Buah Merekah Belum Saatnya: Belajar Dari Kevin Jones dan Janiya

11:36:00 AM


Setiap kali punya kesempatan untuk bicara tentang social media, saya tak bosan-bosannya mengatakan : social media bagaikan 2 sisi mata uang. Saat bicara social media, tak lagi kita bicara sebatas tentang internet, infrastrukturnya, fitur Facebook, cara optimasi Facebook ads ataupun bagaimana bisa jadi trending topic di Twitter. Lebih jauh daripada itu, saya lebih suka bicara social media dari sudut pandang perilaku penggunaan dan keamanannya.

Kisah yang baru-baru ini ramai sliweran di berbagai forum di luar negeri adalah seorang ayah bernama Kevin Jones dan putrinya yang berusia 10 tahun. Sang putri yang bernama Janiya, seperti tampak dalam foto. Perawakannya cukup tinggi bongsor. Dari sepenglihatan saya, tubuh A pun bisa dibilang bertumbuh cukup cepat daripada anak usia 10 tahun pada zaman saya.

Apa yang membuat Kevin Jones dan Janiya menjadi begitu viral di dunia maya?

Dikisahkan, Jones menemukan pembicaraan private Janiya dengan teman-teman Facebooknya. Mengejutkan bagi Jones karena pesan-pesan yang dikirimkan sang putri ditujukan pada pria-pria dewasa. Isi pesannya, menurut Jones, bernada menggoda. Seolah-olah Janiya adalah remaja putri berusia 15 bahkan 18 tahun. Bahkan, Jones menemukan sebuah pesan yang mana Janiya sepakat akan berkencan dengan salah satu pria dewasa teman Facebooknya.

Melihat hal ini, kontan Jones kebakaran jenggot. Ia menghukum sang putri dengan cara menyuruhnya memakai "age defining t-shirt" bertuliskan "I Am 10 Years Old". Ia pun menggunakan tas ransel Disney dan dikuncir ala anak-anak, sehingga menunjukkan ia benar-benar masih berusia 10 tahun.


Kisah ini membuat saya cukup merinding. Internet menyediakan ruang bagi kita untuk berekspresi menjadi siapapun yang kita mau. Entah itu anonim, entah itu diri kita sebenarnya, ataupun menjadi seperti apa sosok yang ingin dibentuk.

Janiya, di usianya yang masih sangat belia, telah mengetahui bahwa social media memberikan kesempatan baginya untuk menjadi sosok yang lain. Beruntung sang ayah mengetahui lebih cepat, jika tidak siapa tahu Janiya menjadi korban traficking atau kejahatan seksual? We'll never know what will happen.

Tak heran jika Facebook menerapkan usia minimal penggunaan yaitu 13 tahun dengan pertimbangan bahwa di usia tersebut setidaknya anak mulai memahami lingkungan sekitarnya dan memahami konsep pertemanan. Jika anak di usia tersebut sudah diperbolehkan untuk memiliki akses bebas ke Facebook, well, mau tidak mau orang tua harus sangat strict terhadap penggunaannya.

Saat ini orang tua dituntut wajib menguasai teknologi. Sangat tidak bijak membiarkan anak menggunakan internet (well, saya lebih suka menggunakan istilah 'menggunakan internet' daripada 'bermain internet') sendirian, tanpa pengawasan. Ibaratnya, bak membiarkan anak balita bermain bola di jalan tol. Bahkan lebih berbahaya daripada itu, karena di internet semua orang bisa menjadi (bukan) dirinya sendiri. There's a lot of online predator yang menyamar dalam berbagai rupa. Bagaimana jika mereka berhasil mendapatkan data diri lengkap tentang anak dan keluarga kita?

Internet bukanlah tempat bermain. Banyak yang menganggap internet hanyalah sekedar media untuk main-main, bukan hal yang patut mendapatkan perhatian lebih dan pengawasan. Namun jika buah merekah belum saatnya tanpa pengawasan, salah siapa?

(Bukan salah siapa-siapa, yuk belajar memahami internet dengan bijak bersama-sama :D)


You Might Also Like

41 comment

The Words is Mightier Than The Swords" - Edward Lynn-Button
Tinggalkan jejak yang baik, no spamming, junk, dan tinggalkan nama ;)

Popular Posts

Blog Archive

Google+ Followers

Part of

Warung Blogger
Blogger Perempuan

Voucher Diskon 15% Zalora Indonesia

Voucher Diskon 15% Zalora Indonesia
Diskon 15% Zalora Indonesia