey

Aku yang di tengah (55 kg)

Saya merasakan perubahan yang sangat baik dari penurunan berat badan dan fisik yang lebih aktif ini. Sangat jarang sakit-sakitan. Sakit yang saya alami dalam enam bulan belakangan ini sebatas otot tangan cedera (yaa, ini nggak ada hubungannya sama sistem imun tubuh sih πŸ˜…). Lebih bugar dan nggak ngantukan. Hampir setiap hari saya beraktivitas dari jam 06.00 sampai jam 22.00 (pulang dari cafe) dan merasa lelah yang wajar (ya iyalah ya). 

Bukti lain fisik jadi lebih bugar adalah produksi MV selama dua hari, banyak berdiri dan jongkok, ke sana-kemari, shooting sampai subuh, masih sangat kuat sampai hari terakhir kelar jam 04.00. Nggak merasa lesu sama sekali. Woh! Coba kalo dulu 😁

Perubahan baik dari penurunan berat badan adalah siklus menstruasi yang jadi lancar dan normal tiap bulannya. Ini yang terpenting buat saya sih. Bonusnya ya baju-baju lama yang jadi muat kembali. Bisa dibilang saat ini adalah kondisi terbaik badan saya selama satu dekade terakhir. 

Betis gede adalah kebanggaanku 

Dengan penurunan berat badan yang nggak begitu banyak ini, saya merasa cukup bangga kok. At least I accomplished something good in my life, di masa kemarin dari Mei 2020 sampai Desember 2020 yang cukup membuat saya menyalahkan diri sendiri, rendah diri karena merasa tidak layak diperjuangkan, jadinya sulit menerima diri saya sendiri dengan baik. 

Sekarang saya nggak terlalu ngotot menurunkan berat badan seperti beberapa waktu lalu, karena sudah mencapai target awal. Ya meskipun perut masih buncit, lengan masih dempal. Cuma pengen mempertahankan kebiasaan makan dan bergerak sampai seterusnya, karena buat apa diet ekstrem kalau nggak bisa dipertahankan dalam jangka waktu panjang. 

Target saya sampai 3 bulan ini adalah 53 kg, dan di 2021 ini mencapai berat badan 50 kg karena itu adalah ideal weight secara BMI Asian. Kalau tercapai, syukur. Kalau nggak, ya mari kita coba lagi πŸ‘„Yang pasti bukan perkara turun berat badan aja, tapi saya mencoba menerima meskipun nggak cantik dan nggak langsing kayak mbak-mbak model, paha gede, lengan dempal, betis seperti pemain bola, perut buncit, setidaknya bagian-bagian tubuh saya bekerjasama dengan baik untuk menunjang saya bekerja dan mengerjakan banyak hal yang bermanfaat. 

Pokoknya semoga kita semua sehat selalu ya! Yok, kita makan lalapan bebek sambel pencit yok~

*Sebagai orang yang jarang selfie dan jarang foto-foto, menulis cerita ini cukup sulit dalam hal cari foto, karena baru kusadari memang nggak ada dokumentasi yang benar-benar proper #sigh



Komentar

Postingan Populer