Social Climber: Menempatkan Pengakuan di Atas Kemampuan

3:23:00 PM

Sudah beberapa bulan ini, handphone saya suka tiba-tiba kagetan, kayak terkena serangan jantung mendadak. Enak-enak ngetik, mendadak dia terdiam beberapa jenak, lalu penampakan screen-nya lompat-lompat ke tab lain. Jadi ikutan kaget sayanya :')

Melihat kenyataan tersebut, saya jadi kepikir buat mengganti handphone saya ini dengan yang baru. Duh padahal umur handphone ini baru 1,5 tahun dan memang saya bukan tipikal orang yang suka gonta-ganti gadget kecuali karena bermasalah. Jadilah saya browsing-browsing segala macam spesifikasi handphone yang mumpuni dan pastinya, sesuai dengan kondisi kantong saya yang tidak tebal-tebal amat ini :)) Segala keyword kutempuh, mulai dari brandnya, memorinya sampai harganya. Yah, dengan kondisi kantong sih, sepertinya brand yang saya pilih gak jauh-jauh dari yang sebelumnya saya pakai atau yang selini. Soalnya setelah melihat-lihat, harga alcatel one touch itu yang sekiranya masih masuk. Tapi, entahlah, drama pengen-ganti-handphone selalu akan berakhir dengan beli handphone yang gak disurvey sebelumnya :))

Kegalauan mencari handphone ini membawa saya ke ingatan 9-10 tahun yang lalu, di mana itu saya masih jadi remaja yang ranum, polos dan gak punya penghasilan sendiri :)) *iyalah, wong masih umur belasan*. Saat itu, sebagian besar anak-anak di sekolah saya sudah pegang Blackberry untuk sarana berkomunikasi. Blackberry (BB) zaman itu masih mahal banget, dan dianggap paling ihiy lah kalau tentang BB ke mana-mana.

Dan saya gak punya BB.

Soalnya mahal dan orang tua saya gak sanggup membelikan (dan mereka juga berpikir waktu itu gak perlu sih beliin Winda BB toh BB 'kan kebutuhannya buat orang kantoran). Lagipula saat itu, saya merasa sudah cukup puas punya koneksi internet di rumah.  Jadi punya BB buat internetan itu gak begitu penting. Wong ada SMS, wong ada telfon, wong rata-rata teman-teman pakai MSN dan YM, jadi it was not a big deal. Toh di sekolah saya *yang banyak dirasani orang luar katanya sekolahnya nakanak borju*, gak ada yang meributkan kamu pakai handphone apa. Jadi ya nggak pernah kepikiran.

Beranjak masuk kuliah, fenomena punya BB ini masih ramai sampai saya semester 2 atau 3 gitulah. Sedihnya, banyak orang di circle saya bela-belain ngutang atau apalah demi punya BB. Alasannya? Karena kalau nggak punya BB itu gak gaul, gak bisa tukar-tukaran pin BB. Kekeke ... jangan dimarahin ya, itu memang terjadi dan wajar di usia-usia cabe kita dulu.

Pengen diakui, pengen dianggap lebih, pengen menjadi bagian dari mereka yang punya status sosial lebih tinggi. Kita semua paling gak pernah merasa ingin seperti itu. Aku pun! Pengen jadi selebtweet, selebgram, biar menjadi sosok yang punya kelas. Jalan-jalan ke luar negeri, hampir tiap waktu terlihat berada di tempat-tempat gaul di sudut kota.

Tapi, setelah diakui, "Wih, kamu gaul?", terus apa ya ...

social climber, social climbers, apa itu social climbers, tas branded, tas KW, tas branded second
Image taken from Pinterest.com


Bukan cuma sekali dua kali saya dengar curhatan atau baca cerita di Vemale.com, berhutang ke sana kemari demi beli barang branded, plesiran, nongkrong. It's okay lho, membeli dan melakukan semua itu, jika tujuanmu untuk kepuasan pribadi dan ... jangan ngutang, Bok! Tapi kalau tujuannya supaya dibilang anu, diakui itu, aih ... besar pasak daripada tiang. Ujung-ujungnya semua pujian keren dan gaul itu, gak akan ada artinya lagi saat kita harus 'membayar' dengan aneka tagihan dan dikejar-kejar debt collector bahkan memantik api permusuhan dengan orang yang kamu jadikan tempat berhutang.

Saya jadi inget kata teman saya, Mbak Eva, "Prejengan boleh, jahitan kurang." (Gaya boleh, jahitannya kurang). Alias, gayanya selangit tampak dari luar, tapi ternyata di dalamnya rapuh dan mengenaskan. Kalau dulu saat masih remaja sih, ya bisa dimaklumi ya ... Kita semua masih dalam masa pencarian jati diri dan butuh pengakuan lebih untuk menunjukkan siapa kita. Jika hal seperti ini masih berlangsung bertahun-tahun-tahun setelahnya, pertanyaannya, "Mau sampai kapan?". Mau sampai kapan ngutang, mau sampai kapan berpalsu-palsu ria, mau sampai kapan membohongi diri sendiri.

Ada orang-orang yang memang termasuk A-list people, entah karena apa yang mereka kerjakan atau prestasinya. Ada juga orang-orang yang ingin masuk ke dalam A-list people, dengan effort lebih yang cuma mau dia usahakan jika ada 'imbalan' berupa bisa tampak dan terlihat punya 'kelas' di suatu golongan tertentu. Mau banget organize party yang isinya pejabat-pejabat teras semua, tapi malas repot diminta tolong bantu-bantu hajatan di lingkungan rumah sendiri *kisah nyata*.

Pada akhirnya memang balik ke diri masing-masing sih. Mungkin pada saat tertentu, terbesit dalam hati saya, minder ih gak se-ngehits si anu. Tapi saya tekankan pada diri sendiri, kalau saya menuruti gaya hidup seperti anu-itu, apa kabar tagihan listrik, PDAM dan kelangsungan dapur yes ... Hahahha ibu-ibu banget lho cara pikirku ... 

And after all, I totally agree with this quote. It's all about, honestly.

social climber, social climbers, apa itu social climbers, tas branded, tas KW, tas branded second
Image taken from askideas.com
 ... dan saya masih belum nemu handphone untuk menggantikan handphone buluk saya. Any advice?

You Might Also Like

22 comment

The Words is Mightier Than The Swords" - Edward Lynn-Button
Tinggalkan jejak yang baik, no spamming, junk, dan tinggalkan nama ;)

Popular Posts

Blog Archive

Google+ Followers

Part of

Warung Blogger
Blogger Perempuan

Voucher Diskon 15% Zalora Indonesia

Voucher Diskon 15% Zalora Indonesia
Diskon 15% Zalora Indonesia