Ternyata, Kita Bisa Kok ...


Setelah ini, dunia akan bergerak dengan cara yang (sedikit) berbeda. Karena terpaksa, semua memaksakan diri agar 'bisa'. 



  • Yang dulunya bersikeras hanya bisa berdagang offline, karena terpaksa, akhirnya bisa juga kok berjualan lewat online
  • Yang dulunya memaksakan namanya bekerja itu ya harus tatap-muka, ternyata beberapa pekerjaan tetap bisa selesai walau dikerjakan jarak jauh
  • Yang dulunya menganggap tetangganya pengangguran karena nggak pernah kelihatan pergi ke kantor padahal kerjanya di rumah, ternyata ... ya, ternyata sekarang sebagian besar orang setidaknya merasakan jadi Sang Pengangguran tersebut 
  • Walau belum benar-benar efektif, para pengajar dituntut harus beradaptasi dengan cara belajar-mengajar lewat online
  • Bisa kok di rumah menikmati minuman panas sendiri tanpa harus setiap hari ke coffeeshop, walau kangen sih, hehe.
  • Jadi bisa masak dan makan seadanya. Nasi putih dengan telor ceplok dan kecap manis rasanya jadi berlipat ganda, dari yang sebelumnya enak dan super-extra-mega-giga enak banget!

 Dan ke-bisa-an lainnya yang membuat kita awalnya terpaksa, tapi lambat laun bisa menyesuaikan diri.

Baca Juga: Dalam Setahun, Apa yang Berubah Dalam Hidupmu?

Saya kali ini ternyata bisa untuk tidak terikat dengan social media dan Whatsapp Group, dan lebih mikir beberapa kali untuk mengomentari sesuatu. Energinya dialihkan untuk yang lainnya, yang lebih menenangkan hati dan produktif. Buktinya, blog jadi update terus 😅

Harus di rumah saja membuat saya menyadari bahwa sebelumnya pengeluaran buat hal-hal yang nggak esensial itu cukup banyak. Sesekali sih boleh jajan-jajan di luar untuk membahagiakan diri, tapi toh sebetulnya dengan nasi dan lauk-pauk rumahan tetap sama kenyangnya. 'Makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan,' itu bukan snack isi angin belaka. 

Tadi pagi, sambil berjemur di teras, saya ngobrol sama Mama. Ke depannya, meskipun pandemi ini sudah berlalu, tapi dunia harus membangun dirinya dari awal. Dari segi ekonomi, terutama. Sebisa mungkin di masa-masa ini kita belajar hidup prihatin, karena pemulihannya mungkin nggak cepat. Jadi, harus bersiap proyek-proyek ada yang mandeg, bisnis mulai dari nol, bahkan PHK karyawan. Hal yang terkecil yang bisa dilakukan adalah belajar menghargai makanan sehari-hari, memilah-milah mana kebutuhan yang mendesak dan tidak, supaya uangnya bisa dialokasikan ke tambahan tabungan darurat. Karena kita nggak tahu ke depannya perekonomian dunia seperti apa. Semoga aja bisa pulih dari resesi ekonomi.

Baca Juga: Reconsidering The Value of Possesion

Semoga keadaan cepat membaik. Yang terkena imbas karena pandemi Covid-19 ini, semoga setelah badainya berlalu, bisa bangkit kembali ya mendapat rezeki yang lebih baik. Harapan saya kita semua sehat. Saya pengen bisa kembali jalan-jalan sore, jajan terbul susu keju dan gehu pedes!

Comments

Popular Posts