Belajar Disiplin dengan Rekam Jejak Pengeluaran

Image: pexels.com/Karolina Grabowska

Saya masih ingat, waktu kuliah dulu, sekitar 10 tahun yang lalu, uang jajan saya buat sebulan itu sekitar Rp 250 ribuan. Setiap tanggal 1 per bulannya, dikasih almarhum Papa langsung sejumlah itu buat pegangan selama sebulan. Untungnya, saya nggak ngekost. Jadi uang segitu bisa cukup buat keperluan kuliah kayak fotokopi dan sebagainya, sama buat uang jajan sehari-hari. Itu masih belum termasuk uang transportasi, karena dulu saya naik angkot kalau ke kampus dan masih mengandalkan diantar-jemput almarhum Papa.


Apakah uang segitu cukup? Relatif. Tapi sebagian besar waktu memang cukup. Untungnya (lagi) waktu itu dapat beasiswa selama 3 tahun berturut-turut jadi bayar semesterannya sangat terbantu uang beasiswa plus kalau ada sisanya buat beli buku. 


Yang namanya relatif, berarti ada waktu-waktu di mana jatah bulanan segitu nggak cukup hahaha ~ Dulu itu terasa nggak cukup kalau ada bulan-bulan di mana harus dari pagi sampai malam berkegiatan organisasi yang cukup padat. Otomatis harus makan siang dan malam di luar. Menyiasatinya sih memang bawa bekal, tapi cuma untuk sekali makan aja. Yang berikutnya ya jajan di luar lah. Jajan yang kadang saya sendiri bingung, kok udah abis aja duitnya padahal masih laper hahaha …


Pas kondisi tiris begitu, nggak enak banget kalau minta lagi ke orangtua. Apalagi kalau harus ngerogoh uang beasiswa karena ‘kan memang dipersiapkannya bukan untuk keperluan jajan. Sempat kerja freelance di startup, tapi cuma 10 bulan dan begitu sudah resign, kembali cuma punya uang jajan dari orangtua jatah bulanan itu.


Dari situlah, saya belajar buat membuat catatan pengeluaran. Dan bener aja lho, begitu punya catatan pengeluaran, rasanya ‘dosa-dosa’ kita itu ikutan dicatat! Hahaha. 


Akhirnya, sampai sekarang saya membawa kebiasaan mencatat setiap pengeluaran itu dan ternyata sangat membantu buat belajar mengelola keuangan bagi yang amatiran kayak saya gini.


Jadi, gimana sih caranya bikin catatan pengeluaran? Ini pengalaman yang sudah pernah saya lakukan, yang mungkin bisa jadi inspirasi:


1. Catat manual pakai buku


Image taken by Pexels.com/Jessica Lewis

Pertama kali belajar mencatat pengeluaran, tentu saja cara termudahnya adalah pakai buku. Sayang banget saya udah buang bukunya itu. Waktu itu nulisnya sederhana banget, di buku tulis yang saya buat dari beberapa lembar HVS dan dijilid. Gitu aja sudah, gampang. 


Tiap bulannya, saya bikin kolom-kolom, yaitu:

  • Nomor

  • Tanggal

  • Item

  • Debet

  • Kredit


Meskipun sederhana gitu, saya mengalami kesulitan buat mencatat semua pengeluaran harian karena: 1) Belum terbiasa, 2) Bukunya suka ketinggalan dan akhirnya pas sampai di rumah, sudah lupa seharian pengeluarannya apa saja.


Kayaknya saya pakai metode ini cuma beberapa bulan deh, sebelum akhirnya aku menyerah karena ke-tidak konsisten-an itu bikin sebel sendiri. Apalagi kalau liat orang-orang pada bisa disiplin mencatat pengeluaran hariannya sampai bukunya terisi penuh, semakin dengkilah aku! Hahaha ~


Baca Juga: Cerita Akhirnya Beli SBR untuk Pertama Kalinya


2. Pakai Google Sheet


Image: vertex42.com


Karena ternyata saya nggak cukup telaten ngisi secara manual di buku, akhirnya beralih ke Google Sheet. Pas banget waktu itu saya udah punya smartphone dan ini terasa lebih handy karena bisa diakses di mana saja. 


Isian kolom-kolomnya juga hampir sama dengan kolom-kolom yang saya buat di buku manual dulu. Cuma, karena udah makin banyak baca, saya jadi terinspirasi bikin satu sheet untuk perencanaan pos-pos pengeluaran tiap bulannya. Ini ngebantu banget biar tahu setiap bulannya pengeluaran yang pasti itu apa saja dan jumlahnya berapa. 


Walau sekarang sudah nggak pakai Google Sheet untuk tracking pengeluaran harian, tapi saya masih tetap pakai Google Sheet untuk mencatat pos-pos pengeluaran dan menghitung hal-hal terkait keuangan di luar itu. Siapa coba yang bisa meragukan betapa dahsyatnya formula-formula Excel untuk bantu ngitung secara cepat? :))


Baca Juga: Menghadapi Ketidakpastian dan Menghadapi Masa Krisis


3. Aplikasi Monefy


Image: play.google.com

Begitu eranya Android makin berkembang, makin banyak juga aplikasi-aplikasi yang bisa membantu mempermudah hidup kita. Termasuk urusan mencatat keuangan. 


Ada beberapa aplikasi pencatatan keuangan yang saya coba. MoneyManager yang pertama kali saya coba dan yang ini cukup detil. Tapi saya pribadi merasa kurang suka ya sama interface-nya yang kesannya kaku. Ini preferensi pribadi aja sih, soalnya lihat garis-garis dan kolom-kolom gitu jadi inget ribetnya nyatet pengeluaran zaman pakai Google Sheet dulu.


Akhirnya, saya menemukan yang lebih gampang dan lebih enak tampilannya, yaitu Monefy. Di Monefy ini kita bisa set sendiri kategorinya dan juga bisa dipisahkan berdasarkan asal sumber pengeluaran kita (misalnya: cash, debit card 1, debit card 2, credit card, dsb). Trus ikon-nya lucu-lucu pula, gemes (halah~).


Monefy ini bisa diakses tanpa berbayar. Saya tiga tahun pakai versi gratisannya ini sampai pada akhirnya … jreng ~ saya ganti handphone beberapa minggu lalu dan baru sadar pas install ulang Monefy ternyata semua catatan pengeluaran itu lenyap tak berbekas. Sedih ~ Tapi gak bisa protes, mengingat kalimat legendaris warga Malang dan sekitarnya, yang berbunyi, “Gratis kok njaluk slamet!” 


Belajar dari situ, akhirnya saya beli versi Pro-nya Monefy yang bisa backup data dan beberapa fitur yang bisa diakses full. Ternyata beli aplikasi versi pro-nya cuma Rp 33.000 (plus tax jadi sekitar Rp 36.000) dan itu unlimited use seumur hidup. Udahlah, tenang, mau ganti handphone jutaan kali juga data-datanya masih tetap tersimpan dan bisa diakses lagi.


And there you go ~ Setelah punya aplikasi Monefy ini, jadi berasa lebih disiplin. Di akhir bulan biasanya saya catetin lagi deh pengeluaran per bulannya sekaligus melihat paling banyak pengeluarannya di kategori apa. 


Semoga pengalaman saya ini bisa membantu teman-teman yang baca ini buat lebih disiplin mengelola keuangan ya!







Comments

Popular Posts