Memutuskan Berhenti Menghitung Hari Masa Pandemi

Image taken from pexels.com/Polina Zimmerman
Hari ini tanggal 29 April 2020. Berarti sudah lebih dari sebulan resmi menjalani kehidupan yang kata orang-orang akan menjadi 'the new normal'.

Postingan terakhir yang saya tulis tertanggal 15 April 2020, tentang Menghadapi Ketidakpastian dan Mempersiapkan Masa Krisis. Begitu pula dengan postingan jurnal mingguan selama karantina mandiri, yang terakhir ditulis tanggal 11 April 2020.

Di waktu itu, saya masih bisa menulis tentang hari-hari saya. Menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi dan merasa bisa meng-handle dengan baik. Tapi hari-hari setelahnya, semuanya cukup sulit dilalui. Terutama karena di tanggal 16 April 2020 yang lalu, nenek saya (Mama dari almarhum Papa) meninggal dunia di usia 92 tahun setelah dirawat di RSSA selama satu minggu.

Betapa kalutnya saya selama nenek saya dirawat di HCU RSSA itu karena aturan ketat selama pandemi Covid-19 dalam mengunjungi pasien yang membuat saya sama sekali nggak bisa jenguk nenek. Galau juga karena nggak bisa bergantian jaga dengan keluarga yang lain, karena di rumah ada Mama yang kondisinya rentan. Saya sih sehat-sehat aja karena masih muda. Tapi Mama saya di rumah bisa saja terpapar sepulang saya dari rumah sakit. Khawatir bawa penyakit pulang ke rumah 😔

Proses dari persemayaman hingga pemakaman jenazah nenek saya dilakukan sangat-sangat-sangat sederhana dan minim kehadiran orang, kecuali keluarga terdekat. Ya mau gimana lagi, semua berusaha memaklumi kondisi yang berbeda karena pandemi ini.

Tapi, sejujurnya secara psikologis itu mulai mempengaruhi saya. Karena pernah berkunjung ke RSSA (yang mana jadi RS rujukan Covid-19 di wilayah Malang dan sekitarnya), kemudian di rumah duka juga bertemu orang-orang lain, rasanya jadi lebih insecure.

Saya jadi memperhatikan lebih detil setiap simptom yang terjadi pada tubuh saya. Misalnya, batuk dikit, langsung cek artikel-artikel ciri ciri virus corona, kira-kira mirip nggak ya gejalanya? Padahal setelah diingat-ingat, oh iya, tadi pagi habis makan manggis. Bisa jadi karena getah buahnya. Bersin-bersin dikit, langsung khawatir. Padahal tiap pagi habis mandi kalau kena sinar matahari juga bersin-bersin. Tapi memang jadi lebih gampang khawatir, karena virus Corona ini 'kan gejalanya juga bisa menyerupai penyakit lain.

Selepas kejadian-kejadian di minggu ke-3 dan ke-4 karantina di masa pandemi Covid-19 ini rasanya saya mulai banyak kepikiran. Masalah-masalah mulai timbul. Ya, benar, muaranya adalah ketidakpastian. Dari yang awalnya diminta karantina mandiri selama 14 hari, buktinya sampai sebulan lebih pun kita masih terombang-ambing.

Nasib kita hari ini udah mirip kayak bunga yang jatuh di atas permukaan air ini
Image taken from pexels.com/NEOSiAM 2020

Saya pun memutuskan untuk berhenti menulis jurnal mingguan, di mana biasanya saya menghitung hari demi hari masa pandemi ini. Kita nggak ada yang pernah tahu kapan pandemi ini berakhir. Menghitung hari demi hari, berharap agar situasi ini berakhir ternyata cukup menguras batin.

Dampaknya sudah pasti. Selain korban-korban yang masih berjatuhan karena virus ini, keberlangsungan ekonomi juga masih jadi dilema yang membuat semuanya jadi makin berat. Kita pun dipaksa untuk mengatasi segala hal, dari dalam rumah saja. Padahal, nggak semua hal bisa dikerjakan dari rumah aja. Nongkrong-nongkrong sih memang bisa ditahan. Tapi bagaimana dengan kerjaan yang jadi sumber penghidupan?

Semua orang pasti terbebani pikiran atas kondisi pandemi global ini. Udahlah nggak peduli kaya miskin, semua terdampak. Mungkin di hari ini, mereka yang perekonomiannya rendah yang terdampak duluan karena PHK, misalnya. Tapi bukan cuma itu. Kelas menengah pun nggak kalah kelabakan karena bisnis yang mendadak hancur-lebur. Kelas atas pun lama-kelamaan juga akan merasakan dampak karena pemilik-pemilik perusahaan pun nggak bisa menjalankan perekonomian secara cepat karena demand yang terbatas. Kena semua.

Orang-orang seperti saya, yang menanggung keluarga dan segala tagihan; yang kerjaannya freelance; sangat rentan juga sama kondisi ini. Karena kami 'karyawan' beli putus, yang pasti kena sapu duluan kalau ada pengurangan cost produksi.

Di masa seperti ini, rasanya jadi sangat emosional dan sensitif sekali. I'm just an human being, kebawa emosi sesekali. Tak sengaja menyinggung perasaan orang lain dan menambah beban masalah. Ada satu hal yang ingin sekali saya lakukan, tapi nggak bisa karena terhalang pembatasan physical distancing ini. Dan itu jujur cukup membebani saya.

When everything was slipping outta my hands, I deeply sorry
Image taken from pexels.com/Evie Shaffer

Dan bisa ditebak, dari pikiran larinya ke sakit di tubuh. Sejak awal pandemi ini saya sudah install aplikasi Halodoc di smartphone saya. In case saya atau Mama sakit, bisa konsultasi langsung via chat dengan dokter-dokter yang bertugas. Karena pembatasan interaksi langsung dan kalau simptom penyakitnya tidak parah, kita 'kan disarankan tidak mengunjungi layanan-layanan kesehatan. Jadi aplikasi konsultasi kesehatan seperti Halodoc ini membantu banget. Apalagi kita bisa beli obatnya via aplikasi dan diantar langsung ke rumah.



Hampir saja kemarin malam saya hampir saja menggunakan layanan Halodoc. Ada suatu simptom yang saya rasakan dan berjaga-jaga saja jika memang hal lebih parah terjadi. Tapi untungnya hingga tulisan ini diterbitkan, saya masih bisa meng-handle-nya.

Apakah ini akan menjadi 'the new normal'? Mungkin ya. Ini akan membentuk kebiasaan-kebiasaan baru. Tapi tidak akan (atau belum?) menjadi hal yang ideal untuk kehidupan manusia yang sedianya terus bergerak. 

Nggak banyak yang bisa dilakukan menghadapi pandemi ini. Kita cuma bisa menjalani ini: Menjaga kesehatan diri sendiri, terus berinovasi menyesuaikan diri, berdoa mengharapkan kondisi ini segera berakhir, dan memaklumi segala hal yang tentunya sudah sangat berbeda kondisinya dari sebelum saat pandemi ini terjadi.

Comments

  1. Selalu bersabar adalah kunci menjalani situasi sekarang. Dan yakin aja pasti ada hikmah di balik setiap kejadian.

    Btw saya pun udah donlot app Halodoc, membantu banget dengan informasinya.

    ReplyDelete

Post a Comment

Thankyou for your feedback!

Popular Posts