Indonesian Netizen Nowadays: Mempertanggungjawabkan Tombol 'Share' (Belajar dari Foto Selfie di Lokasi Bom Sarinah)

10:50:00 PM



Tragedi ledakan bom Sarinah, Thamrin Jakarta kemarin tak hanya mengguncang Jakarta. Bahkan seluruh Indonesia. Tragedi ini menjadi isu nasional (bahkan internasional) yang menggores luka di awal tahun 2016 ini. Saat ledakan terjadi, saya memang tidak berada di Jakarta. Kabar ledakan bom tersebut justru saya dapat pertama kali dari social media, bukan dari reporter-reporter tempat saya bekerja (FYI, saya bekerja di salah satu jaringan media online).

Saya lupa dari akun mana melihat kabar itu pertama kali. Yang jelas linimasa Twitter saya begitu deras mengalir tweet dengan keyword 'bom Sarinah'. Saat saya pantengin arus dengan keyword tersebut melalui Tweetdeck, berbagai foto, video ataupun sekedar tweetpost begitu cepat memunculkan tweet-tweet maupun retweet baru.

Sekitar 30 menit hingga 1 jam setelah kejadian ledakan bom dan tembak-menembak antara pelaku bom bunuh diri dan polisi yang mencekam, di saat bersamaan grup di Whatsapp saya ramai dengan berbagai informasi ... dan spekulasi. Seingat saya, ini informasi-informasi yang saya dapatkan bersamaan dengan kejadian di Jakarta:

  1. Beberapa titik bom telah dipasang di resto-resto yang berasal dari Amerika
  2. Selain Thamrin, ada titik-titik lokasi lain seperti Palmerah dan Cikini yang menjadi sasaran bom berikutnya
  3. Pelaku sedang buron dan berpindah ke lokasi pengeboman yang lainnya (?)
Kemudian, informasi lain masuk lagi. Kali ini aroma spekulasi mulai menguar:
  1. Pengalihan isu dari kasus yang lebih besar yang sedang terjadi di hari itu. Cluenya aja ya, saya agak malas membahasnya, yaitu F dan sidangnya ABB.
  2. Sebenarnya pemerintah Indonesia sudah mengetahui rencana ini. Disinyalir pemerintah AS sudah mengirimkan warning ke perwakilan negaranya di Indonesia tentang ancaman bom ini di pagi hari sebelum kejadian terjadi.
  3. Jangan menyebarkan hashtag yang bernada #PrayFor dan semacamnya karena jika hashtag tersebut jadi trending topic, maka akan jadi sorotan dunia dan nilai tukar rupiah akan melemah kemudian dampaknya akan mengerikan bagi perekonomian bangsa kita.
Well said, spekulasi-spekulasi yang menghantui itu 'umurnya' tak lama di social media netizen Indonesia. Karena tak lama kemudian, berita-berita ini yang muncul di social media:
  1. Foto tukang sate, Pak Jamal, yang tak gentar terus mengipas-ngipas dagangannya sekalipun di sekitarnya terjadi huru-hara. You rock, Pak, jam-jam brunch tuh!
  2. Ibu-ibu berhijab yang asyik selfie di lokasi kejadian dengan latar belakang sosok sang terduga bom bunuh diri.
  3. Foto-foto polisi yang sembunyi di balik mobil polisi
  4. Mas-mas yang disinyalir adalah pak polisi ganteng yang bertugas di lokasi kejadian
  5. Eh, siape tuh polisi yang sepatu ama tasnya cakep amat! Branded pula~
... dan masih banyak lagi ...

Melihat arus timeline social media, saya yang awalnya ikutan tegang memikirkan kondisi keluarga dan teman-teman yang berada di Jakarta, kemudian berganti dengan mengerinyitkan dahi. Heran. Begitu hebatnya netizen Indonesia, di tengah situasi keamanan nasional yang sedang berguncang, masih sempat-sempatnya ... mengedit foto hoax! Yup, entah mengapa saya cukup 'gatal' untuk mengomentari yang satu ini.

Semalaman timeline diramaikan dengan foto ini:

Foto: dari berbagai sumber
Saya awalnya berpikir, jika benar ibu ini dalam posisi siaga dengan kameranya, alangkah berharganya foto yang berhasil ia ambil dengan kamera smartphonenya. Pasti dia mendapat wajah sang terduga bom bunuh diri yang berada sangat dekat jaraknya. Namun, komentar netizen adalah : "Gila, itulah Indonesia. Udah situasi mencekam, masih aja sempat selfie!" Saya pikir jika itu benar, pasti si ibu ini tidak akan segila itu. Kalau saya mah pasti udah lempar handphone dan lari duluan, masa bodoh deh. Saya hanya berpikir secara logis dan tidak berniat menelisik lebih jauh dari sisi digital editingnya. Hingga pagi tadi saya menemukan informasi lain: foto tersebut hoax! Itu adalah gabungan dua gambar yang berbeda dan tidak ada korelasinya sama sekali. 

Foto asli ibu berhijab sedang selfie | Foto: dari berbagai sumber

Foto terduga pelaku bom bunuh diri | Foto: dream.co.id
Alangkah kagetnya saya, saat banyak akun-akun social media mulai mengklarifikasi kebenaran foto tersebut, di Facebook share postingan sang ibu yang berfoto selfie tersebut masih viral dan arus share terus berlanjut. Captionnya bermacam-macam, kebanyakan mencaci maki 'perilaku' sang ibu yang dianggap norak. Saya tidak tahu apakah sang pemilik foto sudah tahu fotonya dipakai untuk guyonan seperti ini. Kalau ia tahu, bagaimana ya reaksinya? Hmmm ...

Untungnya, saya tidak berkomentar ataupun membagikan apapun yang sifatnya informasi di social media saya. Karena saya merasa tak mendapat kabar yang valid dari pihak yang dapat dipertanggungjawabkan informasinya. Masalahnya, saat kita memutuskan menekan tombol 'share' atau 'post', kita punya kewajiban untuk menjadi sebagian dari informasi itu. Adalah pekerjaan yang tak mudah untuk mengklarifikasi dan menarik apa yang sudah kita bagikan ke orang lain via social media. Kita juga tak bisa mengukur sudah sejauh mana informasi yang kita share, berkelana dari satu akun ke akun yang lainnya, bahkan lintas platform. 

Di tengah rasa cemas dan kondisi psikis masyarakat Indonesia yang masih terguncang, ada orang-orang yang sengaja memanfaatkannya. Entah itu iseng, seperti kasus editing foto di atas, atapun sengaja memecah belah bangsa dengan informasi yang didasarkan pada spekulasi tak berdasar. 

Mungkin saya memang bukan pakar media sosial, tetapi kalau boleh menyarankan nih, saat terjadi tragedi, sangat rentan kita terterpa informasi yang simpang-siur tidak jelas jluntrungnya. Tahan jempol yuk, caranya:

  1. Stop membagikan foto-foto korban di social media maupun media messenger. Foto-foto dengan kondisi korban yang bersimbah darah atau dengan anggota tubuh yang terluka/hancur, tak layak untuk disebarkan. Hormatilah korban dan keluarganya karena bagaimana pun mereka tak ingin dikenang dengan kondisi yang mengenaskan.
  2. Stop menyebarkan informasi yang tak dapat dipertanggungjawabkan. Usahakan mencari informasi yang berimbang dari berbagai sumber, khususnya sumber-sumber terpercaya misalnya pihak kepolisian, pemerintah atau rumah sakit yang terkait dengan kejadian.
  3. Stop menebarkan isu-isu pemecah belah. Ada banyak spekulasi yang beredar di masyarakat terkait dengan penyebab sebuah tragedi. Tahan diri untuk tidak memberikan dugaan-dugaan yang tak dapat dipertanggungjawabkan, apalagi jika isu tersebut berhubungan dengan SARA.
  4. Stop membuat lelucon yang dapat menyakiti hati mereka yang terkait dengan tragedi tersebut. Pikirkan dahulu, apakah dengan menulis atau mengunggah postingan tersebut, menyenangkan untuk dibaca? Apakah postingan tersebut dapat menyakiti hati orang lain? Kembalikan ke dirimu sendiri.
Gadget boleh canggih. Kita paham betul fitur-fitur yang ada di masing-masing platform social media. Secara teknis mungkin kita sudah khatam. Tetapi kembalikan lagi ke diri sendiri, sudahkah kita bijak menggunakan social media? Menurut hemat saya sih, too much share will kill you, apalagi share info tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Kadang memang perlu mengerem laju aktivitas jempol kita, because sometimes the words and pictures are mightier than the swords. So, be wise! :)

You Might Also Like

30 comment

The Words is Mightier Than The Swords" - Edward Lynn-Button
Tinggalkan jejak yang baik, no spamming, junk, dan tinggalkan nama ;)

Popular Posts

Blog Archive

Google+ Followers

Part of

Warung Blogger
Blogger Perempuan

Voucher Diskon 15% Zalora Indonesia

Voucher Diskon 15% Zalora Indonesia
Diskon 15% Zalora Indonesia