Thursday, April 14, 2016

When Life Gives You A Lemon: Let's Make Honey-Lemon Shot, Darling!


... kasih aja madu dan bikin honey-lemon shot ...
Tidak ada kehidupan yang mulus-mulus saja. Itu pasti. Kalau hidup mulus-mulus saja, mungkin kita sudah pensiun menjadi manusia. Terkadang memang rasanya cobaan datang bertubi-tubi dan yang menghentikan hujan badai itu bagaikan jauh dari jangkauan tangan.

Mungkin di antara kita ada yang pernah mengalaminya: tiba-tiba diminta menjadi 'dewasa', memanggul tanggung jawab sebagai orang 'dewasa'. Tiba-tiba saja, kehilangan teman. Ada yang merampok sebagian dari harapan dan masa depan, diam-diam mematahkan tulangmu tanpa kamu sadari. Mereka jadi alasan keterpurukan (dan juga jadi pelajaran tentang merelakan). Orang tua jatuh sakit, meninggal ... Hidupmu hampa dan lelah. Semua yang kamu tahu adalah: kamu sendirian. Eh, masih ada yang bilang "Dasar baper-an!". Ah, baru ini mungkin saya tahu orang yang sedih ditinggal meninggal ayahnya dan kehilangan kepercayaan dirinya dibilang "baper" :)


Hari itu adalah hari ke-delapan selepas Papa pergi ke surga. Saya harus kembali seperti biasanya: e-mail menumpuk di e-mail kantor, masuk ke pekerjaan baru meski tetap di kantor lama, deadline pekerjaan pribadi terbengkalai sekian lama. Sejujurnya, tidak mudah harus langsung bergerak maju dan sigap sementara hati rasanya masih remuk sepeninggal Papa. Saya pikir, hidup toh harus tetap berjalan. Ada Mama yang harus saya jaga (anyway, Mama saya juga sakit stroke, jadi perhatian tercurah sepenuhnya kepada Mama sekarang). Pelan-pelan, saya mulai menata aneka printilan yang musti diselesaikan dan dikerjakan.

Sibuk dengan aneka hal, membuat saya tak punya waktu untuk berbasa-basi. Yang saya tahu, 24 jam kadang tak cukup untuk berpindah dari 3 tempat hanya sekedar menyelesaikan meeting bersama orang yang membutuhkan jasa saya. Belum lagi, setelah meeting ada yang harus dikerjakan di rumah. Nyapu, ngepel, ngosek kamar mandi ... harus tetap dikerjakan setiap pagi. Tapi, toh manusia lain punya mulut, tembok toh punya kuping. Manusia bebas berpendapat, pun saya juga bebas 'kan berpendapat tentang orang lain? :D

Selama hampir setahunan kemarin, saya merasa menenggak lemon yang sangat kecut rasanya. Di luar kuasa saya saat akhirnya Tuhan lebih sayang Papa. Sepaket dengan itu, kejadian-kejadian lain meremas hati saya hingga tak ada ampas tersisa. Tapi saya lega, dengan keputusan meminta satu-dua orang untuk pergi dari sisi saya jika tak bisa membantu dan justru membuat keruh :) Yes, terkadang kamu perlu mengedepankan egoisme, meminta orang lain untuk berhenti melakukan hal yang menghancurkan hatimu. Akhirnya pun, mereka yang benar-benar menyayangimu akan datang dan peduli. Seleksi alam, yang didatangkan Tuhan tepat pada waktunya. Meski sesederhana ajakan, "Wind, yuk makan, tak jemput ya!"
Baca juga : Bagaimana Jika Seseorang Pergi Dari Kehidupan Kita?Berkah Terindah Adalah Seratus Juta Hari Untuk BahagiaMengapa Kebanyakan Manusia Memilih Jadi Makhluk Yang Minder?

Buat saya, move-on adalah hal yang bisa dengan mudah saya lakukan. Saat cintamu ditolak seseorang, saat seseorang memilih mencampakkanmu dan mengejar hal yang semu, saat mereka menyiramkan lemon secangkir penuh ke atas lukamu yang sedang menganga ... pastikan kamu selalu punya madu. Pastikan kamu punya tujuan hidup, punya kesibukan bermanfaat, punya inner circle pergaulan dan keluarga yang baik yang akan membangunmu dan mendukungmu menjadi lebih baik ... dan punya prinsip dalam diri sendiri.

Well, di agama saya selalu diajari pelajaran Cinta Kasih. "Seperti kami pun mengampuni, yang bersalah kepada kami ... ". Tapi pun ada kalanya kita memaafkan, tetapi untuk memberi kesempatan kedua ... itu pilihan 'bukan? (baca tulisan saya di Vemale.com tentang Memaafkan Adalah Wajib, Tetapi Memberikan Kesempatan Kedua Adalah Pilihan)

Lemon boleh pernah membuatmu perih, tapi tanpanya, madu-mu tentu tak terasa segar dan menambah nilai manfaat 'kan?

When life gives you a lemon, mix it with honey and make your honey-lemon shot, Darling!

12 comments:

  1. suka dengan ini: memaafkan adalah wajib. Tapi memberi kesempatan kedua adalah pilihan.
    yes. Absolutely agree.
    (dulu, bahkan mungkin sampai sekarang, aku termasuk orang yang nggak suka disuruh jadi orang dewasa. Aku lebih nyaman dengan dunia suka-suka-gue seperti sekarang).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe emang sih mak, kadang pengalaman hidup bikin kita belajar bahwa egois terkadang perlu :)

      Delete
  2. kehilangan itu ya kehilangan ya mbak. ga peduli kayak apa orangnya, kuat atau tidak sama saja.

    saya baru bisa berhenti bengong sekitar 2 minggu setelah bapak meninggal. juga sekitar 2 mingguan pas habis keguguran.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah iya Mak, kehilangan itu pasti ... semua orang akan mengalaminya ya :)

      Delete
  3. Jangan habiskan waktumu untuk kerjaan ya. Mama pasti merasa kehilangan juga spt dirimu. I hope you two can comfort each other. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huhuhuhu iya Mak Lusiii, thanks for reminding me *peluk

      Delete
  4. when life gives you lemon, sik sik aku tak tuku baileys ae.
    eniting, setiap keputusan mau yang terbaik, stay atau enggak peduli, semua ada di tangan kita masing2. selamat menjadi winda yang windo sepenuhnya.

    ReplyDelete
  5. Winceeee, aku pengen banget ketemu terus cerita-ceritaaaa. Main ke Jogja dooongggggg :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mami Ubiii, huhuhu pas aku ke Jogja dikau di Jakarta. Aku pengen maen ke sanaaaa~ Pengen uyel2 duo-mu :')

      Delete
  6. waktu keguguran saya butuh nyaris setahun untuk merasa semua baik2 saja. Ternyata menerima kehilangannya masih lebih mudah daripada perasaan bersalahnya. Oya, saya suka kok lemon di pagi hari tanpa madu. Maklum *bulirjeruk*

    ReplyDelete

"The Words is Mightier Than The Swords" - Edward Lynn-Button
Tinggalkan jejak yang baik, no spamming, junk, dan tinggalkan nama ;)