Menghadapi Ketidakpastian dan Mempersiapkan Masa Krisis



Hari ini tanggal 15 April 2020. Terhitung hampir sebulan benar-benar hanya di rumah saja. Coronavirus is really sucks 😭 Entah sampai kapan pandemi ini berakhir ya.

Hampir sebulan di rumah saja, saya mulai beradaptasi dengan situasi di mana membatasi kegiatan hanya sampai teras rumah aja. Kalau pergi ke luar pun, hanya ke warung, belanja kebutuhan pokok, dan ke apotik. Sempat sekali ke klinik, antar Mama check up bulanan dan kata dokternya, bulan depan nggak perlu ajak Mama check up. Obatnya bisa diambil langsung aja, jadi cuma saya yang perlu ke sana.

Rasa-rasanya, tubuh sudah mulai beradaptasi, pikiran pun juga. Bosan, tapi mau bagaimana lagi ya memang cuma bisa begini. Tapi, semakin ke sini muncul kekhawatiran. Baca-baca berita, selain jumlah PDP dan ODP yang meningkat, dampaknya sangat terasa di bidang perekonomian. Banyak yang kena PHK, tidak digaji karena tidak masuk kerja, dan owner-owner bisnis gulung tikar. Tutup total. Sementara, pemerintah membebankan pengusaha agar tetap menggaji karyawan, bayar pajak, dan kasih THR. Tapi, di Jakarta, untuk bisnis yang tetap berjalan seperti biasa dan tidak memberlakukan WFH bagi karyawannya terkait PSBB, akan disanksi. Mohon maaf, lha ini aja kalau nggak ada karyawan yang bekerja, bisnis nggak jalan, mau bayar karyawannya dengan segala tuntutan yang muluk-muluk di masa krisis ini, gimana ya, Pak Bu Menteri yang Tercerdas?

Pandemi ini krisis buat seluruh dunia. Semua orang kena imbasnya. Nggak perlu ada lah itu anggapan orang kaya-miskin, karena pada akhirnya kalau pandemi ini nggak kunjung berakhir, roda perekonomian juga akan stuck dan menggilas semua kalangan. Tinggal waktunya aja yang berbeda-beda, siapa duluan.

Jujur, sebagai tulang punggung keluarga yang sudah setahun belakangan ini freelance, khawatir banget. Beberapa klien hold. Puji Tuhan masih ada yang jalan satu project, tapi harus siap seandainya diakhiri kontraknya kapan pun karena situasi krisis ini. Sekarang yang dipikirkan adalah gimana caranya survive menghadapi masa krisis dan menjadikan ketidaknormalan ini jadi 'the new normal'.

Tabungan Darurat

image taken from pexels.com
Sebelum resign tahun lalu, mempersiapkan dan menghitung benar-benar tabungan darurat adalah hal pertama yang saya lakukan. Kalau dari baca-baca, dana darurat untuk single itu setara dengan 3 bulan. Anggaplah 3 bulan sama sekali nggak ada kerjaan, masih ada cadangan dana buat hidup pokok sehari-hari (makan, tagihan listrik, air, dsb). Tapi ini jumlah minimal ya. Berhubung saya single tapi menanggung satu orangtua yang sakit, I doubled up jumlahnya dan menyiapkan minimal untuk bisa bertahan hidup 12 bulan tanpa penghasilan apapun. Better safe than sorry ya, Gengs.

Ternyata, persiapan tabungan darurat saya waktu itu (Puji Tuhan) nggak kepake sama sekali sepanjang tahun 2019, karena (Puji Tuhan, lagi) pekerjaan cukup lancar. Jadilah menabung lagi untuk menambah dana darurat dan berinvestasi. Ndilalah, kok ada pandemi ini yang membuat hidup terasa terombang-ambing dan akhirnya kembali menimang-nimang tabungan darurat sambil berharap semoga masih belum butuh dipakai 😰

Baca Juga: Beli SBR Untuk Pertama Kalinya

Makan untuk Hidup, Hidup untuk Makan?

Image taken from pexels.com
Saya suka banget makan yang enak-enak. Yaiyalah, nggak ada yang nggak suka makan enak, hahaha. Tapi untungnya saya selalu punya jatah untuk jajan di luar, jauh sebelum adanya pandemi ini. Sisanya, sehari-hari saya biasakan untuk masak sendiri. Selain lebih bersih dan sehat, juga lebih hemat pastinya. Tinggal berdua dengan Mama yang sakit stroke bikin masak apa-apa jadi lebih thoughtful karena mempertimbangkan faktor kesehatan juga 'kan. Toh, nasi, sayur, dan lauk sederhana pun rasanya nggak kalah enak. Syukur masih bisa makan, tiga kali sehari.

Sesekali beli makan di luar tak apa, kalau bosan. Tapi di masa ini saya order jajanan lebih prioritas untuk membantu bisnis teman-teman sendiri.

Baca Juga: Resep Oseng Tempe Kecap

Puas dengan Apa yang Cukup di Hari Ini

Image taken from pexels.com
Banyak orang yang di masa pandemi ini mengaku banyak kegoda belanja online. Saya malah sebaliknya. Entah kenapa ya, karena belakangan ini banyak beberes rumah, saya jadi lihat barang-barang numpuk tiada guna dan merasa itu sia-sia aja. Termasuk beberes kosmetik. Setelah merapikan dan membuang barang-barang kedaluwarsa, saya jadi berpikir ulang untuk membeli barang-barang yang bukan kebutuhan primer. Kebiasaan yang dulu-dulu adalah belum habis, sudah beli lagi. Itu buang-buang duit banget.

Sekarang ini, skincare dan bodycare saya cuma segelintir dan itu pun yang drugstore punya. Nggak lagi-lagi menimbun deh, nggak guna juga. Dan untuk sementara ini, cukup dengan merk drugstore yang terjangkau. Toh, untungnya kulit saya cukup bisa diajak kompromi dan sedang nggak bermasalah jadi nggak perlu perlakuan khusus.

Baca Juga: Reconsidering The Value of Possesion

Sejauh ini, baru 3 hal itu yang bisa saya lakukan menghadapi ketidakpastian masa krisis yang masih belum tahu kapan berakhirnya ini. Di luar sana, teman-teman yang punya bisnis, maupun yang bekerja ikut orang, pasti punya keresahan yang sama. Nggak banyak yang bisa kita lakukan. Yang pasti, semoga kita selalu dikuatkan dan masih diberi semangat untuk merancang rencana membangun kembali semuanya selepas masa krisis ini lewat.

Amin!

Comments

Popular Posts