Monday, May 9, 2016

Terpukau Silampukau: Membungkus Dosa dan Kenangan Kota Surabaya


Silampukau


"Duh Gusti, aku kesasar di jalur indie, terima sablon kaos dan kadang gantungan kunci ..."

Pertemuan pertama saya dengan Silampukau terjadi di ... update Path seorang teman yang sedang 'listening to Puan Kelana - Silampukau'. Saya pikir, judulnya Balai Pustaka banget. Iya, zaman sekarang, sudah jarang musisi yang memakai ragam kata seperti 'Puan' 'kan?

Penjelajahan membawa saya pada sebuah video di Youtube. Yaitu video ini:



Selintas mendengarkan, saya mungkin cukup terdistraksi dengan kesibukan. Hingga suatu sore yang kurang hiburan, saya melihat e-flyer bahwa Silampukau akan ngegigs di Malang, di warung Komika.

Jam 7 malam, saya bersama seorang teman datang ke Warung Komika. Ekspektasi saya, Silampukau akan manggung di sebuah cafe yang cukup nyaman ditonton dengan menyeruput kopi. Nyatanya, ketika datang ke sana, hanya tikar-tikar terhampar sederhana di pelataran sebuah rumah yang dulunya bekas sebuah sekolah D3. Menyapa rekan-rekan yang datang, saya pun mengambil posisi duduk di baris terdepan.

Apa yang saya harapkan tentang gigs yang merupakan bagian dari tour Dosa, Kota, Kenangan itu ... di luar harapan. Silampukau benar-benar berhasil memukau saya di penampilan mereka yang sangat sederhana. Tampil dalam format akustik, dua anggota Silampukau yaitu Kharis dan Eki (serta seorang bassist yang sepertinya adalah additional player), berhasil membuat saya nganga pada detik-detik awal setelah mereka memeluk mesra gitarnya. "Gitarnya itu ... kaya gitar langka ya?" bisik teman saya. Oh, Mas Kharis, kamu telah membuat saya jatuh cinta pada pandangan pertama lewat gitarmu yang unik itu :p




Malam itu pun, melodi demi melodi melekat di telinga saya. Apalagi dengan penampilan mas Aji Prasetyo dan Ista bersama duo asal Surabaya ini, membuat saya melongo karena .. lirik-liriknya, aduh, nyelekit nuemen rek!

Setahu saya, Surabaya adalah induk yang paling produktif menelurkan band-band rock pada masanya. Tetapi untuk musik di luar itu, saya cuma tahu VOX. Eh, ternyata ada juga lho, duo yang berani-beraninya mengambil bagian dari tubuh kota Surabaya, meremas-remas cerita-cerita di sudut-sudut kotanya kemudian mengemasnya lagi dan melemparkannya dalam balutan lagu-lagu folk santai ... Bisa nggak ya saya bilang Eki dan Kharis ini seperti Simon & Garfunkel-nya Indonesia? Entahlah, saya cuma pendengar awam. Tanpa perlu berebut meminta porsi yang besar, keduanya punya bagian-bagian sendiri yang mampu menonjolkan karakternya. Manis!

Baca juga:
After Lunch Music: Melawan Gravitasi Bersama L'alphalpha
Atlesta: 'SENSATION', Masih Seksi, Tapi Lebih Elegan
[After Lunch Music] Predator Anak, Hukum Sampai Mati! (Tentang Single Terbaru RAKSASA, Monster)

Silampukau tidak cuma bernyanyi, tetapi mendongengi kita tentang panas dan lengketnya hidup di Surabaya. Seperti dalam lagu "Doa 1", cerita soal ambisi anak-anak muda yang 'mbuh-pokoke-aku-pengen-jadi-artis-tapi-ojo-koyo-Ahmad-Dhani'. Lhaaaa ... Pada track 'Si Pelanggan', cuma ada satu hal yang langsung nyantol di ingatan yaitu, "Dolly, suaka bagi hati yang terluka .. oleh cinta, oleh seluruh nelangsa, hidup yang celaka ...".Oalah, Mas, Mas ...





Di hari saya selesai mendengarkan Puan Kelana dan kelar menyimak penampilan Silampukau di Sound of The corner, hari itulah saya ikrarkan bahwa saya jatuh cinta pada Mas Kharis Junandharu. Hingga saya tak malu meminta teman saya untuk memotret dan memvideokan mas Kharis Junandharu di sebuah private gig sebuah acara camp creative. Lha ndilalah, saya kok malah dikasih foto kumisnya sendiri ii lho -_-



Ada 10 lagu dalam album kedua Silampukau ini. Paling tidak 3 lagu di antaranya akan membuatmu misuh-misuh, "Jiaaan bener nuemen iki rek!" Saya bisikin ya, track favorit saya:

1. Lagu Rantau (Sambat Omah)
2. Puan Kelana
3. Doa 1

Saat mendengarkan lagu-lagu Silampukau, saya hanya membayangkan: pembicaraan di warung kopi antara penikmat kopi tubruk tiga ribu rupiah. Berharap dalam membilas hidup yang getir, tapi bukannya kita tidak tahu caranya bersenang-senang bukan? ;)

3 comments:

  1. baru tahu tentang silampukau dari tulisan mbak winda

    ReplyDelete
  2. Silampukau memang memukau. Perkenalan saya dengan Silampukau juga dimulai dari Puan Kelana dan berlanjut ke lagu-lagu lainnya.

    Semoga suatu saat saya punya kesempatan melihat silampukau manggung live. Ohya, ini catatan tentang Silampukau di blog lawas saya. Siapa tau berkenan membaca :)

    https://ranselhitam.wordpress.com/2015/08/06/terpukau-pada-silampukau/

    ReplyDelete
  3. Indie malang, aku taunya my beautiful life, begundal lowokwaru, sama brigade 07.. eh mereka termasuk indie gak sih? *malah nanya*

    Pantesan mbak winda demen nongkrong di houten hand.. ternyata penikmat musik indie.. :D

    ReplyDelete

"The Words is Mightier Than The Swords" - Edward Lynn-Button
Tinggalkan jejak yang baik, no spamming, junk, dan tinggalkan nama ;)